Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 23:25 WIB
Surabaya
--°C

Oposisi Sunyi

Demokrasi liberal yang diterapkan di Indonesia punya prinsip 50 persen plus satu. Kalau perdebatan mentok menjadi deadlock sudah ada mekanisme voting sebagai jalan terakhir untuk mengambil keputusan. Hasil voting harus diterima sebagai keputusan bersama.

Sepakat untuk tidak sepakat, ‘’agree to disagree’’. Itulah gunanya voting, dan itulah mekanisme demokrasi. Anda memegang palu bukan untuk memukul siapa saja. Palu dipakai untuk mengatur law and order, menata aturan dan ketertiban.

Orang yang memegang palu akan melihat semua yang ada di depannya seperti paku. Orang yang pegang palu tidak ingin melihat ada paku yang paling menonjol. Paku yang paling menonjol akan jadi korban pertama ketokan palu. Sang pemegang palu akan menggetok semua paku supaya menjadi rata dan rapi.

Demokrasi memang jalan yang membosankan dan melelahkan. Secara alamiah manusia lahir untuk berdebat. Ada yang berdebat secara ilmiah, tapi ada juga yang berdebat seperti kusir delman yang kudanya hanya bisa melihat satu arah ke depan. Itulah sebabnya mengapa warung kopi selalu ramai, karena disitu orang bebas untuk berdebat.

Warung kopi menjadi sumber tradisi demokrasi. Filosof Jerman Jurgen Habermas melihat obrolan di warung kopi di abad ke-18 sebagai fenomena munculnya ‘’ruang publik’’ atau public spehere.

Menurut Habermas, public sphere adalah realitas sosial yang melibatkan proses pertukaran informasi mengenai berbagai pandangan berkenaan dengan pokok persoalan yang tengah menjadi perbincangan umum, hingga terciptalah pendapat umum, public opinion, atau opini publik.

Dengan adanya pendapat umum, publik mampu membentuk kebijakan negara sekaligus membentuk suatu tatanan masyarakat secara keseluruhan. Adanya public sphere menunjukkan keaktifan dari masyarakat dengan memanfaatkan hak-haknya untuk ikut berpikir dan terlibat di dalam suatu wacana yang sedang hangat, khususnya berkaitan dengan permasalahan politik.

Dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju, maka proses terbentuknya wacana menuju opini publik memerlukan perantara media massa. Dalam tatanan politik formal, konsep public sphere diejawentahkan melalui sistem perwakilan di parlemen.

Karena itu wajar kalau di parlemen terjadi debat sebagaimana di warung kopi, karena para wakil rakyat itu sedang melakukan praktik debat rakyat melalui forum parlemen. Itulah inti dari demokrasi modern.

The long and winding road, kata John Lenon. Jalan yang panjang dan berliku dan sering licin. Itulah jalan demokrasi. Jangan pilih demokrasi kalau tidak sabar mendengarkan perdebatan. Pilihlah fasisme yang lebih praktis dan tidak bertele-tele. Tinggal matikan mike dan ketok palu. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.