Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 23:25 WIB
Surabaya
--°C

Oposisi Sunyi

Menurut Noelle-Neumann, manusia secara alamiah takut akan eksklusi dan isolasi. Manusia secara alamiah tidak ingin menjadi liyan. Karena itu, sanksi sosial berupa eksklusi dan isolasi akan menjadi ancaman. Karena itu manusia secara manusiawi lebih nyaman dan aman menjadi bagian dari society supaya terhindar dari isolasi.

Karena itu kemudian individu harus menyesuaikan diri dengan suara mayoritas dalam masyarakat. Individu harus menjadi bagian dari masyarakat dengan melakukan konformitas. Hak-hak individu harus direlakan untuk lebur menjadi satu dalam hak kolektif.

Hak kolektif ini kemudian diklaim oleh negara sebagai hak warga negara yang diwakili oleh sebuah rezim pemerintahan. Rezim ini mengaku sebagai rezim demokratis dengan berbagai variannya. Ada yang menyebut sebagai Demokrasi Pancasila, Demokrasi Terpimpin, atau varian demokrasi lainnya. Bahkan, sebuah negara komunis seperti Korea Utara pun menyebut diri sebagai ‘’Republik Demokratik Korea Utara’’.

Hak-hak individu yang ditelan oleh kolektivitas akan melahirkan fasisme. Hak kolektif lebih dikedepankan daripada hak individual. Kepentingan negara—apapun itu definisinya—harus diutamakan ketimbang kepentingan individu.

Fasisme telah melahirkan pemimpin otoriter dan haus perang seperti Hitler di Jerman, Mussolini di Italia, dan rezim Jepang Teno Haika semasa perang dunia kedua. Rezim fasisme muncul bukan karena dukungan mayoritas. Rezim fasisme berkuasa karena opini masyarakat hilang ditelan ‘’spiral keheningan’’.

Hitler hanya didukung oleh sekelompok kecil utra-nasionalis. Mussolini berbaris memasuki kota Roma dengan segerombolan pendukung kecilnya yang berpakaian serba hitam. Partai Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin hanya beranggotakan ratusan buruh saja.

Tapi, mereka bisa merebut kekuasaan karena ‘’spiral of silence’’, suara oposisi dibuat sunyi dan diberangus sampai benar-benar habis. Yang lahir kemudian pemerintahan diktator yang mengklaim mendapatkan dukungan kolektif rakyat. Suara yang menentang akan diisolasi dan dieksekusi.

Ketakutan terhadap isolasi dan eksekusi menyebabkan seseorang memilih melakukan konformitas, penyesuaian diri, ketimbang harus menjadi liyan. Lebih baik diam daripada menyuarakan opini yang berbeda. Satu orang diam, kemudian diikuti oleh lainnya dan kemudian lainnya lagi. Diam menjadi lingkaran spiral yang menyedot semakin banyak orang kedalamnya menjadi spiral keheningan.

DPR sebagai rumah rakyat harusnya ramai dengan perdebatan. Sebagai rumah rakyat wajar kalau DPR riuh rendah oleh berbagai macam perdebatan. Tapi, adegan yang terjadi dalam sidang paripurna penetapan panglima TNI (8/11) menunjukkan bahwa DPR lebih suka menjadi rumah diam yang tenang dan seragam, tanpa ada suara liyan yang bisa bikin gaduh.

Anggota dewan yang melakukan interupsi diabaikan dan bahkan dilabrak dan dituding-tuding sampai kemudian sang anggota dewan meminta maaf. Tirani mayoritas sedang dipertunjukkan di depan rakyat. Suara oposisi yang minoritas akan makin hilang, dan DPR akan larut ditelan spiral keheningan.

DPR adalah the last bastion of democracy, benteng terakhir demokrasi. Di situlah para wakil rakyat berdiskusi dan berdebat secara demokratis dan saling menghormati. Di situlah para wakil rakyat memperdebatkan berbagai hal sebelum menjadi keputusan yang disepakati secara bulat atau lonjong.

Demokrasi bukan aklamasi. Kesepakatan tidak harus dicapai secara bulat. Kesepakatan secara lonjong pun tidak menjadi masalah, asal sudah melewati adu pendapat dan adu gagasan yang sehat. Tidak ada tirani mayoritas, tapi jangan pula ada tirani minoritas.

Demokrasi liberal yang…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.