Pada akhir masa kekuasaan Belanda dan menjelang masuknya tentara Jepang Ke Indonesia tahun 1942. Dampak yang ditimbulkan adalah kekacauan dan penderitaan bagi rakyat Indonesia, termasuk di kota Cirebon. Dalam masa peralihan dari penguasaan penjajah Belanda kepada Jepang itulah, Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi menyelesaikan pendidikan yang ditempuhnya di madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah, setingkat sekolah dasar yang saat itu masih dikenal dengan istilah Sekolah Rakjat (SR).
Masih di kota kelahirannya Cirebon, selepas sekolah rakjat, Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi kemudian melanjutkan ke sekolah lanjutan berikutnya, baik SMP maupun SMA. Di kedua jenjang itu, beliau pun masih mengalami dua situasi, yaitu kemerdekaan Indonesia berikut dinamika seputar kemerdekaan yang pernah terjadi di kota Cirebon. Dan situasi keduanya adalah masa revolusi perjuangan yang saat itu masih berkecamuk untuk mempertahankan kemerdekaan, karena selepas proklamasi Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia tengah dihadapkan oleh agresor Belanda yang ingin merebut kembali tanah jajahannya.
Di masa kuliah, saat setelah menjadi mahasiswa, Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi tinggal di Jakarta. Selama di Jakarta pada era tahun 50-an, beliau pernah aktif menjadi salah seorang redaktur Gema Pemuda Al-Irsyad dan juga pembuat disain pada cover majalah tersebut. Media yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad di Jakarta, yang nomor pertamanya mulai terbit 10 April 1954 ini, dilengkapi dengan supplement berbahasa Arab “Mimbar Asy-syabaab.
Hussein Badjerei, pemimpin Gema Pemuda Al-Irsyad memiliki hubungan yang sangat erat dengan Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi, bahkan keduanya terjalin hubungan kasih sayang layaknya seperti dua bersaudara, antara seorang kakak kepada adiknya. Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi lah yang selalu memberinya bimbingan dan memotivasi kepada Hussein Badjerei untuk menjadi penulis produktif. Darinya pula ia mendapatkan buah kenangan yang masih disimpan hingga sekarang oleh keluarga Hussein Badjerei, yaitu sebuah karikatur yang dibuatnya sendiri dan dituliskan kalimat pujian yang amat tinggi, nukilan dari syair “As-Samaw’al”. (Dikutip dari otobiografi, Hussein Badjerei, Anak Krukut Menjelajah Mimpi, diterbitkan oleh LSIP th.2003).
Meraih Gelar Doktor dan Bapak Perundang-Undangan Indonesia
Prof. Dr. A. Hamid S. Attamimi meraih gelar doktoralnya pada studi pasca sarjana di Universitas Indonesia tahun 1990. Ia berhasil mempertahankan disertasinya tentang; “Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara – Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I – Pelita V”.
Setelah puluhan tahun, yang sebelumnya menjadi dosen dalam Bidang Studi Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Disertasinya itu sekaligus menghantarkannya menjadi seorang Guru Besar pertama dalam ilmu perundang-undangan dan merupakan perintis yang mengantarkan ilmu perundang-undangan menjadi salah satu cabang dan bidang studi ilmu hukum yang terintegrasi dalam sistem kurikulum di Fakultas Hukum. ilmu pengetahuan perundang-undangan itu sudah diperkenalkan olehnya sejak tahun 1975.
Sejumlah pengamat ilmu pengetahuan dan akademisi menilai, setiap mempelajari ilmu peraturan perundang-undangan, tak luput dari peran besar Profesor Dr. A.Hamid S. Attamimi yang kemudian terciptanya mata kuliah ilmu perundang-undangan di Fakultas Hukum yang hingga kini dipelajari oleh mahasiswa hukum di seluruh Indonesia. “Pemikirannya tetap hidup dan terus bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara”.
Bersamaan sebagai…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi