Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 16 Okt 2021 08:55 WIB ·

Dark Academia


					Pengukuhan Megawati Soekarnoputri sebagai Guru Besar Universitas Pertahanan. (BPIP) Perbesar

Pengukuhan Megawati Soekarnoputri sebagai Guru Besar Universitas Pertahanan. (BPIP)

KEMPALAN: Megawati Soekarnoputri dikukuhkan menjadi profesor di Universitas Pertahanan, lalu diangkat menjadi Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya, anak Mega yang sekaligus putri mahkota, Puan Maharani, juga sudah dikukuhkan sebagai doktor kehormatan di Universitas Diponegoro, Semarang.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin dan Menteri BUMN Erick Thohir sedang antre menunggu giliran dapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sebelumnya, sudah ada Muhaimin Iskandar, ketua umum PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) dan wakil ketua MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Airlangga, Surabaya.

Menteri Sosial Tri Rismaharini—saat masih menjabat walikota Surabaya–juga mendapat gelar doktor kehormatan dari Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) Surabaya. Wakil ketua DPR dan politisi Partai Demokrat, Agus Hermanto dikukuhkan menjadi profesor kehormatan di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Kakak ipar Agus, Susilo Bambang Yudhoyono, sudah terlebih dahulu diangkat menjadi profesor kehormatan di Universitas Pertahanan.

Obral gelar kehormatan ini semakin banyak terjadi beberapa tahun terakhir. Menjelang tahun politik 2024 obral gelar kehormatan kelihatannya bakal semakin ramai. Sebagian akademisi menangisi fenomena ini. Tetapi, para rektor pemimpin universitas, malah terlihat dengan senang hati ikut ambil bagian dalam obral gelar ini.

Beberapa dosen di UNJ membentuk konsorsium menolak obral gelar kepada Ma’ruf Amin dan Erick Thohir. Alasannya, pemberian gelar itu bertentangan dengan statuta kampus dan lebih kental aroma politiknya. Alasan pertama akan mudah dipatahkan, karena ada kabar pihak kampus akan mengamandemen statuta untuk memungkinkan gelar kehoratan diberikan kepada pejabat negara yang masih aktif.

Universitas Indonesia (UI) sudah terlebih dahulu memberi contoh amandemen terhadap statuta untuk menyesuaikan kepentingan rektor Ari Kuncoro, yang merangkap menjadi komisaris di perusahaan bank negara. Amandemen itu bocor ke publik dan mendapat protes keras. Ari akhirnya mengundurkan diri dari jabatan komisaris.

Demokrasi sudah mati. Kata Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya ‘’How Democarcies Die’’ (2018). Dua profesor (asli) dari Harvard itu menunjukkan berbagai indikator yang mengarah pada kematian demokrasi. Kampus yang mestinya menjadi penjaga suara demokrasi, sekarang berubah menjadi penjaga kekuasaan.

Tahun ini, Peter Fleming, akademisi Amerika menerbitkan buku ‘’Dark Academia: How Universities Die’’. Fleming mengungkap sejumlah fenomena yang menunjukkan bahwa tradisi intelektual kampus sudah mati, dan kampus hanya menjadi puing yang bahkan menara gadingnya pun sudah ambruk.

Tidak ada hubungan…

Artikel ini telah dibaca 407 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Sugali

4 Desember 2021 - 09:17 WIB

Reuni

3 Desember 2021 - 09:37 WIB

Dudung

2 Desember 2021 - 09:20 WIB

Ballon d’Or

1 Desember 2021 - 09:14 WIB

Mimpi

30 November 2021 - 09:56 WIB

Mati Ketawa ala Fadli Zon

29 November 2021 - 09:57 WIB

Trending di Kempalpagi