Bunuh diri sudah menjadi kajian sosiologis sejak lama. Sosiolog Emile Durkheim pada 1897 menulis buku “Suicide” yang sampai sekarang menjadi referensi utama untuk kajian bunuh diri. Durkheim melihat bunuh diri dipicu oleh penyebab psikologis, biologis, dan fisika kosmis yang terkadang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.
Durkheim membagi jenis bunuh diri menjadi tiga. Pertama, bunuh diri egostik yang dipicu oleh keterlepasan individu dari ikatan sosial. Individu yang tidak terintegrasi dengan lingkungan sosial cenderung berpikir suicidal.
Kedua, bunuh diri altruistik yang terjadi akibat terlalu kuatnya individu dalam kohesivitas sosial dengan kelompoknya. Biasanya, bunuh diri altruistik terjadi di dalam lingkungan komunitas yang masih primitif. Bunuh diri berjamaah ini biasanya dipicu oleh keyakinan atau kepercayaan religius.
Beberapa sekte agama di Amerika Serikat dan Eropa melakukan bunuh diri massal di era modern ini. Pada 1976 People’s Temple di Amerika membawa seribu orang jamaahnya beremigrasi ke Guyana untuk bunuh diri massal. Pada 1990 David Koresh dan 90 orang pengikut sektenya melakukan bunuh diri massal dengan membakar diri bersama di dalam kuilnya.
Jenis bunuh diri ketiga disebut sebagai anomik, yang dipicu oleh perubahan sistem dalam masyarakat, baik sistem ekonomi, sosial, dan budaya, sehingga menyebabkan terganggunya sistem kolektif. Ketidakpastian akibat perubahan sistem akan berdampak pada psikologi individu.
Dalam konteks sosial budaya, fenomena bunuh diri bisa juga disebabkan oleh aspek budaya. Di Gunung Kidul ada kepercayaan pulung gantung, yaitu kepercayaan bahwa jika terjadi angin besar dan suara burung bersahut-sahutan itu pertanda ada yang bunuh diri.
Pandangan atau kepercayaan semacam itu lantas bisa men-sugesti orang-orang yang sedang memiliki masalah. Saat melihat tanda-tanda seperti itu, mereka berpikir sudah waktunya dia dipanggil, sehingga kemudian dia melakukan bunuh diri.
Era digital sekarang ini memunculkan problem sosial yang baru yang tidak pernah dialami sebelumnya. Hal ini juga memicu munculnya motif bunuh diri yang berbeda. Di masyarakat tradisional bunuh diri pasti dilakukan secara tersembunyi.
Di era digital bunuh diri dilakukan dengan terbuka dan disiarkan live melalui akun medsos pelaku bunuh diri. Di era digital manusia mengalami anomali psikologis yang mudah menimbulkan depresi. Di satu sisi manusia digital terkoneksi dengan siapa saja di seluruh dunia, tetapi, di sisi lain manusia digital justru teraleniasi dari lingkungan keluarga terdekatnya.
Kemajuan teknologi digital memunculkan pola baru semacam “digital suicide”. Orang lebih mudah memilih jalan bunuh diri, karena semuanya bisa dilihat, dipelajari, dan didapatkan dari media digital.
Kematian Novia Widyasari yang tragis dan dramatis menjadi saksi lahirnya fenomena baru itu. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi