MOSKOW-KEMPALAN: Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov berkata dalam Sabtu (25/9) bahwa AS harus lebih aktif dan lebih berperan dalam rangka mengaktifkan kembali upaya perjanjian nuklir dengan Iran.
“Sepertinya AS harus lebih aktif terlibat dalam kaitannya menyelesaikan semua permasalahan Iran” ucap Lavrov pada Sidang Majelis Umum PBB.
Ia juga menambahakn bahwa negosiasi antara Iran, Rusia, Tiongkok, Prancis, Britania Raya dan Jerman akan berlanjut dalam waktu dekat ini terkait permasalahan proliferasi nuklir Iran.
Melihat dari runtut kejadiannya, Iran menarik diri dari semua perjanjian internasional nuklir yang ada setelah AS dibawah Donald Trump memberikan sanksi kepada Iran pada tahun 2018. Kemudian juga AS menarik diri dari semua perjanjian yang ada dan membuat semua perjanjian yang ada menjadi tampak sia-sia. Terlebih lagi dengan adanya pembunuhan Qaseim Soleimani, Iran menjadi semakin “Nakal” dengan nuklirnya.
Upaya menghidupkan kembali perjanjian nuklir dengan Iran telah mulai ada sejak awal Juni 2021 namun terys diundur ketika adanya pemilihan di Iran. Kemudian pada awal September silam, Iran sudah mulai melunak karena berjanji untuk dapat kooperatif dengan IAEA atau badan PBB yang mengurusi nuklir dan tenaga atom.
Lavrov mengatakan bahwa Iran tidak lagi memenuhi semua perjanjian yang ada. Ia juga mengatakan bahwa sanksi yang diberikan kepada Iran berdampak besar terhadap semua negara yang secara legal memiliki relasi dengan Iran.
“Sanksi tersebut harus diangkat dan dianulir sebagai bagian dari perbaikan perjanjian nuklir dengan Iran. Iran seharusnya tidak harus menderita berkat adanya tindakan sepihak dari AS” ucap Lavrov.
Dalam kampanye Biden, ia mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha memasuki kembali semua perjanjian nuklir yang ada. Namun hingga saat ini, belum nampak secara jelas janji kampanye Biden. (GlobalTimes, Muhamad Nurilham)
Editor: Rafi Aufa Mawardi

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi