Oleh: Saiful Hadjar (Penulis dan Penyair, Surabaya)
KEMPALAN: Hidup di tengah-tengah bunyi kaleng-kaleng kosong dalam dinamika politik kita, saya memilih menulis Puisi Satu Kalimat (PSK), tergolong jenis puisi pendek atau epigram berbentuk satu kalimat, sebuah bangunan kalimat, bertingkat atau tidak sebagai pilihan ekspresi seorang penyair telah lelah membaca bunyian kaleng-kaleng kosong tersebut.
Menulis PSK, tidak lain kepiawaian penyair bermain akrobat kosa kata dengan didorong intuisi yang muncul dari intensitas latihan memainkan kata-kata, sebuah dorongan bisikan hati mengejawantahkan pengalaman berfikir, merenung dan melihat gejala dari peristiwa kehidupan sedang terusik di era zamannya. Sedang para sastrawan pendahulu kita yang pernah menulis puisi pendek di antaranya: Ramadhan KH, Sitor Situmorang, Mustofa Bisri, Sanusi Pane dan seterusnya, turut menyertai karya-karya sastra yang lain.
Maka dari itu kutulis sastra PSK sejenis epigram hanya terikat dengan bentuk satu kalimat, juga terdorong oleh kekuatan intuisi setelah mendapat pengalaman melihat, membaca, merenung, berfikir dan terlibat langsung terhadap kejadian-kejadian yang menggangu dan meresahkan keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, dikarenakan dari bunyi kaleng-kaleng kosong mendominasi perpolitikan punya akses ke pejabat elite penentu membuat kebijakan dan pelaksanaan mengelola negara – bermental makelar jauh dari kebutuhan dan keinginan rakyat kecil. Bertolak dari pemikiran tersebut, menulis PSK tidak untuk bersaing keras-kerasan bunyi dengan kaleng-kaleng kosong tersebut. Lebih tepatnya menulis PSK tidak lain membangun kesadaran diri di tengah persolaan kehidupan sedang terjadi menjadi sumber berita yang melelahkan, dihadapi dengan menulis puisi satu kalimat:
Next: PENYAIR

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi