Saat ini banyak orang yang mengaku muslim tapi enggan mengikuti jejak Muhammad Rasulullah Saw. Banyak juga yang mengaku sebagai kristiani tapi enggan mengikuti jejak Yesus Isa Almasih. Mungkin mereka ini masih menyangka bahwa Muhammad Rasulullah itu orang Arab, atau Yesus orang Yahudi. Padahal baik Muhammad maupun Yesus sudah berhasil membebaskan diri dari asal usul primordialnya.
Kita tidak pernah memilih ibu biologis kita. Juga ayah biologis kita. Namun begitu ibu kita mengajari kita berbicara dalam bahasanya, kita tidak pernah bernegosiasi untuk bersepakat bahwa buku itu disebut buku, bukan book. Bahwa meja itu tidak disebut table. Kita menerima Ibu sebagai sebuah super being. Namun jika beberapa tahun kemudian selama bertahun-tahun kita mengatakan bahwa Tuhan kita bukan orang Arab sehingga kita tidak perlu berdoa dengan bahasa Arab, maka ini hampir pasti tidak pernah diajarkan oleh ibu kita. Tapi oleh sekolah kita sebagai proyek sekukerisasi besar-besaran selama paling tidak 50 tahun terakhir.
Mungkin karena sikap islamophobia sebagai wujud semangat anti-globalisasi, sekarang banyak narasi lokalisasi yang berkembang yang membenturkan Islam dengan Pancasila, seolah gagasan Pancasila itu lepas dari pengaruh Islam. Seperti komunisme yang kini makin tampil sebagai anti tesis kapitalisme tidak mungkin lepas dari Islam -Islam sebagai kompleks gagasan mendahului kapitalisme dan komunisme paling tidak seribu tahun-, maka kita bisa keliru jika menyangka bahwa Nabi Sunda Wiwitan dan Jawa Kapitayan mendahului Nuh apalagi Adam. Lagi pula siapapun ibu kita apakah Jawa, Sunda, atau Arab, itu bukan prestasi siapapun, dan tidak boleh menjadi kutukan yang kita ratapi ataupun warisan yang terlalu dibanggakan.
Prestasi kita adalah apa yang kita pilih dengan penuh tanggungjawab untuk kita kerjakan dalam hidup. Bagian mereka yang telah mereka usahakan, bagian kita yang kita kerjakan. Yang kita rayakan hari ini adalah apa yang diajarkan oleh ibu kita. Pada saat di banyak negeri sedang dilanda gejala fatherlessness, patut kita ingat bahwa ibu adalah sekolah utama dan pertama kita.
Rosyid College of Arts,
Gunung Anyar, 22/12/2021

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi