
Oleh: Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan, tinggal di Cirebon
KEMPALAN: Menjadi tua adalah fitrah atau keniscayaan, tetapi tidak dengan menjadi dewasa, karena menjadi dewasa atau identik dengan lebih matang dalam berpikir dan berperilaku, adalah pilihan. Karena ia sebuah pilihan, maka karena pemahaman yang salah tentang arti kedewasaan, sering berujung pada kesalahan dalam mengekspresikannya.
Kedewasaan itu sesuatu yang tumbuh dan matang dari dalam, baik karena pengetahuan yang diserap maupun pengalaman yang dijalani, dan terkadang itu tak selalu terkait dengan usia. Suatu waktu kita menemukan seorang remaja yang dari caranya berinteraksi dengan sesama nampak melampaui usianya. Namun tidak jarang kita menemukan betapa orang yang secara usia sudah tidak muda lagi, tapi sikapnya cenderung kekanak-kanakan ( childish).
Permisalan terakhir inilah yang sering menjadi masalah dan dalam keseharian bisa jadi pertanyaan besar, yaitu jika seseorang yang seharusnya tampil dengan segala atribut yang melekat padanya, apakah dia seorang pendidik, pemuka agama, pejabat pemerintah, tetapi kemudian berkata dan bertindak sama sekali tak mencerminkan jati dirinya.
Dewasa adalah sebuah kepribadian yang didambakan oleh siapapun, bahkan ketika kita menyadari belum mampu sepenuhnya menjadi dewasa, tetap kita merasa berharap dan lebih nyaman jika bertemu atau bersahabat yang amat dewasa. Mengapa?
Karena setidaknya kita bisa belajar banyak hal.
Pribadi dewasa mampu memilah mana yang baik dan buruk, berpikir sebelum bertindak, berbesar hati ketika menerima kritik, melihat sesuatu dari sudut pandang positif, mampu menemukan solusi, mudah mengakui kesalahan serta tidak cenderung selalu menyalahkan, bisa memahami orang lain, tidak haus pujian dan last but not least… tidak mudah tersulut emosinya.
Dari semua kriteria kedewasaan di atas, yang paling fatal dan amat destruktif adalah jika seseorang mudah tersulut emosinya alias mudah marah. Karena ketika seseorang marah, maka pasti dia kehilangan kemampuan mengontrol dirinya, baik kata-katanya, pun lebih jauh kontrol fisiknya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai tiga kali menyatakan Jangan marah:
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Rasulullah , ‘Berilah aku wasiat.’ Kemudian Beliau menjawab, ‘Janganlah engkau marah.’ Lelaki itu mengulang – ngulang permintaannya, (namun) Nabi (selalu) menjawab, ‘Janganlah engkau marah’” (HR. Bukhari).
Dalam hadits lain:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda:
“Janganlah engkau marah, niscaya bagimu surga”.
Ibnu Hajar dalam al-Fath menjelaskan ”Arti perkataan Rasulullah ”jangan marah’ adalah menjauhi sebab-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang mengarah kepadanya.
Disinilah lagi-lagi makna kedewasaan yang sesungguhnya, tetap mampu berpikir tenang, ketenangan ini yang akan menjadikan seseorang sadar pada situasi dan kondisi disekitarnya.
Maka ada pula yang menafsirkan, makna jangan marah tersebut yaitu, bahwa tidak marah adalah pilihan terbaik. Wallahu A’lam.
Juga ada hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,
إِذَا غَضِبَ الرَّجُلُ فَقَالَ أَعُوْذُ بِاللهِ ، سَكَنَ غَضْبُهُ
“Jika seseorang dalam keadaan marah, lantas ia ucapkan, ‘A’udzu billah (Aku meminta perlindungan kepada Allah)’, maka redamlah marahnya.” (HR. As-Sahmi dalam Tarikh Jarjan, 252. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, nomor 1376).
Maka akan menjadi aneh dan kontra produktif jika masih ada yang meyakini bahwa untuk agar kita dihargai dan dianggap berwibawa, kita harus berbicara dengan intonasi keras dan berteriak.
Bahkan kadang disertai pilihan kata yang kasar dan cenderung bersifat memaki, menista, membuli.
Sangat mungkin, pilihan ini karena yang bersangkutan merasa terancam kewibawaannya atau malah seperti saya sebut di atas, justru ini untuk meraih kewibawaan.
Menyedihkan, apalagi jika dia notabene seorang pemimpin, karena pada seorang pemimpin seharusnya melekat leadership, yang salah satu fungsinya adalah memberikan pendidikan melalui keteladanan… dan Keteladanan dimulai dari diri sendiri. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi