Sabtu, 18 April 2026, pukul : 05:25 WIB
Surabaya
--°C

Dari Peluru ke Perhiasan, Pengrajin Kamboja Buat Pernak-Pernik dari Senjata

PHNOM PENH-KEMPALAN: Di sebuah gang di Jalan Wat Bo yang terletak di Siem Reap Kamboja, ada perusahaan sosial yang mempekerjakan pengrajin lokal yang mengubah selongsong peluru menjadi perhiasan modern. Perusahaan itu bernama Chan Alanka.

Perhiasan yang ada di Chan Alanka dibuat oleh Thorn Chantrea yang berumur 30 tahun. Ia pernah belajar ke pembuat perhiasan asal Inggris, Madeline Green yang juga menjadi pemilik perusahaan Ammo Designs, tempat dimana Chantrea pernah magang. Menariknya, perhiasan yang dibuat oleh perusahaan tidak hanya indah tapi berisikan sejarah negaranya.

Green sendiri mendapatkan inspirasi membentuk Ammo Designs dari praktik daur ulang peluru yang dilakukan orang Kamboja usai konflik selama puluhan tahun. Ia mendirikan perusahaan itu semenjak enam tahun lalu.

Melansir The Phnom Penh Post, proses mengubah selongsong kuningan bekas menjadi perhiasan yang indah membantu memberikan pelatihan magang dalam pembuatan perhiasan, desain dan keterampilan bisnis bagi wanita muda serta bagi orang Kamboja yang kurang beruntung dan cacat.

Pemilik Ammo Designs itu mengatakan bahwa orang Kamboja mulai mendaur ulang peluru semenjak 1990-an. Awalnya, mereka menggunakan bekas-bekas persenjataan perang itu untuk peralatan bertani, namun ide mengenai perhiasan dari peluru muncul ketika seorang perempuan yang bekerja di kamp pengungsian melihat semua alat kreatif yang dibuat oleh orang Kamboja pasca perang.

Logo perusahaan Chan Alanka yang didirikan salah satu mantan karyawan Ammo Designs.

“Dia berasal dari latar belakang desain seperti saya, dan memutuskan bahwa mungkin ada cara positif untuk menyalurkan proses daur ulang kepingan itu. Jadi dia mulai mendesain perhiasan. Itu 25 tahun yang lalu dan dari sana keterampilan itu terus diturunkan,” kata Green.

Green sendiri mulai mengunjungi Kamboja delapan tahun yang lalu dan menetap di kerajaan itu. Ia mendirikan Ammo dan mulai bekerja sebagai desainernya semenjak 2014. Alasan kenapa ia tinggal di Kamboja karena dirinya menemukan rasa kebersamaan di negara Asia Tenggara itu.

Seperti yang diceritakannya kepada The Phnom Penh Post, ia sudah bertahun-tahun bekerja sebagai seorang jauhari di Inggris dan tidak lagi menemukan kreatifitas di sana, namun ia merasa pikiran kreatifnya kembali muncul ketika tiba di Kamboja.

“Kami membuat perhiasan handmade yang positif dan etis, yang pada gilirannya menyediakan lapangan kerja dan swasembada masa depan bagi orang Kamboja yang paling berisiko terdampak kemiskinan dan eksploitasi,” kata Green kepada media tersebut.

Chantrea yang sekarang sudah memiliki perusahaan perhiasannya sendiri belajar banyak selama enam tahun sebagai manajernya. Pada awalnya, ia dipekerjakan sebagai penjual perhiasan di pasar lokal. Setelah mendapatkan cukup ilmu, ia meluncurkan perusahaannya, Chan Alanka pada tahun 2020.

“Saya mempelajari aspek desain untuk membuat koleksi baru, dan saat itulah saya mulai mengembangkan gaya kontemporer saya sendiri. Berkat dukungan [Green], saya sekarang menjalankan bisnis saya sendiri,” tuturnya.

Chan Alanka memperlihatkan hasil pengrajinnya bersama dengan Ammo Designs. Mereka juga menjualnya dengan konsinyasi di sejumlah hotel dan ketika ada acara, seperti di Made in Siem Reap Fair pada Januari 2021 di ibukota Kamboja, Phnom Penh. Semua karya perusahaan itu dibuat oleh saudara Chantrea, Thorn Philit dan dua orang lainnya yang juga pernah di Ammo Designs.

Koleksi anting-anting buatan Chan Alanka. (FB)

Chantrea mengatakan mereka membuat masing-masing bagian menggunakan kuningan dan peluru daur ulang. Untuk semua kait dan tiang anting, mereka menggunakan perak murni. Dan setiap desain dilapisi dengan emas untuk memberikan kilauan ekstra.

Murid Maddy Green itu baru-baru ini memenangkan hibah $3,000 dari Nomi Network Kamboja karena menjadi pengusaha muda Kamboja yang bersemangat dan termotivasi setelah dia mengirimi mereka proposal bulan lalu. Bantuan dana ini bertujuan untuk mengembangkan bisnisnya dan selanjutnya ia akan mendukung dan mengajari lima perempuan pengusaha lainnya.

Dalam penjelasan mengenai dirinya dari brosur penjualannya, Chantrea memiliki ketertarikan dengan geometri dan dia terinspirasi oleh gaya seni Deco yang dapat dilihat dari desain perhiasan yang dibuat oleh perusahaannya.

Green sendiri, yang sekarang sudah di Inggris, merasa sangat bangga dengan Chantrea. Baginya, perempuan Kamboja itu sangatlah kreatif, berbakat, ulet, dan tekun. Ia juga menyatakan perusahaannya akan tetap bekerja dengan penduduk lokal di Kamboja dan mentor internasional untuk membantu pengusaha seperti Chantrea membangun perusahaannya. (TPPP, reza hikam)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.