SURABAYA – KEMPALAN : Perubahan kebiasaan akibat pandemi Covid-19 membawa gangguan psikologis tersendiri, yang disebabkan munculnya kesulitan berdapatasi dengan gaya hidup baru. Oleh karena itu, perlu dilakukan deteksi dini atas gangguan psikologi agar tidak berkembang menjadi lebih buruk.
Dosen bidang Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Atika Dian Ariana, S.Psi., M.Sc menerangkan bahwa gangguan fisik yang arahnya psikosomatis, lebih disebabkan karena budaya kolektif masyarakat Indonesia yang menyebabkan mereka malu mengakui bahwa diri sendiri punya keluhan terkait gangguan psikologis. Layanan SEJIWA, platform penyedia konsultasi psikologi, juga melaporkan bahwa banyak kasus seperti gangguan kognisi, gangguan emosi dan afeksi, gangguan perilaku, serta gangguan psikosomatis yang dialami oleh masyarakat Indonesia selama pandemi ini.
“Jadi, (gangguan, Red) fisik itu merupakan manifestasi dari beberapa perasaan emosi yang dirasakan,” katanya, Rabu (13/10).
Dia pun menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan psikologis, yang bisa dilakukan kalangan professional maupun nonprofessional. Hal ini merupakan bentuk tanggung jawab memperhatikan lingkungan dan peka terhadap perubahan emosi orang-orang terdekat. “Kalau bicara deteksi dini bisa dilakukan oleh siapapun termasuk mereka yang nonprofesional tapi dekat atau yang punya kedekatan relasi gitu,” tegas Atika.

Berbagai perubahan yang dimaksud, misalnya menarik diri secara sosial, menurunnya motivasi untuk mengerjakan hal-hal yang bahkan dulu merupakan hobi mereka, serta perubahan emosi yang ekstrem. “Sebagai orang yang nonprofesional, kita bisa kok mendekati, mendengarkan, serta memberi perhatian. Banyak orang yang cukup terbantu dengan dukungan awal yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya seperti kita menyediakan diri untuk menjadi teman curhat,” jelas Atika.
Namun demikian, Atika menegaskan bahwa jika perubahan-perubahan perilaku yang dialami cenderung menetap dan bahkan membahayakan diri sendiri serta orang lain, maka sudah seharusnya untuk mencari bantuan profesional. “Itu hukumnya wajib ya kalau yang mulai menunjukkan perilaku demikian,” tegas Kepala Program Studi S1 Psikologi Fakultas Psikologi UNAIR ini.
Dikatakan Atika, saat ini mencari layanan bantuan psikologi maupun psikiater sangat mudah didapatkan dan mudah dijangkau karena banyak yang bersifat virtual. Dia juga menjelaskan masyarakat tidak perlu bingung apakah mendatangi psikolog atau psikiater lantaran dua hal tersebut sangat dekat dan bisa saling bekerja sama. Oleh karena itu, masyarakat bisa memilih salah satu dari dua tenaga profesional ini.
“Kalau kita merasa nggak oke, itu sangat oke sekali kalau mencari bantuan. Sekarang layanan juga lebih mudah dan banyak dijangkau karena sifatnya virtual,” papar Atika. (nani mashita)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi