Menu

Mode Gelap

kempalanda · 27 Okt 2021 18:41 WIB ·

Antara Memiliki dan Menguasai


					Ilustrasi. (Evelyn Chong-Pexels) Perbesar

Ilustrasi. (Evelyn Chong-Pexels)

Hamid Abud Attamimi

Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon

KEMPALAN: Dalam bermuamallah atau berhubungan dengan sesama, baik di kampus, tempat kerja, atau dalam lingkup yang lebih besar yaitu berbangsa dan bernegara, selalu kita harus berpedoman bahwa ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan sebelum berbuat dan bicara.

Mengapa demikian? Karena berhubungan dengan sesama adalah melibatkan dua atau lebih pihak, disini tak berlaku lagi ‘aku’, tapi ‘kita dan kami’.

Tidak masalah kita menjelaskan tentang siapa diri pribadi, tetapi harus difahami, menjelaskan berbeda dengan mengatasnamakan.

Mengatasnamakan itu konotasinya menafikan atau mengecilkan pihak lain, atau setidaknya menganggap diri pribadi memiliki kapasitas untuk merepresentasikan orang diluar dirinya.

Ketika merasa mewakili, tentu tidak selesai sampai disana, sebab akan muncul beberapa pertanyaan lanjutan, misalnya atas dasar apa kita merasa memiliki kewenangan mewakili orang lain.

Atau, siapa yang memberikan kepercayaan pada kita untuk menjadi wakil dirinya?

Ini akan lebih menukik tajam, jika kewenangan ini menyangkut sebuah lembaga formal, yang baik eksistensi maupun pengelolaannya diatur oleh undang-undang.

Ada yang lebih membutuhkan tinjauan psikologis ketika apa yang mengemuka bukan sekedar merasa mewakili, tetapi merasa memiliki.

Merasa memiliki (sense of belonging) sebetulnya sejauh ini sangat positif.

Berdasarkan beberapa definisi sense of belonging menurut beberapa ahli, maka dapat disimpulkan bahwa sense of belonging merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasa memiliki sesuatu, sehingga dengan perasaan memiliki itu akan sepenuhnya mencintai, menjaga, dan peduli dengan sesuatu tersebut.

Apa yang salah ketika seseorang merasa mencintai apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, apalagi jika karenanya lalu dia menjadi amat perduli dan menjaga?

Keperdulian (careness) yang sejatinya dan seharusnya menjadi energi positip tak cuma bagi dirinya, tetapi juga memotivasi dan menginspirasi orang di sekelilingnya.

Tetapi kita harus hati-hati dan bisa membedakan, antara merasa memiliki dan merasa menguasai, atau keinginan untuk menguasai.

Orang yang merasa memiliki sering lebih tulus, karena sesuatu yang dicintai, perduli untuk dijaganya tak selalu harus kepunyaannya atau dalam pengurusannya.

Dia merasa wajib menjaganya, mungkin semata karena disamping dia mampu, namun lebih jauh dari itu, yaitu karena apa yang patut dijaga tersebut sesuatu yang amat bernilai dan memiliki maslahat atau manfaat bagi banyak orang.

Amat berbeda dengan mereka yang merasa ingin menguasai, mungkin apa yang ada padanya secara kewenangan memang dia berhak mengelolanya, namun sering bahkan apa yang bukan menjadi kewenangan dan kompetensinya, tetap ingin dikuasainya.

Sehingga fenomena ingin menguasai sering dan hampir niscaya menjadikannya berjalin dengan korupsi, kolusi dan nepotis.

Lalu amat defensif…

Artikel ini telah dibaca 119 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Apa Karena Memang Lidah Tak Bertulang?

23 November 2021 - 16:00 WIB

Anjuran Menikah

23 November 2021 - 13:24 WIB

UBAYA Kembangkan Program Studi Anti-Nganggur

22 November 2021 - 11:03 WIB

Jika Kebutaan Telah Menjangkiti Hati

19 November 2021 - 14:18 WIB

Trending di kempalanda