Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 17:13 WIB
Surabaya
--°C

BPJS, Sedikit demi Sedikit Lama-lama Menjadi Sedikit

Bambang Budiarto

KEMPALAN: Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Begitulah peribahasa dulu di sekolah dasar yang diajarkan oleh Ibu/Bapak Guru kita. Diwariskan ke kita untuk dapat dipahami bahwa di dunia ini tidak ada yang instan, semua perlu proses semua perlu perjuangan. Dari yang kecil dari sedikit, jika dilakukan dengan tekun dan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang baik, menjadi banyak menjadi sebuah kesuksesan. Begitulah kira-kira peribahasa ini dimaknai, sebagai sebuah pelajaran dan semangat untuk berkarya lebih baik dan lebih tekun.

Namun, minimal dalam 2-3 menit sampai selesainya membaca tulisan ini, jangan percaya dengan peribahasa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit ini. Percayalah dengan pemahaman bahwa sedikit demi sedikit lama-lama menjadi sedikit. Bukan sebuah ingkar dan perlawanan terhadap ajaran para pahlawan tanpa tanda jasa di sekolah dasar, tapi coba melihat dari sudut yang berbeda.

Memutar kembali statistik kepesertaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, di awal 2021 jumlahnya mengalami penurunan. Dikatakan Menteri Tenaga Kerja di angka 51,75 juta jiwa yang berarti mengalami penurunan 4,9% (year-on-year/yoy) dibanding tahun sebelumnya di bulan yang sama yang sebesar 54,45 juta orang. Ironinya penurunan ini terjadi di seluruh jenis program yang dikelola; Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKm), Jaminan Pensiunan (JP), dan Jaminan Hari Tua (JHT).

Sebelumnya, sampai akhir 2019 semua program masih mencatatkan tren positif. Pandemi Covid-19, adalah kambing hitam yang tepat untuk dikedepankan. Sampai Pebruari 2021, Badan Pusat Statistik juga mencatat bahwa terdapat sebanyak 19,10 juta pekerja telah terdampak pandemi Covid-19.

Segala bentuk tekanan ekonomi di masa pandemi menjadikan banyak perusahan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. Situasi  yang demikian pastinya berakibat kepesertaan di program jaminan sosial turut berpengaruh. Di sisi yang lain, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan pada pekerja mandiri juga mengalami hal yang sama, kesulitan bayar iuran. Pemutusan Hubungan Kerja, boleh dimaknai akhirnya tidak bekerja dan pada gilirannya tidak mempunyai pendapatan.

Pendapatan tidak berjalan namun konsumsi tetap berjalan. Pendapatan berhenti namun konsumsi tidak mau diajak berhenti. Fakta inilah yang perlahan tapi pasti menjadikan nilai autonomous consumption makin lama makin tinggi. Konsumsi yang harus dilakukan pada saat pendapatan orang tersebut sama dengan nol. Tentu saja, pos yang harus dihilangkan agar mampu bertahan hidup dengan pendapatan nol adalah segala bentuk iuran, seperti iuran BPJS Ketenagakerjaan ini. Implikasinya tentu saja adalah penurunan kepesertaan BPJS Ketenagatkerjaan ini.

Jumlah kepesertaan masih turun dan turun terus, sepertinya penurunan ini belum akan berhenti sampai akhir 2021. Terungkap dalam Webinar TNP2K Bantuan Subsisi Upah di Masa Pandemi Covid-19, sampai Agustus 2021 kembali terjadi penurunan kepesertaan Program Jaminan Sosial di BPJS Ketenagakerjaan di angka 4,4 juta jiwa.

Begitulah, turun dan turun terus, meskipun penurunannya melandai, tidak tajam. Sedikit demi sedikit, yang semakin lama tentu menjadikan jumlah kepesertaan BPJS menjadi sedikit. Begitulah BPJS yang sebenarnya adalah sebuah mega agenda pemerintah yang diharapkan terus mengalami perluasan cakupan kepesertaan yang dapat menerobos semua segmen, namun untuk sementara harus bertemu situasi yang sebaliknya, penurunan jumlah kepesertaan. Ironinya, melihat pelan tapi pasti terjadinya penurunan ini, ternyata sampai sekarang belum ada strategi jitu untuk mengatasi hal ini, minimal munculnya solusi alternatif yang ditawarkan untuk menahan agar penurunan tidak terus menerus terjadi.

Agar sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, jumlah kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan naik lagi. Dan bukan sedikit demi sedikit yang lama-lama kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan menjadi sedikit. Pertanyaannya sekarang, untuk obrolan setingkat warung kopi, kira-kira opo yang dapat diusulkan untuk mengatasi hal ini? Salam.

(Bambang Budiarto – Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.