Sebelum menjabat Adipati Sumenep, Arya Wiraraja menjadi orang kepercayaan Narasingamurti, kakek Raden Wijaya. Raden Wijaya dan Arya Wiraraja berpikir cara membalas dendam dan menaklukkan Jayakatwang.
Arya Wiraraja minta ijin ke Jayakatwang untuk membuka hutan Tarik. Raden Wijaya dan tentara Sumenep, kiriman Arya Wiraraja membuka hutan Tarik-yang kemudian menjadi ibu kota Kerajaan Majapahit.
Sekitar 10 bulan Desa Majapahit berdiri. Datang pasukan besar Mongol yang dipimpin 3 jendral. Jendral Shih Pi, Lhemi Shih dan Kau Tsing.
Sukarto K Atmodjo menulis, jumlah pasukan militer Mongol yang berlabuh di Tubah berjumlah 100 ribu.
Arya Wiraraja melalui Raden Wijaya bekerja sama dengan pasukan Mongol dengan iming-iming harta rampasan perang dan putri-putri Jawa yang cantik.
Setelah mencapai sepakat, pasukan Mongol dibagi tiga. Pertama, pasukan dipimpin Jendral Shih Pi membawa seperdua pasukan dengan kapal melewati Sedayu terus ke muara Kali Mas. Jenderal Lhemi Shih dan Kau Tsing menyerbu dengan pasukan berkuda lewat jalur pedalaman Daha.
Kitab Pararaton menyebut, Arya Wiraraja dan pasukannya membawa peralatan perang. Tentara Mongol menyerang dari utara. Sedangkan pasukan Arya Wiraraja menyerang dari arah Timur.
Pasukan Jayakatwang mundur. Sebanyak 5 ribu pasukan Jayakatwang tewas setelah dikepung. Sedangkan Jayakatwang menyerahkan diri dan 100 angota keluarga dan pejabat tinggi ditangkap.
Prabu Jayakatwang di Kediri dapat ditaklukkan dalam waktu yang kurang dari sebulan. Jendral Shih Pi meminta janji putri-putri Jawa. Arya Wiraraja menemui Jendral Kau Tsing agar penjemput para putri cantik di Desa Majapahit tanpa membawa senjata. Dengan alasan, para putri masih trauma dengan senjata dan peperangan yang menghantuinya.
Setelah pasukan Mongol masuk Desa Majapahit tanpa senjata. Gerbang desa langsung ditutup. Pasukan Ronggolawe dan Mpu Sora langsung membantai pasukan Mongol yang tanpa senjata.
Pasukan Mongol yang berada di pelabuhan Ujung Galuh (Surabya) maupun di Kediri juga berhasil ditumpas oleh pasukan Madura dan laskar Majapahit. Kekalahan pasukan Mongol paling memalukan karena pasukan besar lari tercerai berai.
Setahun setelah pengusiran pasukan Mongol, Kidung Harsawijaya menulis, 10 Nopember 1293 sebagai momentum pelantikan Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit.
Awal berkuasa, wilayah bekas Kerajaan Singosari menjadi kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Dalam dongeng rakyat Lumajang, wilayah timur Majapahit berdiri Kerajaan Lamajang Tigang Juru. Sang Prabu Arya Wiraraja disebut sebagai “Prabu Menak Koncar I”. Prabu Menak Koncar I (Arya Wiraraja) ini berkuasa dari tahun 1293- 1316 Masehi.
Kerajaan Lamajang Tigang Juru menguasai wilayah Madura, Lumajang, Panarukan dan Blambangan.
Dari bekas Kerajaan Singosari ini, ada 2 budaya yang berbeda. Bekas Kerajaan Majapahit dikenal mempunyai budaya Mataraman.
Sedang bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru dikenal dengan Budaya Pendalungan (campuran Jawa dan Madura) berada di kawasan Tapal Kuda.
Lebih kurang 24 tahun Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep (1269-1293).
Penerus Arya Wiraraja adalah Joko Tole, putra Adi Poday- dalam catatan sejarah juga disebut ikut andil membesarkan Kerajaan Majapahit.
Sehingga lahir Sumpah Palapa yang didengungkan Maha Patih Gajah Mada sebagai embrio NKRI.
Dan setiap tanggal 31 Oktober. Rakyat Sumenep merayakan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Sebab, tanggal 31 Oktober 1269 M disepekati sebagai tanggal dan tahun berdirinya Sumenep setelah Arya Wiraraja dilantik sebagai Adipati Sumenep oleh Kertanagara, Raja Singasari.
Selamat Hari Jadi Kabupaten Sumenep ke 752
Dirgahayu Kabupaten Sumenep; 31 Oktober 2021.
*Hambali Rasidi, kontributor kempalan di Madura

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi