Menu

Mode Gelap

Kempalandok · 13 Okt 2021 12:51 WIB ·

Waspadai! New Normal Bisa Sebabkan Gangguan Psikologis


					Ilustrasi depresi (sumber : google) Perbesar

Ilustrasi depresi (sumber : google)

SURABAYA – KEMPALAN : Perubahan kebiasaan akibat pandemi Covid-19 membawa gangguan psikologis tersendiri, yang disebabkan munculnya kesulitan berdapatasi dengan gaya hidup baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi dini atas gangguan psikologi agar tidak berkembang menjadi lebih buruk.

Dosen bidang Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc menerangkan bahwa gangguan fisik yang arahnya psikosomatis, lebih disebabkan karena budaya kolektif masyarakat Indonesia yang menyebabkan mereka malu mengakui bahwa diri sendiri punya keluhan terkait gangguan psikologis. Layanan SEJIWA, platform penyedia konsultasi psikologi, juga melaporkan bahwa banyak kasus seperti gangguan kognisi, gangguan emosi dan afeksi, gangguan perilaku, serta gangguan psikosomatis yang dialami oleh masyarakat Indonesia selama pandemi ini.

“Jadi, (gangguan, Red) fisik itu merupakan manifestasi dari beberapa perasaan emosi yang dirasakan,” katanya, Rabu (13/10).

Dia pun menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan psikologis, yang bisa dilakukan kalangan professional maupun nonprofessional. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab memperhatikan lingkungan dan peka terhadap perubahan emosi orang-orang terdekat. “Kalau bicara deteksi dini bisa dilakukan oleh siapapun termasuk mereka yang nonprofesional tapi dekat atau yang punya kedekatan relasi gitu,” tegas Atika.

Kepala Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi UNAIR Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc

Berbagai perubahan yang dimaksud, misalnya menarik diri secara sosial, menurunnya motivasi untuk mengerjakan hal-hal yang bahkan dulu merupakan hobi mereka, serta perubahan emosi yang ekstrem. “Sebagai orang yang nonprofesional, kita bisa kok mendekati, mendengarkan, serta memberi perhatian. Banyak orang yang cukup terbantu dengan dukungan awal yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya seperti kita menyediakan diri untuk menjadi teman curhat,” jelas Atika.

Namun demikian, Atika menegaskan bahwa jika perubahan-perubahan perilaku yang dialami cenderung menetap dan bahkan membahayakan diri sendiri serta orang lain, maka sudah seharusnya untuk mencari bantuan profesional. “Itu hukumnya wajib ya kalau yang mulai menunjukkan perilaku demikian,” tegas Kepala Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi UNAIR ini.

Dikatakan Atika, saat ini mencari layanan bantuan psikologi maupun psikiater sangat mudah didapatkan dan mudah dijangkau karena banyak yang bersifat virtual. Dia juga menjelaskan masyarakat tidak perlu bingung apakah mendatangi psikolog atau psikiater lantaran dua hal tersebut sangat dekat dan bisa saling bekerja sama. Oleh karena itu, masyarakat bisa memilih salah satu dari dua tenaga profesional ini.

“Kalau kita merasa nggak oke, itu sangat oke sekali kalau mencari bantuan. Sekarang layanan juga lebih mudah dan banyak dijangkau karena sifatnya virtual,” papar Atika. (nani mashita)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Khofifah Berharap Jepang Kerjasama dengan RSUD dr. Soetomo

26 Oktober 2021 - 05:36 WIB

Polresta Sidoarjo Gencar Lakukan Vaksinasi dan Prokes Keliling Desa

25 Oktober 2021 - 18:59 WIB

Percepat Vaksinasi, Kapolresta Sidoarjo Keliling Desa

24 Oktober 2021 - 20:09 WIB

Hari Dokter Nasional 2021, Khofifah Kirim Tumpeng ke Para Dokter RS

24 Oktober 2021 - 17:07 WIB

Ketua DPD RI Sambut Baik Vaksin untuk Anak-anak

24 Oktober 2021 - 12:10 WIB

Siswa di Kediri Terpapar Covid-19 saat PTM, Ketua DPD RI Minta Daerah Lain Antisipasi

23 Oktober 2021 - 05:23 WIB

Trending di Kempalandok