WASHINGTON-KEMPALAN: Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyampaikan pidatonya mengenai permasalahan di Afghanistan. Ia mengatakan bahwa dirinya dan tim keamanan nasionalnya telah mengamati dengan seksama situasi di negara tetangga Pakistan itu.
Biden menyebutkan misi AS di Afghanistan tidak pernah berkaitan dengan pembangunan bangsa atau membentuk demokrasi yang bersatu, melainkan sekedar mencegah serangan teroris ke Amerika. Ia mempertahankan pandangan bahwa kebijakan AS di negara Asia Tengah itu harus dipersempit menjadi penanggulangan terorisme saja.
Baginya, ancaman terhadap Amerika sudah meluas melampaui Afghanistan seraya menyebutkan sejumlah kelompok teroris seperti Al-Shabaab di Somalia, Al-Qaeda di Semenanjung Arab, Al-Nusra di Suriah, ISIS yang berusaha membentuk kekhalifahan di Suriah dan Irak.
“Kami melakukan misi kontraterorisme yang efektif terhadap kelompok teroris di banyak negara di mana kami tidak memiliki kehadiran militer permanen,” tuturnya seperti yang dikutip Kempalan dari pernyataan di situs White House. Ia menambahkan, jika diperlukan, hal yang sama akan diterapkan di Afghanistan juga.
Ia menyatakan bahwa kebijakannya untuk menarik pasukan dari negara Asia Tengah itu diwarisinya dari Presiden Donald J. Trump. Ia hanya memiliki dua pilihan, mengikuti kebijakan itu dan menarik pasukan AS, atau bertahan di sana dan melanjutkan konflik yang kemungkinan akan terjadi puluhan tahun lagi. Biden memilih yang pertama.
Mantan wakil presiden Obama itu juga terkejut dengan cepatnya perubahan terjadi di Afghanistan yang jauh lebih cepat daripada yang diantisipasinya. Militer Afghanistan jatuh, bahkan terkadang tanpa perlawanan.
“Pasukan Amerika tidak bisa dan tidak seharusnya berperang dalam perang dan mati dalam perang yang tidak mau diperjuangkan pasukan Afghanistan untuk diri mereka sendiri,” tambahnya seraya menyebutkan bahwa AS sudah menghabiskan trilyunan dolar untuk mempersenjatai, melatih dan menyediakan perawatan untuk pasukan udaranya, sesuatu yang tidak didapatkan Taliban.
Ia juga mengkritik pemerintah Afghanistan yang gagal melakukan apapun, gagal melakukan sarannya, yaknik bersiap-siap untuk perang saudara dan membersihkan korupsi di dalamnya, Ia bahkan sudah menyarankan agar pemerintah Afghanistan terlibat dalam diplomasi, namun ditolak dan Ashraf Ghani yang pada saat itu masih menjabat presiden, memilih untuk bertarung.
“Saya juga mendesak mereka untuk terlibat dalam diplomasi, untuk mencari penyelesaian politik dengan Taliban. Nasihat ini ditolak mentah-mentah. Ghani bersikeras pasukan Afghanistan akan berperang, tapi jelas dia salah,” ujarnya dalam pernyataan itu.
Namun, nampaknya semenjak awal ketika berkampanye untuk menjadi presiden, Biden sudah menyampaikan bahwa ia akan mengakhiri keterlibatan AS di Afghanistan. Ia mengatakan dirinya tak mau meminta penduduk AS untuk mengorbankan nyawanya lagi dalam sebuah tindakan militer yang seharusnya sudah berhenti sejak lama. (WH, reza hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi