
Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon
KEMPALAN: Kita lahir seorang diri dan nanti ketika ajal tiba, kita pun akan menghadap-Nya seorang diri. Demikianlah kita sering diingatkan oleh kata-kata bijak di atas, karena kita sering lupa dan terlalu direpotkan dengan mengurusi dan terus membicarakan apa yang orang lain lakukan. Maknanya bukan kita tidak boleh memberi masukan pada orang lain, tetapi tidak perlu juga semua orang dikomentari dan semua yang dilakukan orang seolah selalu salah.
Saking repotnya, sampai kita lupa, seolah apa yang dilakukan orang menjadi tanggung jawab kita. Tiada hari tanpa menjadi Komentator, tiada yang luput, dari anggota keluarga, tetangga, teman sekantor, jamaah satu masjid, sampai-sampai penjual sate yang lewat depan rumah pun ada saja yang dipermasalahkan.
Mengurusi apa yang dilakukan orang seharusnya berbeda dengan Perduli, yang terakhir ini tidak selalu memposisikan orang lain salah dan keliru. Mereka yang perduli biasanya terlebih dahulu bertanya tentang barangkali ada yang bisa dibantu, atau barangkali yang ditemuinya mendapat kesulitan. Memulai dengan santun dan penuh empati, dengan kata lain mencoba memahami apa yang jadi kendala dari yang bersangkutan.
Banyak orang yang senang dibantu, tetapi pasti lebih banyak lagi orang yang senang jika yang membantunya pun faham apa yang menjadi kesulitan mereka, terutama tentang hal-hal tehnis, tidak mesti terkait urusan keuangan atau pembiayaan. Alih-alih mendapat respon yang baik, terkadang sikap yang terlalu banyak memberi komen tanpa solusi ini ditengarai sebagai nyinyir atau rewel.
Dalam hadits riwayat An-Nasa’i, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda, “Seorang muslim itu adalah orang yang manusia lainnya merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya dan orang mukmin adalah orang yang manusia lainnya merasa aman atas darah (jiwa) dan harta mereka.”
Ada yang ekstrem mengambil sikap sebaliknya, yaitu tidak mau perduli apapun yang dilakukan orang lain, pokoknya urusan orang lain adalah urusan mereka dan dia cuma mau mengurusi apa yang menjadi urusannya. Jika orang lain salah dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu, itu urusan dan salah mereka, tidak ada kewajiban buat dia untuk perduli, apalagi jika memang tidak dimintakan bantuannya, sekalipun dia tahu.
Muslim tidak boleh…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi