Buku ini sudah diterjemahkan kedalam 12 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Buku ini menjadi bacaan wajib di hampir semua universitas terkemuka di Asia. Universitas terkemuka di Eropa dan Amerika—termasuk Universitas Harvard– juga menjadikan buku ini sebagai referensi wajib.
Sebelum menulis buku ini, Mahbubani terlebih dahulu menerbitkan buku berjudul ‘’Can Asian Think?’’ (1998). Buku ini sangat provokatif dan kritis dalam memperbandingkan peradaban Asia dan Barat. Peradaban Asia sudah jauh lebih maju dari Barat pada milenium pertama sejarah dunia. Tapi, pada abad ke-19 Asia berbalik ketinggalan jauh dari Barat, dan malah menjadi wilayah jajahan Barat.
Banyak kelemahan cara berpikir orang Asia yang disorot Mahbubani. Kelemahan berpikir itu dianggap sebagai titik lemah yang menjadikan peradaban Asia inferior ketika berhadapan dengan Barat. Tetapi, Mahbubani mengingatkan bahwa pada milenium kedua sekarang ini tanda-tanda kebangkitan kembali Asia sudah mulai tampak jelas. Asia, kata Mahbubani, siap bangkit untuk merebut kembali kejayaan yang hilang.
Pemikiran Mahbubani yang cemerlang membuatnya dianggap sejajar dengan sejarawan besar Arnold Toynbee. Mahbubani juga disejajarkan dengan sosiolog besar Max Weber. Para pemikir besar dunia seperti Prof. Samuel Huntington mengakui kehebatan Mahbubani.
Dengan kredensial yang sangat mentereng seperti itu Mahbubani akan menjadi perhatian dunia ketika berbicara mengenai apa pun. Karena itu pula pernyataannya mengenai Jokowi sebagai presiden jenius segera menjadi heboh.
Analisis Mahbubani disampaikan dalam tulisan berjudul ‘’The Genius of Jokowi’’ yang tayang pada 6 Oktober 2021 pada Project Syndicate, sebuah media nirlaba yang fokus pada isu-isu internasional. Mahbubani mengatakan bahwa Jokowi telah menjadi pemimpin yang layak mendapat pengakuan atas keberhasilannya dalam memimpin Indonesia. Jokowi, kata Mahbubani, membangun model pemerintahan yang bisa dipelajari oleh para pemimpin dunia.
Mahbubani mengatakan bahwa saat ini banyak negara demokrasi yang memilih ‘’con man’’ atau penipu sebagai pemimpin, yang menyebabkan negaranya terpecah belah. Mahbubani menyebut Amerika di bawah Donald Trump dan Brazil di bawah Jair Bolsonaro sebagai contoh.
Dalam hal ini, Mahbubani memuji Jokowi layak mendapat pengakuan dan penghargaan yang lebih luas, karena dianggapnya berhasil mempersatukan Indonesia dari keterpecahan politik.
Mahbubani menyebut capaian Jokowi dalam menjembatani keterpecahan politik di Indonesia lebih baik dari apa yang dicapai Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, yang belum bisa mengatasi perpecahan sampai sekarang.
Mahbubani membandingkan, hampir satu tahun setelah Joe Biden memenangi pemilihan Presiden pada 2020, 78 persen dari Partai Republik masih tidak percaya dia terpilih secara sah. Biden menjabat sebagai senator AS selama 36 tahun, tetapi dia tidak dapat menyembuhkan perpecahan partisan Amerika.
Next: Di Indonesia…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi