
KEMPALAN: Stasiun Balapan, Terminal Tirtonadi, Taman Jurug. Tiga tembang campur sari ‘hit’ dan ‘ikonis’ dari almarhum Pakde Didi Kempot berlatar belakang destinasi yang cukup melegenda di Kota Solo. Kemegahan 3 karya besar sang maestro yang pernah “meledak” di jamannya ini ternyata oleh sebagian kalangan dinilai masih belum mampu menandingi ‘Bengawan Solo’ nya Mbah Gesang.
Keempat-nya, semuanya memamerkan keindahan penuh kenangan dengan cirinya masing-masing. Dan, ketika yang terdengar adalah bait ‘riwayatmu kini’ tentu saja pikiran akan melayang ke kelok-kelok Bengawan Solo, ‘sedari dulu, jadi perhatian insani’. Begitulah keberadaan Bengawan Solo yang tak pernah lekang oleh waktu. Terus menjadi perhatian umat manusia meskipun jaman telah berganti yang menjadikan Bengawan Solo pun kini mempunyai riwayat yang berganti.
Bengawan Solo riwayatmu kini, jumlah uang beredar (money supply) riwayatmu kini. Keduanya mempunyai peran yang hampir sama dan sekarang serasa mengalami nasib serupa. Secara gampang boleh disebut bahwa Jumlah Uang Beredar (JUB) adalah keseluruhan uang yang berada di tangan masyarakat.
Dalam tataran konsep dasar JUB terbagi-bagi dan terpilah sehingga memunculkan beberapa istilah mulai narrow money, broad money, near money, ada M1 juga M2. Sesuai catatan Bank Indonesia, JUB dalam arti luas (M2) sampai akhir 2020 mencapai Rp 6.900 triliun yang berarti mengalami kenaikan 12,4% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya di 2019 (year on year).
Terkini, sampai akhir semester pertama 2021, JUB tercatat sudah di angka Rp 7.119,6 triliun, terdapat pertumbuhan 11,4% (yoy). JUB di masyarakat tentu saja memerlukan pengaturan agar jumlahnya dapat secara positif bergerak mempengaruhi perekonomian sesuai dengan target dan tujuan yang ditetapkan.
Terciptanya stabilisasi ekonomi melalui stabilitas nilai tukar, berkurangnya ketimpangan atas distribusi pendapatan juga capaian-capaian pertumbuhan ekonomi. Hal-hal yang demikian itulah yang menjadi fokus kajian dalam kaitannya dengan JUB. Keberadaan JUB selalu dikaitkan dengan inflasi, jika JUB berlebih pada tahapan setelahnya adalah rentan akan terjadinya kenaikan harga secara umum.
Situasi yang demikian dampaknya adalah penurunan daya beli, masyarakat menjadi lebih miskin meskipun pendapatan tidak berubah. Di era ’80-an atau sebelumnya, perputaran JUB menjadi sangat penting dan diperhatikan, beberapa pemikir ekonomi moneter sering bersuara, “75% perputaran JUB ada di DKI Jakarta, situasi yang demikian tentu kurang menguntungkan”.
Pernyataan tersebut dapat dimengerti sebab berakibat besaran transaksi atau pergerakan makro ekonomi akan lebih banyak terjadi di wilayah itu saja. Pertumbuhan ekonomi positif akan berputar-putar di DKI Jakarta, dan sulit bergeser ke daerah lain. Tapi, itu dulu, cerita lalu atas begitu dahsyatnya pengaruh JUB dan perputarannya. Kini, seiring perkembangan teknologi di era 4.0 membawa fakta berbeda.
Keberadaan JUB terus dalam pantauan, namun perputarannya sudah tidak murni fisik, uang kartal yang berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Tidak. Format digital payment, e-money, e-wallet, credit card, juga debit card telah “melupakan” keberadaan JUB secara fisik.
Bahkan format yang demikian dimungkinkan mempunyai likuiditas melebihi JUB secara fisik. Begitulah Bengawan Solo, begitu pula-lah JUB, ‘riwayatmu kini’. Ke-dahsyatan kalimat “75% perputaran JUB ada di DKI” seperti tertulis diatas, sepertinya tinggal cerita.
Terlebih di era pandemi dengan WFH dan segala pembatasannya telah menjadikan perkembangan digital payment terbang tinggi ke langit moneter Indonesia. Money Supply, sebagai indikator makro ekonomi akan terus tercatat nominalnya, namun perputarannya sudah berubah di dunia maya.
Bila dicemati lebih jauh sebenarnya fakta ini mampu menjadikan pertumbuhan ekonomi daerah berkembang lebih cepat lagi, karena perputaran uangnya sudah tidak terbatas ruang dan waktu. Bengawan Solo, riwayatmu kini, air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut. Money Supply, riwayatmu kini, namun percayalah, Money Supply tidak akan pernah berakhir sampai disini. Salam. (Bambang Budiarto – Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Dosen Ubaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi