Membangun jiwanya, tak semata badannya
Lagu kebangsaan Indonesia Raya saja bahkan sudah lama mengisyaratkan, bahwa membangun Negeri itu dimulai dan harus mengutamakan jiwa atau mentalnya: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya… “.
Sekalipun Indonesia itu ” Sambung menyambung menjadi satu”, tapi menjaga adalah tentang orang dan bicara orang adalah tentang jiwanya, apakah jiwa yang terisi pada kesadaran akan tanggung jawab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Gempuran kiriman dan atau penyalahgunaan Narkoba atau zat psikotropika yang makin menggila dan sudah mewabah disegala lapisan masarakat, difasilitasi baik pejabat sipil dan militer.
Para pengedar dan penggunanya tidak saja dosen dan guru, dan bahkan anak atau siswa Sekolah Dasar.
Tidak melulu dalam bentuk konvensional, kini dikemas dalam bentuk kue atau permen, dari sini kita harus sepakat dan menyadari bahwa usaha untuk merusak Generasi Muda Bangsa adalah sebuah usaha sistematis, terencana dan terkoordinasi melalui jaringan Internasional.
Sangat naif kalau kita menganggap bahwa mereka di luar sana (juga dibantu oleh kaki tangannya di dalam Negeri ini), semata sedang mencari keuntungan finansial, lebih dari itu, dalam jangka panjang, mereka berkehendak menguasai sepenuhnya Negeri ini dan itu hanya mungkin jika generasi mudanya tidak cuma secara fisik lemah, tapi juga secara mental sudah terganggu.
Lalu dalam kondisi carut marut begini, ketika Negara makin terpuruk secara ekonomi, alih-alih kita makin meningkatkan dan menguatkan ketakwaan pada Allah, malah ada usaha yang secara kasat mata menjauhkan Pendidikan dari nilai-nilai Agama, menjauhkan Agama dari sisi kehidupan keseharian.
Ini pasti bukan kehilafan dan ketidaksengajaan, karena terus berulang, ini usaha mencari peluang dan menunggu kelalaian.
Jika Presiden berkesesuaian faham dengan Ormas-Ormas Islam, maka harus ada koreksi total di Departemen Pendidikan Nasional, tak cuma menyangkut kebijakan, tetapi juga Personalianya.
Maka menemukan Pahlawan hari-hari ini adalah menumbuhkan keberanian untuk mencintai kebaikan, menyuarakan kebaikan dan mendukung sepenuhnya.
Kebaikan adalah nilai-nilai yang bersumber pada Agama, tentu sebagai Muslim adalah Islam.
Tak peduli sesudah itu kita dianggap asing, karena para perusak Negeri ini kini bersekongkol dalam barisan tanpa adab, kecuali mengagungkan duit dan kekuasaan.
Diam adalah tanda kita kalah, dan itu berarti kita menyerahkan Negeri ini pada kekuasaan Asing, yang bukan saja tak mengenal para Pahlawan kita, bahkan akan membuang budaya bangsa. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi