SURABAYA-KEMPALAN: Meski gelaran Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX baru akan ditabuh pada 2027, mesin persiapan Jawa Timur sudah mulai dipanaskan. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim bersama KONI Surabaya dan Disporapar Surabaya melakukan inspeksi mendalam terhadap deretan arena pertandingan guna menjamin standar emas pada pesta olahraga terbesar di provinsi ini.
Tahap awal verifikasi difokuskan pada pusat kekuatan olahraga Jatim di kawasan Kertajaya. Tim gabungan menyisir satu per satu aset strategis milik Pemerintah Provinsi, mulai dari Dojo Karate, Dojo Judo, GOR Tenis Meja, GOR Bulutangkis Sudirman, Lapangan Jatim Seger, Kolam Renang Dispora Jatim, hingga ikon olahraga Surabaya, GOR Kertajaya.
Ketelitian pada Detail Kecil

Anggota tim peninjau KONI Jatim, Jeffry Tagore, menegaskan bahwa Surabaya tidak boleh sekadar menjadi tuan rumah, melainkan harus menetapkan standar baru. Meski secara struktural venue di Kertajaya masih kokoh, Jeffry memberikan catatan kritis pada detail-detail teknis yang sering luput dari perhatian.
“Venue di sini rata-rata memiliki fondasi yang kuat, namun ‘nyawa’ pertandingan ada pada detail kecil. Kami menemukan beberapa titik lantai yang pecah dan fasilitas sanitasi yang belum memenuhi standar layak. Hal-hal seperti ini bisa mengganggu psikologis atlet dan jalannya laga profesional,” tegas Jeffry saat ditemui di sela-sela peninjauan, Kamis (7/5).
Ia menekankan pentingnya respons cepat dari pemilik aset. “Kita mencuri start lebih awal agar tidak ada istilah last-minute repair. Surabaya adalah kota besar dengan reputasi olahraga yang kuat, persiapannya harus mencerminkan kelas tersebut,” tambahnya.
Skema Tiga Klaster: Menuju 2026 yang Paripurna

Sekretaris KONI Surabaya, Randika Asiani, membeberkan strategi besar Surabaya dalam menyambut Porprov IX. Pihaknya telah memetakan venue ke dalam tiga klaster strategis: aset Pemerintah Kota, aset Pemerintah Provinsi, dan kemitraan eksklusif dengan institusi pendidikan seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Hang Tuah, dan Universitas Ciputra.
“Sinergi dengan pihak ketiga adalah kunci agar distribusi venue merata dan berstandar akademik serta profesional. Untuk klaster Kertajaya, secara keseluruhan sudah di angka 80-90 persen, tinggal polesan akhir,” ungkap Randika.
Target yang dipatok pun tidak main-main. Mengikuti instruksi Wali Kota Surabaya, seluruh renovasi dan standarisasi venue ditargetkan tuntas total pada akhir 2026.
“Tahun 2026 adalah deadline fisik. Dengan begitu, memasuki Januari 2027, fokus kami sudah murni pada pembinaan atlet dan manajemen penyelenggaraan. Kami ingin sukses secara prestasi, sekaligus sukses secara infrastruktur,” pungkasnya.
Langkah preventif dan inspeksi dini ini menandai komitmen kuat Jawa Timur untuk terus menjadi barometer pembinaan olahraga nasional melalui penyelenggaraan kompetisi yang profesional dan berkelas dunia.
(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi