Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 08:26 WIB
Surabaya
--°C

Luhut dan Muhadjir

KEMPALAN: Di luar negeri panen puja-puji, di dalam negeri banjir caci-maki. Presiden Jokowi kabarnya sedang jadi bintang dalam pertemuan para pemimpin dunia yang tergabung dalam G-20. Dalam pertemuan yang berlangsung di Roma, Italia, Presiden Jokowi menjadi pusat perhatian, terutama karena Indonesia terpilih menjadi ketua kumpulan negara-negara ekonomi besar itu untuk kepengurusan periode 2022.

Saat Jokowi asyik menikmati perhatian, di Jakarta menteri-menterinya sedang kepanasan gegara kebijakan tes PCR (polymerase chain reaction) yang diwajibkan kepada semua penumpang pesawat terbang.

Kebijakan ini ganjil dan tidak masuk akal, terutama karena harga tes yang kelewat mahal. Masyarakat protes keras, sampai akhirnya Jokowi memerintahkan penurunan harga tes. Masyarakat masih tetap protes. Akhirnya kewajiban tes dibatalkan.

Satu urusan selesai, muncul urusan lainnya. Muncul berita bahwa Luhut Panjaitan dan Erick Thohir terlibat dalam bisnis PCR dan beberapa bisnis yang berhubungan dengan penanganan pandemi. Luhut yang selama ini menjadi kepercayaan Jokowi dan seolah-olah ‘’untouchable’’ kali ini tidak bisa berkutik.

Erick Thohir yang selama ini mengekor di belakang Luhut, kali ini juga tidak bisa bersembunyi lagi. Masyarakat tahu bahwa dua tokoh itu menangguk untung sampai triliunan rupiah dari bisnis pandemi. Dua orang itu dikabarkan punya saham di perusahaan yang menjadi pemain dalam bisnis penanganan pandemi.

Publik menjuluki Luhut dan Erick sebagai ‘’peng-peng’’, penguasa dan pengusaha. Ada juga yang memelesetkannya menjadi ‘’penguasaha’’, mirip orang keselo lidah. Kebijakannya tidak menyejahterakan, tapi malah ‘’menyengsrengsarakan’’ rakyat.

Nama yang selama ini moncer mendadak redup. Pemerintah terpaksa menjilat ludah dan membatalkan kewajiban tes PCR. Luhut yang telanjur terekspos tidak kelihatan lagi mukanya. Kabarnya Jokowi murka terhadap Luhut dan gengnya, karena kandang yang sedang ditinggal Jokowi berantakan diacak-acak Luhut dan kawan-kawan.

Kali ini rupanya Jokowi sudah kehabisan kesabaran. Dia mengeluarkan kartu kuning dan Luhut harus minggir. Paling tidak Luhut tidak muncul ketika pemerintah mengumumkan pembatalan kewajiban tes PCR. Lebih baik menghilang daripada menanggung malu. Mungkin begitu pikir Luhut.

Sebagai ganti muncul Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan (PMK) Prof. Muhadjir Effendy yang mengumumkan pembatalan itu. Banyak yang senang dengan perubahan ini. Seharunya memang Menko PKM yang menjadi komandan perang melawan pandemi Covid 19.

Dia membawahi tujuh kementerian; kesehatan, pendidikan, sosial, agama, pedesaan, dan pemuda dan olahraga. Semuanya sangat strategis dalam penanganan Covid 19. Tapi, selama ini Muhadjir tidak pernah tampil di depan. Dia hanya memainkan peran figuran saja. Peran utama selalu diambil oleh Luhut.

Kali ini Muhadjir benar-benar menjadi jenderal. Dia akan memimpin operasi penanggulangan pandemi. Salah satu tugas besarnya adalah memastikan bahwa selama dan setelah libur natal dan tahun baru tidak terjadi gelombang penularan ketiga yang sekarang menghantui berbagai negara.

Kemampuan Muhadjir sedang diuji. Tapi kelihatannya dia siap. Sebagai orang sipil, pendekatan yang dilakukan Muhadjir pasti beda dengan Luhut. Soal efektifitas memimpin, Muhadjir tidak kalah dari Luhut. Dalam hal ini Muhadjir adalah seorang jenderal.

Mungkin tidak banyak yang memperhatikan penampilam Muhadjir Effendy dalam beberapa kunjungan kerja ke daerah. Selain tampilan yang bersahaja dengan baju putih atau batik lengan panjang, Muhadjir ternyata sering memakai topi dengan lambang empat bintang.

Di kalangan militer empat bintang adalah simbol untuk seorang jenderal. Tidak banyak menteri yang memakai topi dengan simbol jenderal. Prabowo Subianto sebagai menteri pertahanan biasanya memakai topi bersimbol bintang. Tapi, Prabowo formalnya adalah pensiunan letnan jenderal bintang tiga.

Latar belakang Muhadjir yang sipil tentu mengundang tanda tanya mengapa ia memakai empat bintang di topinya. Ketika wartawan menanyakan hal itu pada sebuah kesempatan, Muhadjir menjawabnya dengan gayanya yang khas. Ia tersenyum lebar dan mengatakan bahwa tidak ada maksud apa-apa dengan topi itu. Tidak ada filosofi di balik pemakaian topi itu. Ia memakainya karena staf sudah menyiapkan untuk dipakai.

Dengan bintang empat itu…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.