Megawati Soekarnoputri mengancam para banteng itu akan dipecat dan dicelengkan kalau membelot. Ganjar sendiri sudah diancam langsung oleh Mega, kalau sampai berani mendeklarasikan diri maju sebagai capres 2024, Ganjar akan langsung dicelengkan.
Ancaman dan gertakan ini tidak sepenuhnya mempan. Ganjar memang tiarap tidak melawan. Tapi dengan tiarap bukan berarti Ganjar diam tidak bergerak. Ganjar merangkak dalam tiarapnya. Ia terus berjalan, dan diam-diam berlari-lari kecil ketika tidak diawasi. Buktinya, elektabilitas dan popularitas Ganjar stabil di posisi tiga besar dalam setiap survei yang diadakan berbagai lembaga.
Beberapa survei terbaru menunjukkan posisi Ganjar masih bertahan dua digit bersama Prabowo Subianto dan Anies Basweda. Sementara Puan Maharani, putri mahkota yang digadang-gadang oleh sang ibunda untuk maju pada pilpres 2024, masih tetap macet di posisi bawah, dengan perolehan angka nol koma atau satu koma.
Berbagai cara dan upaya sudah dilakukan untuk mendongkrak dan mendorong Puan. Baliho-baliho sudah dipasang di seluruh Indonesia. Proteksi penuh sudah diberikan oleh partai dan ibunda. Ancaman keras sudah dilontarkan kepada kader yang berani membelot, tapi toh Puan tetap macet di papan bawah.
Ibarat klasmen kompetisi sepak bola, Puan berada di zona degradasi dan sangat sulit untuk bisa diselamatkan. Seperti logo PDIP yang menggambarkan sapi gemuk dalam lingkaran, sulit dan berat sekali mendorong Puan untuk bisa naik ke papan tengah, apalagi papan atas.
Bambang Pacul tetap yakin bahwa pada saatnya nanti Puan masih bisa didorong. Maklum, Pacul memang pendukung berat Puan. Tapi, bagi kader banteng yang lain, bahan baku Puan dianggap sulit untuk diolah menjadi paket yang layak jual. Karena itu, banyak kader banteng yang nekat menyebarang ke Ganjar dan berani mengambil risiko dicelengkan.
Munculnya celeng di kandang banteng bukan fenomena baru. Sudah banyak kader banteng yang membelot dan memilih menjadi celeng dan mendirikan partai baru. Eros Djarot adalah orang dekat Megawati yang menemaninya dalam perjuangan melawan Orde Baru. Belakangan, setelah PDIP lahir dan menjadi partai besar, Eros merasa kecewa terhadap partai. Eros pun mengundurkan diri pada 2002.
Eros kemudian membentuk Partai Nasionalis Bung Karno (PNBK) yang kemudian diubah menjadi Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan. Para kader banteng pendukung PNBK langsung dipecat dan dijadikan celeng. Partai ini sempat tumbuh lumayan besar di beberapa daerah, tapi kemudian menghilang dan mati.
Kader banteng Roy BB Janis juga membelot dan mendirikan Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) pada 2005. Tapi, partai itu layu sebelum berkembang dan kemudian mati. Logo PDP lebih terlihat seperti sapi kurus yang tinggal tulang belulang, berbanding terbalik dengan sapi gemuk yang menjadi logo PDIP.
Salah satu kader terbaik PDIP yang membelot adalah Sophan Sophiaan. Ia politisi cum aktor andal. Reputasinya bersih dan jujur. Sama dengan Eros Djarot, Sophan membelot dan mengritik keras kepemimpinan Mega. Bedanya dengan Eros, Sophaan tidak membentuk partai baru. Ia memilih mengundurkan diri.
Itu hanya sebagian saja dari kisah para banteng yang beralih rupa menjadi celeng. Persaingan internal partai selalu mewarnai kiprah parpol di mana pun. Partai-partai yang punya ideologi sama justru bersaing lebih keras. Sebelum bersaing dengan partai yang beda ideologi, partai-partai itu harus bersaing dengan partai yang berideologi sama.
NEXT: PDIP pernah …

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi