Senin, 11 Mei 2026, pukul : 08:54 WIB
Surabaya
--°C

Taliban, Bukan ISIS, Bukan Hizbut Tahrir, Bukan KPK

Oleh: Reza Maulana Hikam (Reporter Kempalan)

KEMPALAN: Semenjak Minggu (15/8) sampai Senin (16/8), dunia internasional digemparkan dengan banyaknya berita tentang Taliban (atau yang secara resmi menyebut diri mereka sebagai Emirat Islam Afghanistan) mengambil alih sejumlah provinsi di Afghanistan, sampai dengan ibukota negara Asia Tengah itu, yakni Kabul.

Republik Islam Afghanistan (pemerintahan “resmi”) justru keok ketika menghadapi pasukan Taliban di sejumlah distrik, meskipun beberapa berita di Bakhtar News Agency seperti memperlihatkan tentara Afghanistan berhasil melakukan perlawanan yang berarti. Beberapa bulan yang lalu bahkan ada berita yang memperlihatkan sejumlah pasukan Afghanistan melarikan diri ke Tajikistan, sama seperti yang dilakukan mantan Presiden Ashraf Ghani ketika Taliban sudah mencapai gerbang Kabul.

Di Indonesia, nama Taliban tidak asing karena sempat digunakan untuk menjuluki bagaimana Komisi Pencegahan Korupsi (KPK) memiliki “semangat Taliban”. Kalimat itu memunculkan berbagai teori konspirasi tidak jelas yang menghubung-hubungkan KPK dengan Taliban yang lucunya malah memperlihatkan tokoh Al-Qaeda, bukan Taliban.

Nampaknya, masih ada kerancuan dan ketidaktahuan di kalangan umum maupun khusus mengenai perbedaan sejumlah kelompok militan di luar negeri, semuanya dianggap sama sehingga ada sebuah pengawuran dan opini asal-asalan, terutama mereka yang mendadak menjadi pengamat teroris padahal sebelumnya bicara hal lain.

Poster yang menyambungkan KPK dengan Taliban.

Pertama-tama, Taliban bukan merupakan gerakan transnasional, mereka tidak membentuk Taliban di wilayah lain. Lalu bagaimana dengan Taliban Pakistan? Jadi, Taliban Afghanistan seperti yang telah disampaikan di atas, memiliki nama resmi Emirat Islam Afghanistan, sementara di Pakistan, kelompoknya benar-benar menggunakan nama Taliban, yakni Tahreek-e-Taliban. Keduanya adalah dua kelompok yang sepenuhnya berbeda.

Lalu, Taliban memiliki ruang lingkup operasi yang sangat kecil, yakni Afghanistan. Para pendiri Taliban, seperti yang dijelaskan James Fergusson dalam bukunya Taliban: The True Story of the World’s Most Feared Guerilla Fighters bahwa para pendiri Taliban seperti Mullah Muhamad Omar dan Mullah Abdul Salam Zaeef membentuk kelompok tersebut untuk memerangi para warlord (panglima perang) yang menjamur di Afghanistan usai pertarungan melawan Soviet.

Banyak dari anggota Taliban adalah orang-orang yang muak dengan bagaimana para panglima perang ini menguasai wilayah di Afghanistan dengan semena-mena dan membuat negara itu tidak tenang, sehingga aspirasi ini berkumpul menjadi satu dalam Taliban yang berhasil merebut Kabul pada 27 September 1996. Mereka bertahan sebagai penguasa hingga digulingkan pada 2001.

Dua panglima terkenal yang terlibat dalam penggulingan Afghanistan, Atta Mohammad dan Abdul Rashid Dostum memiliki hubungan yang sangat erat dengan Amerika Serikat. Keduanya sudah melarikan diri dari Afghanistan sebelum Ashraf Ghani hengkang.

Jusuf Kalla ketika masih menjadi Wapres bertemu dengan Taliban.

Berbeda dengan ISIS yang merekrut orang dari berbagai negara untuk bergabung dengan mereka di Mosul, Taliban justru memfokuskan diri pada Afghanistan sendiri dan selalu menyuarakan bahwa permasalahan negaranya hanya bisa diselesaikan oleh penduduk Afghanistan sendiri. Mereka sempat memiliki hubungan dengan Al-Qaeda, namun menurut Perjanjian Doha 2020 antara Taliban dan Amerika Serikat, mereka siap untuk memutus hubungan dengan organisasi teroris internasional yang menyebabkan 9/11 itu.

Dalam pemberitaan pada 10 Maret 2020 yang dimuat di France24, Jenderal Kenneth McKenzie yang pada saat itu menjadi kepala Pusat Komando AS menyampaikan bahwa militer AS mendukung operasi Taliban untuk memukul mundur ISIS di Provinsi Nangarhar. Ia bahkan mengatakan bahwa Taliban melakukannya dengan sangat efektif dan menunjukkan kemampuan dalam melawan organisasi teroris yang dideklarasikan di Mosul itu.

Kenneth Yeo, Analis Riset dari S. Rajaratnam School of International Studies menyampaikan bahwa memang ada pertarungan antara Islamic State Khorasan/ISK (cabang ISIS di Afghanistan) dengan Taliban. Adapun Taliban masih mau melakukan perundingan dengan pemerintah Amerika Serikat, dibandingkan dengan ISK.

Jadi, apabila ada yang menyamakan Taliban dengan ISIS, maka mereka tidak berbasis data dan hanya berhalusinasi tanpa mendalami isu yang sebenarnya ada.

Sementara itu, Taliban tidak memberi ancaman dalam waktu maupun jarak yang dekat dengan Indonesia, karena model mereka sebagai sekedar organisasi nasional dan tidak melakukan perekrutan foreign fighters, terlepas memang ada sejumlah petarung yang berasal dari Pakistan (bergabung bukan direkrut).

Kunjungan Taliban ke PBNU.

Taliban juga tidak bisa disamakan dengan Hizbut Tahrir, karena mereka tidak membawa isu khilafah, dan lebih memilih menggunakan istilah “emirat” (seperti Uni Emirat Arab). Mereka lebih menekankan pemerintahan Afghanistan yang Islami namun tidak pernah menyampaikan atau menggunakan istilah “khilafah” berbeda dengan ISIS dan HT.

Ditambah lagi, Taliban pernah berkunjung ke Indonesia pada tahun 2019 yang mana perwakilannya dipimpin oleh Mullah Abdul Ghani Baradar yang sekarang menjadi Kepala Kantor Politik Taliban di Doha, Qatar. Ketika sampai di Jakarta, menurut plt jubir Kemlu RI saat itu, Teuku Faizasyah, mereka diterima secara informal oleh Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat wakil presiden.

Tidak hanya bertemu dengan JK, Taliban juga berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU). Sejumlah delapan orang perwakilan Taliban diterima dan disambut oleh K. H. Said Aqil Siradj selaku ketua PBNU bersama jajaran pengurusnya.

Tidak seperti Al-Qaeda dan ISIS, Taliban masih mau untuk bertemu dengan kelompok lain, maka dari itu Taliban kerapkali disebut sebagai “militant group” atau kelompok militan ketimbang “terrorist group” seperti yang umumnya disematkan kepada kedua kelompok lainnya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.