Banteng vs Celeng

waktu baca 6 menit
Ganjar Pranowo dan Puan Maharani (kempalan)

KEMPALAN-Sapi liar disebut banteng, babi liar dinamakan celeng. Sapi yang dipelihara dan diternakkan lebih jinak, sementara banteng lebih bebas dan trengginas karena hidup di alam bebas. Babi yang dipelihara dan diternakkan biasanya disembelih untuk konsumsi manusia, dan celeng yang hidup di alam bebas harus diburu dan dikejar untuk bisa ditangkap karena lebih gesit dan kencang.

Pendukung PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) identik dengan sebutan banteng. Atribusi ini dianggap lebih gagah dan berkonotasi perlawanan, karena banteng adalah hewan bebas yang tidak mudah ditundukkan dan dijinakkan.

Gambar banteng identik dengan PDIP. Banteng sudah menjadi identitas dan trade mark partai itu. Setiap kali orang melihat gambar banteng asosiasinya langsung menyambung dengan PDIP. Itu kalau mereka berbicara mengenai politik. Tapi, kalau berbicara mengenai minuman suplemen, gambar banteng identik dengan produk minuman suplemen, yang biasanya diminum konsumen kalangan menengah ke bawah.

Sebutan banteng disandang dengan gagah dan bangga oleh kader PDIP. Meskipun konotasinya liar dan suka serudak-seruduk, tapi banteng dianggap sebagai simbol perlawanan. Logo banteng sudah melekat dengan partai nasionalis sejak masa awal kemerdekaan,. Ketika itu Ir. Sukarno mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dengan logo kepala banteng dalam bingkai segitiga. Partai ini langsung menjadi pemenang pemilu 1955 bersama partai Islam, Masyumi.

Pada era Orde Baru PNI dipereteli dan demerger dengan partai nasionalis lain menjadi Partai Demokrasi Indonesia (PDI), logo banteng tetap menjadi identitas. Setelah Orde Baru bubar dan muncul era reformasi, PDI menjelma menjadi PDI Perjuangan dan tetap mempertahankan logo banteng. Bedanya, banteng PDIP berada di dalam lingkaran dan terlihat lebih gemuk dibanding sebelumnya.

PDIP identik dengan partai perlawanan, karena Ketua Umum Megawati Soekarnoputri berani melawan kekuatan Orde Baru di bawah Soeharto. Banteng-banteng dianggap sebagai simbol yang berani mendobrak kekuasaan otoritarian. Dan sekarang, ketika PDIP berbalik menjadi pertai penguasa, banteng-banteng menjadi pendukung utama yang selalu tangkas dan sering beringas menyeruduk lawan-lawan politiknya.

Sebaliknya, di kalangan para pendukung PDIP ada sebutan celeng untuk menjuluki para kader yang membelot dan tidak taat terhadap garis partai. Para kader pembelot itu biasanya menjadi ‘’outcast’’ orang terusir yang dikeluarkan dari partai.

Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul, Ketua Badan Pemenangan DPP PDIP, menyebut istilah celeng untuk menggambarkan kader-kader PDIP yang menentang kebijakan partai. Pacul menyebut celeng untuk menyindir kader PDIP yang mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar Pranowo untuk maju dalam pemilihan presiden 2024.

Seorang pengurus inti PDIP di Sukoharjo Jawa Tengah ikut mendeklarasikan dukungan terhadap Ganjar dalam deklarasi Seknas Ganjar Indonesia (SGI), Sabtu (9/1). Bambang Pacul dengan tajam menyebut kader itu bukan banteng tapi celeng.

Gerakan para celeng pendukung Ganjar itu makin hari bukan makin sepi, tapi malah makin ramai dan berani. Dukungan terhadap Ganjar melalui pembentukan sekretaris nasional (seknas) pusat di Jakarta, menggelinding bak bola salju ke beberapa daerah di Indonesia.

NEXT: Megawati…..

BACA LAINNYA

Azan Ganjar

Kempalan News
0

Pengkhianat

Kempalan News
0
0
0
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *