Sabtu, 25 April 2026, pukul : 05:39 WIB
Surabaya
--°C

Neo-Taliban Beda dengan Taliban 1996

SURABAYA-KEMPALAN: Kelompok Taliban yang sekarang menguasai Afghanistan mempunyai karateristik yang berbeda dengan Taliban yang pernah berkuasa di Afghanistan pada 1996. Taliban baru, atau Neo-Taliban, sekarang lebih siap membentuk pemerintahan yang inklusif yang melibatkan banyak faksi di Afghanistan.

Pendapat ini disampaikan oleh pengamat internasional Dr. Shofwan Al Banna Choiruzzad Sabtu (4/9), dalam diskusi daring ‘’Deadline’’ bertema ‘’Taliban Effect bagi Asia Tengah dan Indonesia’’ yang diselenggarakan oleh forum Jurnalis Muslim Jawa Timur.

Keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan dengan memasuki ibukota Kabul Agustus lalu, sebenarnya sudah diprediksikan sejak lama. Amerika Serikat sendiri sudah memprediksi bahwa Taliban akan menguasai Afghanistan setelah penarikan mundur pasukan Amerika. ‘’Tetapi, ternyata kemenangan Taliban terjadi lebih cepat dari yang diprediksikan,’’ kata Shofwan.

Dalam perhitungan para ahli strategi internasional, Taliban akan menguasai Afghanistan beberapa bulan setalah Amerika menarik pasukannya. Tetapi, kenyataannya Taliban sudah bisa menguasai Afghanistan sebelum Amerika selesai menarik pasukan dari Afghanistan. Perkembangan ini membuat terkejut para pengamat politik internasional.

Menurut Shofwan, Amerika sudah mempersiapkan diri untuk menarik pasukan dari Afghanistan, karena menganggap perang di Afghanistan sebagai ‘’unwinnable war’’, perang yang tidak bisa dimenangkan. ‘’Amerika punya pengalaman buruk dengan kekalahan di Vietnam, karena itu Amerika tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama,’’ kata Shofwan yang mengajar di jurusan Hubungan Internasional Universitas Indonesia.

Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyebut penarikan pasukan Amerika sebagai pengakhiran terhadap perang abadi atau the end of forever war. Selama 20 tahun berada di Afghanistan Amerika sudah menghabiskan puluhan miliar dolar. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlangsung terus-menerus, dan mau tidak mau Amerika harus menarik mundur pasukannya.

Kekalahan Amerika ini membuktikan kebenaran adagium bahwa Afghanistan adalah ‘’kuburan kekaisaran besar dunia’’ atau ‘’the graveyard of empires’’. Sebelum Amerika, pasukan Uni Soviet juga sudah pernah menduduki Afghanistan pada 1979 dan mendirikan rezim komunis di bawah Presiden Babrak Karmal.

Ketika itu, penasihat keamanan Amerika Serikat, Zbigniew Brzezinski mengatakan bahwa Uni Soviet akan mengalami kekalahan yang memalukan di Afghanistan. ‘’Let’s give them their Vietnam’’, kata Brzezinsk. Uni Soviet akan mendapatkan kekalahan sebagaimana Amerika kalah di Vietnam.

Pasukan Soviet bertahan selama 10 tahun dan menarik diri pada 1989. Setelah ditinggal Uni Soviet pemerintahan komunis Babrak Karmal jatuh, dan Taliban berbuasa pada 1996. ‘’Ketika itu situasi Afghanistan penuh dengan kekacauan, dan Taliban menerapkan hukum Islam yang ketat untuk memberi ketenangan,’’ kata Shofwan.

Pasukan Amerika kemudian masuk ke Afghanistan pada 2001 dan mengusir Taliban setelah terjadinya pengeboman WTC New York pada 11 September 2001. Pasukan Amerika membentuk pemerintahan di bawah Presiden Hamid Karzai dan kemudian dilanjutkan oleh Ashraf Ghani.

Dua pemerintahan itu tidak berhasil memberikan kedamaian dan kemakmuran. Akhirnya Amerika memutuskan untuk mundur, karena melihat situasi yang tidak mungkin dimenangkan. Pasukan Taliban dengan cepat masuk ke Kabul dan secara de facto menguasai seluruh Afghanistan.

Seluruh dunia sekarang melihat ke Afghanistan untuk memantau perkembangan kekuasaan Taliban. Menurut Shofwan, generasi baru Taliban sekarang akan banyak belajar dari kesalahan di masa lalu, dan akan lebih inklusif dalam membentuk pemerintahan baru. ‘’Generasi baru Taliban ini akan lebih mampu reaching out dan melibatkan faksi-faksi yang selama ini bersaing di Afghanistan,’’ kata Shofwan.

Mengenai pengaruh kemenangan Taliban bagi kawasan Asia Tengah dan khususnya Indonesia, Shofwan mengatakan bahwa dalam perkembangan geopolitik internasional seperti sekarang, perkembangan penting di sebuah negara pasti akan membawa dampak pada kawasan di negara itu. ‘’Kalau pemerintahan baru Afghanistan bisa terbentuk secara inklusif dampaknya akan positif bagi kawasan,’’ kata Shofwan.

Bagi Indonesia, kemenangan Taliban tidak perlu direspon dengan emosional, misalnya mengait-ngaitkannya dengan radikalisme. ‘’Sebagai saudara sesama muslim kita berharap Afghanistan menjadi lebih baik di bawah pemerintahan baru,’’ pungkas Shofwan. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.