
KEMPALAN-Nama Arya Wiraraja selalu tersemat ketika berbicara Sumenep dan Majapahit. Ya…begitu sejarah mencatat peran sosok Arya Wiraraja dalam terbentuknya Kadipaten Soengennep (Sumenep) dan berdirinya Kerajaan Majapahit-hingga memiliki wilayah kekuasaan seluruh Nusantara sampai Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina.
Bagi penulis sejarah. Arya Wiraraja dikenal sebagai tokoh politik yang disegani pada abad ke-13 M di tanah Jawa dan Madura. Sosok Arya Wiraraja juga digambarkan sebagai operator politik tapi tak memanfaatkan kekuasaan yang ia raih.
Sebagai operator politik, Arya Wiraraja berhasil menumbangkan Kerajaan Singasari dan mengantar Raden Wijaya dalam mendirikan Kerajaan Majapahit. Namun, Arya Wiraraja tetap sebagai Adipati Sumenep sejak ditunjuk Kertanagara, Raja Singasari.
Saat Kertanegara memimpin Singosari pada 1268-1292 M. Wilayah kekuasan Singosari meluas. Sumenep (Madura) menjadi salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Singasari, Malang.
Singosari menjadi kerajaan yang menguasai Nusantara hingga negara Champa (Vietnam). Kekuasaannya membentang seluruh Jawa, Sunda, Sumatera dan Madura. Saat mengirim ekspedisi militer ke Malayu, menguasai Pahang di Semenanjung Malayu. Kerajaan Bali juga berhasil ditaklukkan. Rajanya diboyong sebagai tawanan pada 1284.
Kekuasaan Kertanegara juga menguasai Gurun, pulau di wilayah timur Nusantara dan Bakulapura atau Tanjungpura di Barat Daya Kalimantan.
Operasi menumbangkan kekuasaan Singosari mulai diatur. Arya Wiraraja membisikkan Jayakatwang untuk menyerang Kertanegara saat pasukan Singosari melakukan ekspansi ke Melayu.
Raja Kertanegara sebenarnya sulit ditaklukkan karena kekuasaan yang mencengkram dengan pasukan yang begitu besar. Berkat siasat Arya Wiraraja, kekuasaan Kertanegara runtuh di tangan besannya-Jayakatwang. Anak Jayakatwang, Ardharaja yang menjadi menantu Kertanegara.
Kerajaan Singasari runtuh setelah Raja Kertanegara dibunuh Jayakatwang, Adipati Gelang-Gelang (Madiun; salah satu wilayah kekuasaan Singosari) pada 1292. Pasukan Jayakatwang menyerang dari dua arah yakni dari utara dan selatan. Pasukan dari utara dipimpin Ardharaja. Jayakatwang menyerbu dari arah selatan hingga membunuh Prabu Kertanagara.
Jayakatwang salah satu penerus Kertajaya, Raja Kediri yang ditaklukkan oleh Ken Arok, leluhur Kertanegara. Ken Arok, seorang preman pasar yang diangkat pengawal Tuggul Ametung, Akuwu (setara Bupati) Tumapel, salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri.
Dalam kitab Pararaton menyebut, Ken Arok membunuh Akuwu Tunggul Ametung karena terpikat kecantikan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Dedes berhasil dipersunting Ken Arok.
Saat Tumapel dipimpin Ken Arok. Terbesit ingin melepas dari kekuasaan Kediri, Raja Kertajaya. Ken Arok berhasil membunuh Kertajaya. Lalu berdiri Kerajaan Singosari. Ken Arok menjadi Raja Singosari pada tahun 1222- 1227 M.
Sebelum melawan Kerajaan Kediri, Ken Arok berjulukan Bhatara Siwa. Konon katanya, Kertajaya hanya bisa dikalahkan oleh Siwa. Karenanya, Ken Arok menggunakan nama Bhatara Siwa.
Sebelum ditaklukkan Jayakatwang. Kertanegara memperlihatkan sebagai raja yang kuat dan tak mau kompromi. Termasuk menolak ajakan tunduk pada kekuasaan Khubilai Khan, penguasa Kaisar Mongol dari Bangsa Tatar.
Tahun 1289, Khubilai Khan mengirim sejumlah utusan ke Kertanegara. Utusan itu menyampaikan pesan Kaisar Khubilai Khan agar Kertanagara mengakui kekuasaan Kekaisaran Mongolia dan mengirimkan upeti ke istananya.
Tercatat, sejak tahun 1280, 1281, 1286 utusan Khubilai Khan datang ke Kertanegara.
Karena kesal, pada 1289 Kertanegara memotong kuping Meng Qi, utusan Khubilai Khan yang menemuinya. Khubilai Khan sebagai cucu Jengis Khan-panglima militer Tatar yang akhirnya sebagai pendiri Kekaisaran Mongolia.
Saat itu, tentara Mongol berhasil menaklukan Dinasti Song pada 1279 . Sehingga seluruh Tiongkok tunduk di bawah Dinasti Yuan. Termasuk Korea, Burma, Vietnam (Champa), dan Kamboja. Hanya Kerajaan Singasari yang tidak berhasil ditaklukkan.
Khubilai Khan membalas penghinaan Kertanagara, Prabu Singasari. Dia mengirim ekspedisi militer ke Jawa pada 1 Maret 1293. Tapi, raja yang melukai utusan Mongol sudah tewas di tangan Jayakatwang. Pasukan Mongol tak berpikir. Siapa yang berkuasa di Jawa akan menjadi sasaran serangan.
Lagi-lagi Arya Wiraraja peka membaca situasi politik. Pasukan Mongol itu dibisikin Arya Wiraraja agar menyerbu Jayakatwang, si penguasa Jawa dari berbagai arah.
“Kalau sudah kalah raja di Daha, saya akan memberikan seorang putri dari Tumapel yang cantik tiada bandingan di Pulau Jawa, itulah yang akan saya katakan kepada Raja Tatar sebagai alat memperdayakan Raja Tatar.”
Begitu ucapan Arya Wiraraja dalam Pararaton yang ditulis pada abad 17 M.
Berbagai sumber naskah Jawa juga menyebut, sebagai sahabat bangsa Tatar, sebutan sumber Jawa untuk Mongol. Putri raja menjadi iming-iming kepada Raja Tatar agar mau membantu melibas Jayakatwang.
Sebelum pasukan Mongol datang. Raden Wijaya mengungsi ke Sumenep berlindung ke Arya Wiraraja.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi