NAYPHITAW-KEMPALAN: Kegiatan belajar mengajar telah kembali di buka di November sejak 1 November silam, namun, ruang kelas masih banyak yang mengalami kekosongan karena pelajar dan guru yang ada menolak untuk datang.
Ketika Junta Myanmar mengumumkan pembukaan kembali sekolah pada 1 November silam, banyak pelajar dan guru yang ada menolak untuk datang sebagai salah satu upaya protes terhadap adanya kudeta di Myanmar pada awal Februari silam.
Mereka kemudian takut bahwa mereka juga akan menjadi subjek dari penyerangan oleh Junta Myanmar.
“Saya tidak datang ke sekolah karena terdapat ledakan besar disana. Tidak ada satupun dari teman saya yang juga mendatangi kelas” ucap Chika yang berumur 16 tahun ketika diwawancarai oleh salah satu jurnalis Aljazeera.
Ia kemudian juga mengatakan bahwa dalam keadaan normal, sekolahnya memiliki 600 pelajar, namun semenjak dibuka kembali oleh Junta Myanmar, hanya 20 pelajar saja yang datang dalam beberapa minggu terakhir.
Kemudian, Aljazeera juga mewawancarai Nay Zin Oo yang merupakan orang tua yang memiliki anak di SD dan SMP.
Ia menolak anaknya untuk datang ke sekolah dan melakukan pembelajaran dengan normal ketika Junta Myanmar masih menguasai negaranya.
“Sekolah yang ada pada saat ini dioperasikan oleh militer dan seorang revoluioner, saya menolak untuk mengirim anak saya ke sekolah” ucapnya.
“Apabila kami, sebagai orang tua kemudian mengirimkan anak kami untuk bersekolah secara normal, artinya adalah kami juga mendukung Junta Myanmar. Saya hanya perbolehkan mereka untuk datang ke sekolah ketika partai lainnya sudah menang” ucap tambahnya.
Ia kemudian memercayai bahwa tindakan boikot tersebut merupakan salah satu cara yang sangat kuat untuk memprotes tindakan Junta Myanmar.
(Aljazeera, Muhamad Nurilham)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi