Kamis, 4 Juni 2026, pukul : 03:23 WIB
Surabaya
--°C

Jokowi Jenius

Di Indonesia, kata Mahbubani, capres dan cawapres yang dikalahkan Jokowi dalam pemilihannya kembali 2019–Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno–kini menjadi menteri di kabinetnya. Jokowi juga disebut berhasil membalik kekuatan politik islamis menjadi lebih inklusif. Mahbubani menyebut Jokowi telah menetapkan standar baru dalam pemerintahan Indonesia. Hal inilah yang, menurutnya, membuat negara demokrasi lain iri.

Sepanjang artikelnya, Mahbubani hanya memuja-muji Jokowi dan sama sekali tidak memberikan pandangan kritis terhadap kebijakan Jokowi. Sebagai ilmuwan top internasional pandangan Mahbubani ini terasa lebay. Karena itu ada yang meledeknya sebagai anggota buzzer internasional.

Ada juga yang menyebut Mahbubani sengaja berbuat demikian supaya Indonesia tetap terpuruk di bawah Jokowi. Indonesia adalah potensi kekuatan besar di Asia Tenggara. Kalau Indonesia bangkit, Singapura pasti akan terlibas.

BACA JUGA  KEAJAIBAN HONDURAS: Monster Baru IFA7 Lahir dari Kampung, Indonesia Kubur Brasil Lewat Drama Penalti!

Hubungan bertetangga Singapura dengan Indonesia tidak selalu mesra. Ketika Habibie menjadi presiden pada 1999, Singapura ketakutan setengah mati. Habibie menyebut Singapura sebagai ‘’the little red dot’’ titik merah kecil yang sering bikin gatal. Singapura takut dan protes terhadap pernyataan itu. Indonesia yang demokratis dan maju secara teknologi di bawah kepemimpinan Habibie, tentu sangat menakutkan bagi Singapura.

Karena itu, Singapura tidak suka terhadap kepemimpinan Habibie, dan secara tidak langsung melakukan manuver politik untuk mengadang Habibie. Kedekatan Habibie dengan kalangan Islam juga makin membuat Singapura ngeri.

Kepemimpinan Indonesia yang otoritarian di bawah Soeharto lebih disukai Singapura. Bahkan politik Singapura di bawah Lee Kuan Yew sangat mirip dengan model kepemimpinan politik Soeharto. Dua orang-orang itu sama-sama berideologi ‘’developmentalism’’ atau pembangunanisme, yang lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi dengan mengabaikan pembangunan demokrasi.

BACA JUGA  HEBOH!: "Ngegas Poll, Bleyer Poll, Keren Poll ‘Jayandaru Vol 1 2026’ Buktikan 2T Bukan Sekadar Kebisingan, Tapi Ekonomi dan Disiplin"

Dua pemimpin ini sama-sama berhasil menumbuhkan ekonomi, tapi dua-duanya juga berhasil mematikan kehidupan demokrasi. Soeharto tumbang karena gerakan reformasi yang kemudian memunculkan kepemimpinan yang demokratis. Singapura, sampai sekarang, masih tetap mempertahankan status quo, dan melanggengkan nepotisme politik dari Lee Kuan Yew ke anaknya, B.G Lee yang sekarang menjadi perdana menteri.

Indonesia dengan wajah Orde Baru tentu lebih aman bagi Singapura. Indonesia dengan wajah neo-Orde Baru seperti sekarang, juga pasti lebih aman bagi Singapura.

Karena itu pantas saja Singapura memakai Prof. Mahbubani untuk memuja-muji Jokowi sebagai presiden jenius. Jenius untuk siapa? Tentu, jenius untuk Singapura. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.