Judul Buku: Social Media and the Automatic Production of Memory: Classification, Ranking and the Sorting of the Past
Penulis: Ben Jacobsen dan David Beer
Penerbit: Bristol University Press
Tebal: 128 halaman
Tanggal Terbit: 1 Mei 2021
Peresensi: Kumara Adji
KEMPALAN: Pada September tahun lalu, Netflix menghadirkan sebuah film bertajuk “The Social Dilemma.” Ia berkisah tentang sekelompok orang yang menjadi “otak” media sosial ternama. Diuraikan bagaimana media sosial telah mengambil alih institusi pengambilan keputusan penggunanya dengan mengkaji algoritma mereka. Mereka pun menjadi komoditas bisnis yang dengan mengkaji algoritma para pengguna media sosial, akan terprediksi apa yang menjadi tren masa depan.
Tahun ini, media sosial kembali tertampilkan karakter lainnya, melalui kajian oleh Ben Jacobsen dan David Beer dalam buku mereka “Social Media and the Automatic Production of Memory: Classification, Ranking and the Sorting of the Past.
Para pengguna media sosial Facebook, misalnya, akan selalu disuguhi berbagai memori mereka yang tertoreh di wall media sosial facebook mereka. Namun, siapa sangka, ini adalah sebuah langkah yang juga memberi efek tak terprediksi sebelumnya.
Ben Jacobsen dan David Beer mengeksplorasi bagaimana platform media sosial membentuk kembali proses pembuatan memori kita, dengan algoritma yang semakin menentukan apa yang mudah diingat bagi kita. Buku baru yang menarik ini menawarkan wawasan berharga tentang implikasi menempatkan produksi ingatan kita ke tangan sistem otomatis. ini menjadikan manusia tidak memiliki kuasa atas kuasa produksi memorinya.
Memori dalam konteks kemanusiaan bisa membawa manusia pada kebahagiaannya. Dengan mengenang masa lalu orang menjadi bahagia. Jika memori itu dikendalikan oleh media sosial, maka apakah kebahagiaan juga dikontrol oleh media sosial?
Pada tahun 1932, filsuf Jerman Walter Benjamin menghasilkan sebuah fragmen pendek tentang cara kerja memori. Karya Benjamin memandang kenangan sebagai semacam penggalian, penggalian aktif dari masa lalu yang telah terkubur di kedalaman pikiran kita. Dia menulis: ‘[Ingatan] adalah media dari apa yang dialami, sama seperti bumi adalah media di mana kota-kota kuno terkubur. Dia yang berusaha mendekati masa lalunya yang terkubur harus berperilaku seperti orang yang menggali.’
Benjamin memahami bahwa memori otentik bukanlah penyimpanan pasif dari peristiwa masa lalu yang dapat kita akses saat dan ketika kita memilih; itu harus digali secara aktif dari puing-puing kehidupan sehari-hari yang terus tumbuh.
Tetapi, jika mengalami memori otentik mengharuskan kita untuk secara aktif menyelami masa lalu, apa yang terjadi ketika kita menempatkan produksi ingatan kita di tangan sistem otomatis? Apa yang terjadi ketika perusahaan teknologi menggunakan algoritme untuk menentukan apa yang harus dan tidak boleh diingat bagi kita? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang coba dijawab oleh buku ini.
Buku ini dimulai dengan perbedaan penting. Klaim bahwa perusahaan media sosial seperti Facebook telah lama bergerak melampaui peran awal mereka sebagai platform komunikasi dan jaringan. Mereka sekarang menjadi perangkat memori ekstensif yang menangkap snapshot kehidupan pengguna dan mengedarkannya kembali ke pengguna, yang baru diberi label sebagai ‘memori’. Resirkulasi konten digital inilah yang menandai aspek penting dari apa yang disebut sebagai ‘produksi memori otomatis.’
Next: Mengikuti bab pengantar yang ringkas…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi