Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 15:46 WIB
Surabaya
--°C

Percuma Lapor Polisi

Ada juga kasus yang lucu dan cenderung konyol. Praktik pungli di jalanan yang dilakukan polisi lalu lintas menjadi kejadian yang sering dialami masyarakat. Kali ini bukan pungli uang yang dilakukan oleh polisi, tapi pungli sekarung bawang putih. Polisi meminta sopir yang melanggar aturan lalu lintas dengan sekarung bawang putih sebagai pengganti uang. Pada kejadian lainnya polisi meminta ganti pungli dengan beberapa butir duren dari sopir yang melanggar aturan lalu lintas.

Kejadian ini makin menegaskan kecurigaan masyarakat mengenai pungli di jalan yang masih marak. Polisi dicurigai masih sering melakukan tawar menawar dengan pelanggar lalu lintas. Angka pungli bisa ratusan ribu. Angka itu bisa turun menjadi puluhan ribu saja bergantung tawar menawar seperti lelang. Kalau tidak ada uang boleh barter dengan sekarung bawang atau beberapa butir duren.

Akhlak yang tidak terpuji bisa merantak kemana-mana. Seorang kapolsek menggauli seorang perempuan yang bapaknya menjadi tersangka, dengan iming-iming tersangka akan dibebaskan dari tahanan polisi.

Beberapa orang anggota polisi menggauli seorang perempuan yang suaminya tengah ditahan karena kasus narkoba. Perempuan itu dirayu dan diberi janji suaminya akan dibebaskan dengan imbalan layanan seks. Ternyata janji itu tidak terbukti.

Kinerja polisi juga menjadi sorotan Presiden Jokowi. Kali ini soal polisi yang menghapus mural bergambar orang mirip Jokowi yang terjadi di beberapa daerah. Menurut Jokowi, polisi lebay dengan tindakan itu. Bagi Jokowi kritik melalui mural itu adalah hal kecil, karena Jokowi mengaku sudah terbiasa dikritik dan bahkan dicaci maki.

Operasi hapus mural itu terjadi berkali-kali di berbagai tempat dengan cara yang kurang lebih sama. Muncul mural dengan sosok mirip dengan Jokowi yang kemudian diunggah di media sosial. Tak perlu menunggu lama, dalam waktu singkat mural itu pun dihapus atau ditutup dengan cat warna hitam. Alasannya bermacam-macam, misalnya mural itu tidak berizin atau mengganggu estetika di ruang publik.

Jokowi mengatakan tidak yakin bahwa penghapusan itu adalah perintah kapolri. Jokowi juga tidak yakin operasi itu merupakan perintah kapolda atau kapolres. Jokowi pun mengatakan bahwa kapolsek yang harus menertibkan anggotanya yang melakukan operasi penghapusan itu.

Di kalangan mahasiswa dan aktivis demokrasi di masa Orde Baru beredar joke politik soal ‘’hirarki ketakutan’’. Dikisahkan bahwa mahasiswa takut kepada rektor, lalu rektor takut kepada menteri, kemudian menteri takut kepada presiden, selanjutnya presiden takut kepada istrinya. Joke masih dilanjutkan lagi, istri presiden takut kepada kecoak.

Di negeri otoriter Orde Baru hirarki ketakutan itu berlangsung secara otomatis, menjadi mekanisme yang berjalan sebagai prosedur tetap. Tidak perlu ada perintah tertulis atau lisan, mekanisme itu berjalan dengan sendirinya setiap saat. Pengawasan melekat yang dilakukan oleh rezim otoriter benar-benar efektif, sehingga hirarki ketakutan berjalan sebagai sesuatu yang normal.

Di negeri antah berantah Neo-Orde Baru terjadi hal yang mirip. Hirarki ketakutan berjalan normal di semua instansi, mulai dari departemen, kepolisian, sampai ke kampus. Mahasiswa takut kepada rektor, lalu rektor takut kepada menteri, selanjutnya menteri takut kepada presiden, kemudian presiden mungkin takut kepada istri.

Tapi di negeri antah berantah Neo-Orba, kelihatannya, presiden tidak takut kepada mahasiswa. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.