Jumat, 17 April 2026, pukul : 15:12 WIB
Surabaya
--°C

Bukan Memperingati, Tetapi Menemukan Pahlawan!

Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Mengapa ketika bertanya pada anak tentang cita-cita mereka kelak dewasa, tak pernah terbesit di hati kita bahwa mereka akan menjawab:”Ingin menjadi Pahlawan!”

Bukankah Pahlawan adalah sebuah gelar mulia yang disematkan pada seseorang, dan tak terbantahkan bahwa itu layak diberikan kepadanya karena perjuangan dan jasanya, yang bahkan sering melampaui apa yang menjadi kewajibannya.

Begitulah, karena secara sadar kita ingin menanamkan pada anak bahwa menjadi apa pun tidaklah penting, yang terpenting adalah menggunakan apa yang telah kita raih sebagai sarana untuk beribadah atau mengabdi pada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sejak dini kita ingin anak menyadari bahwa ikhtiar untuk meraih cita-cita itu jauh lebih penting, maka berniat menjadi apapun hendaklah semata bagi menebar kebaikan untuk warga sebangsa dan setanah air yang utama.

‘Hari Pahlawan’ tidak boleh dan tidak pernah boleh hanya dimaknai seolah cuma mengenang tentang para Pahlawan yang pernah terlahir di Bumi Pertiwi. Sebab jika cuma itu, maka akan selesai ketika kemudian disegarkan dalam ingatan, padahal sejarah Kepahlawanan adalah sesuatu yang harus hidup dan menghidupkan, memberi inspirasi, melahirkan motivasi dan terus menjadi tenaga serta semangat pengabdian bagi generasi yang terlahir sesudahnya.

Hari-hari ini saja kita makin menyadari, untuk tidak disebut terperangah, betapa sejarah tentang ketokohan seseorang tak sekedar bisa direkayasa, bahkan yang lebih mengobok-obok nurani, adalah adanya usaha sistematis untuk mengaburkan sejarah bangsa, antara lain dengan penghapusan peran besar Ummat Islam serta banyak tokoh-tokohnya.

Begitulah sistematisasi pembelokan arah perjuangan bangsa, dimulai dengan pemutarbalikkan fakta, penyebaran informasi yang sesat, lalu penggiringan opini, kesimpulan dan stigmatisasi.

Pahlawan hari ini dan saat ini bukan dan tak perlu menyandang senjata, apalagi jika senjata itu semata diartikan senapan dan peluru tajam, atau setidaknya tak perlu semua, cukuplah sebagian bersiap ke medan tempur.

Lihat dan cermati, mereka yang sedang berusaha menguasai Negeri ini sama sekali tak membawa senjata, tak bertampang kejam serta sadis, mereka bahkan menawarkan fulus, berpenampilan necis dan wangi serta selalu mengumbar senyum.

Mereka datang dengan terlebih dahulu digelar karpet merah, diterima di kantor mewah, padahal sejatinya perlahan dan pasti sedang menjerat serta merampok Negeri melalui penguasaan sektor Ekonomi, Informasi dan Teknologi.

Bekerjasama dan menjalin kemitraan dengan Bangsa-bangsa lain adalah sebuah keniscayaan, tetapi prasyaratnya adalah kita duduk sama tegak dan berdiri sama tinggi.

Apa yang kita saksikan dan bahkan akhirnya menjadi musuh terbesar Negeri ini adalah perilaku Korup para pejabat, sehingga Korupsi kini menjadi extra ordinary crime.

Jika tidak demikian kondisinya, mengapa Polisi dan Jaksa tidak dianggap cukup, dan lalu kita membentuk KPK!!!
Inilah kunci utamanya, Institusi bukan segalanya, mental para pengampunyalah yang menjadikan sebuah tugas dan kewenangan dijalankan sesuai amanat yang diberikan.

Membangun jiwanya…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.