Pada abad ke-18 para dokter di Eropa menemukan obat untuk menyembuhkan lepra, sehingga penyakit ini bisa dikendalikan dan penderitanya semakin sedikit. Pusat isolasi di rumah sakit yang sudah kadung dibangun harus tetap terisi. Harus tetap ada orang-orang dikucilkan dan disingkirkan, supaya bangunan-bangunan pusat isolasi itu tetap ada isinya.
Maka kemudian orang-orang yang punya perilaku jiwa menyimpang dibawa ke rumah isolasi untuk mengganti para penderita lepra. Orang-orang yang disebut gila itu menjadi bagian dari skenario peradaban untuk meneguhkan identitas angtara orang waras dengan orang gila yang punya perilaku menyimpang. Rumah sakit jiwa menjadi penanda peradaban modern yang waras.
Orang-orang modern yang sibuk setiap saat sampai tidak punya waktu berkumpul dengan keluarga, disebut sebagai orang yang waras. Orang yang punya ambisi kekuasan yang meluap-luap sampai menghalalkan segala cara dianggap sebagai orang waras. Publik menganggap perilaku itu bukan sebagai penyimpangan, tapi sebagai hal yang lumrah.
Orang yang hidup eskatis, zuhud, menolak harta, malah disebut sebagai tidak waras. Orang yang menolak kekuasaan dan tetap memilih menjadi rakyat jelata disebut sebagai tidak waras. Ukuran gila dan waras menjadi jungkir balik di abad milenial ini.
Focault mengatakan, orang gila sudah tidak ada sekarang ini, tapi kegilaan kolektif sekarang terjadi setiap hari di sekitar kita. Untuk melanggengkan kekuasaan dilakukan manipulasi dengan melakukan amandemen terhadap undang-undang untuk memperpanjang periode kepresidenan.
Mereka yang melakukannya pasti bukan orang gila. Mereka orang waras. Ratusan orang yang berkumpul di gedung mewah dan digaji tinggi ratusan juta rupiah sebulan itu bukan orang gila, tapi, menurut Foucault, perilaku mereka adalah perilaku gila kolektif.
Isolasi terpusat maupun isolasi mandiri yang dijalani di masa pandemi oleh manusia di seluruh dunia sekarang ini, sama dengan isolasi yang dilakukan terhadap penderita lepra di abad ke-17. Setelah pandemi ini berakhir, isolasi masal maupun mandiri tetap akan terjadi. Rayat dan masyarakat luas akan tetap terisolasi dari proses demokrasi, sehingga keputusan-keputusan penting hanya diambil oleh segelintir anggota oligarki.
Para anggota oligarki ini adalah orang-orang yang masuk dalam kategori ODGJ alias ‘’orang dungu gila jabatan’’. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi