MOSKOW-KEMPALAN: Bagi yang mempelajari atau membaca tentang Revolusi Rusia pasti mengenal nama Leon Trotsky. Satu di antara triumvirat Revolusi Rusia (lainnya adalah Vladimir Lenin dan Joseph Stalin). Ia merupakan komantan tentara merah, senjata paling ampuh revolusi dan salah satu prasyarat keberhasilan revolusi.
Lelaki ini lahir di Ukraina dengan nama Lev Davidovich Bronshtein yang berasal dari keluarga Yahudi. Semasa mudanya, ia sempat mengenyam pendidikan di Universitas Odessa, akan tetapi lebih memilih untuk mengambil jalan revolusi dengan menolong mengorganisir Uni Pekerja Rusia Selatan. Pada 1898 ia sempat ditangkap karena aktivitas revolusionernya dan diasingkan ke Siberia.
Ia melarikan diri pada tahun 1902 ke London dan bekerja bersama Lenin di surat kabar Iskra yang revolusioner. Meskipun ia adalah komandan tentara merah yang notabene merupakan bagian dari Bolshevik, sebelum masuk faksi tersebut, Trotsky justru berpihak kepada Menshevik dan mendukung pendekatan demokratis terhadap sosialisme. Faksi ini berlawanan dengan pihak Lenin.
Sang revolusioner kembali lagi ke Rusia pada 1905, namun ditangkap tahun 1906 dan dipenjarakan lalu dibuang ke Siberia lagi yang mana ia melarikan diri untuk kedua kalinya pada 1907. Usai pelariannya yang kedua dan sebelum Revolusi Oktober 1917, ia bekerja sebagai penulis di sejumlah surat kabar. Trotsky juga pernah di New York pada Januari 1917.

Selama tahun 1920, ia menjadi salah satu komandan yang terkenal ketika perang Uni Soviet dan Polandia. Trotsky bahkan kerap menjadi sasaran kebencian Polandia dengan poster-poster anti Sovietnya. Semenjak 1918-1925, ia adalah Komisaris Tentara Merah untuk Urusan Militer dan Angkatan Laut. Ia juga orang yang menghadapi pemberontakan Kronstadt tahun 1921.
Selama Revolusi Rusia, lelaki asal Ukraina ini bertugas sebagai pimpinan militer dan komisaris urusan luar negeri. Ketika Lenin jatuh sakit, Trotsky yang memiliki peluang besar menjadi pemimpin Uni Soviet selanjutnya justru dikalahkan oleh triumvirat lain (Lev Kamenev, Joseph Stalin, dan Grigory Zinovyev). Meskipun begitu, ia masih dipercaya oleh Lenin sendiri.
Usai meninggalnya Lenin, Trotsky bertarung dengan Stalin dan ia pun diasingkan. Ia sempat berusaha mereformasi Komunis Internasional, namun pada akhirnya memilih untuk membentuk Internasional Keempat yang dianggap revisionis dan mereka yang tergabung di dalamnya seringkali disebut sebagai Trotskys.
Sang revolusioner yang menjadi musuh dari Joseph Stalin, mati dibunuh oleh komunis dari Spanyol di Meksiko. Selama hidupnya, ia menorehkan sejumlah karya: History of the Russian Revolution, Revolusi Permanen, Revolusi yang Dikhianati, Program Transisional, Fasisme, Moral Mereka dan Moral Kami, Stalinisme & Bolshevisme, dan sejumlah karya lain yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sang revolusioner asal Ukraina ini lahir pada hari ini, 7 November, tahun 1879. Meskipun berakhir dengan tragis, Trotsky meninggalkan ide yang masih berkobar hingga sekarang, yakni Revolusi Permanen. (reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi