Ibu

waktu baca 4 menit
Foto seorang ibu bersama dua anaknya. (Hobi Industri-Unsplash)

Daniel Mohammad Rosyid

KEMPALAN: Pada saat banyak orang bersiap merayakan kelahiran Yesus putra Maryam beberapa hari lagi, hari ini kita merayakan Hari Ibu. Sosok Ibu ini membawa banyak pesan jika bukan kontroversi beberapa hari terakhir ini. Hal ini dimulai saat seorang tokoh tentara -yang namanya sebagian mengambil nama Arab- mengatakan bahwa dia berdoa dalam bahasa ibunya, karena Tuhannya bukan orang Arab. Lalu seorang tokoh Jakarta keturunan Arab mengatakan bahwa jika pengaruh Arab tidak pernah datang ke Nusantara, mungkin nenek moyang tokoh tentara itu masih menyembah pohon.

Lalu seorang profesor dari sebuah perguruan tinggi di Kaltim menanggapi bahwa ucapan tokoh Jakarta itu tidak hanya menyinggung tokoh tentara tersebut tapi juga menyinggung bangsa Indonesia, termasuk dirinya yang muslim. Menurut sang Profesor ini, bangsa Nusantara sudah mengenal cara berTuhan yang lebih canggih daripada cara orang Arab bertuhan.

Mungkin karena keseleo lidah jika tokoh tentara itu mengatakan secara tidak langsung bahwa Tuhan itu orang. Ini bisa sangat dipahami bahwa nasionalisme yang ditanamkan pada setiap tentara mendahului semua narasi tentang internasionalisme yang dibawa Islam. Misalnya saja calon mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Pertahanan tidak boleh berjilbab. Tentu doktrin tentara yang kini berlaku di kampus tentara itu telah membawa konsepsi yang menyamakan Islam dengan Arab.

Pada saat sekian tahun terakhir ini budaya-budaya lokal dihidupkan kembali, lalu Islam diposisikan sebagai paham transnasional yang membawa radikalisme, patut diingat bahwa tanpa Islam, banyak suku-suku di Indonesia akan kesulitan menerima konsep bangsa Indonesia sebagai sebuah narasi yang melampaui sukuisme. Saat Soekarno menulis Indonesia Menggugat di depan pengadilan Hindia-Belanda di Bandung, Soekarno menyadari bahwa Islam adalah Ibu dari bangsa Indonesia yang telah memungkinkan identitas sebuah bangsa baru melampaui tribalisme.

Sementara itu Muhammad Rasulullah sendiri bukan orang Arab asli. Muhammad bin Abdullah adalah blasteran, musta’ribah, yaitu orang yang diarabkan. Nenek moyangnya Ismail bukan orang Arab, tapi orang dari lembah Mesopotamia yang mengawini perempuan Arab asli dari suku Jurhum. Perawakan Muhammad berbeda dengan orang Arab asli. Semua Nabi memiliki asal-usul yang sama karena membawa ajaran yang sama dalam bahasa yang serumpun. Studi asal usul bahasa menunjukkan bahwa semua bahasa bisa dikelompokkan menjadi beberapa rumpun bahasa. Semua rumpun bahasa itu berasal dari Adam sebagai manusia berbahasa yang pertama.

Secara biologis, boleh dikatakan bahwa manusia modern dilahirkan oleh perkawinan silang antar berbagai suku bangsa. Asal usul kita bukan pilihan kita. Bahkan bukan pilihan ibu dan bapak kita. Mengatakan kita lebih unggul dari orang lain semata-mata karena faktor asal usul kita bukan sikap yang terpuji. Ini berbeda dengan memilih keyakinan yang kita yakini sebagai cara terbaik untuk mengekspresikan diri kita sebagai mahkluk yang berTuhan. Keyakinan atau agama itu mestinya pilihan bebas, tidak dipaksakan. Sayang sekali jika seseorang mengatakan memeluk agama tertentu tapi tidak ikhlas menerimanya sebagai cara terbaik untuk hidup bersama dalam lingkungan yang majemuk.

Saat ini banyak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *