Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 49)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Hera membuka amplop biru bergaris merah bertulis Kilat tidak pakai khusus. Ada empat lembar kertas surat warna biru muda terlipat di dalamnya. Tangan Hera bergetar membuka lipatan kertas dengan tulisan tangan Larso yang sepertinya tidak stabil, kadang tegak kadang miring. Cermin dari hati yang gundah. Hera mulai membaca dengan seksama.

Jeng Hera,

Kertas surat yang di tanganmu ini adalah sobekan yang kesekian kali, setelah beberapa kali saya gagal melanjutkan. Saat ini, saya menjadi orang yang paling cengeng di dunia. Hilang semangat hidup, hilang harapan yang sudah kutanam dan kupupuk sekian lama, dihempas, dipupus, oleh tangan-tangan yang tidak menghendaki harapanku tumbuh.

Sebenarnya hanyalah masalah yang tidak rumit, tetapi dibuat rumit sehingga menjadi sungguhan rumit. Aku dan kamulah jeng korbannya.

Jeng Hera,

Mohon maaf yang sebesar-besarnya, dengan berat hati saya sampaikan jawaban  PR-mu melalui tulisan di surat ini. Semata-mata karena saya menghormati keputusanmu untuk  tidak menyampaikan secara langsung bertatap muka. Saya tidak tahu apa alasanmu. Padahal saya berharap menyampaikan secara langsung, mungkin saya lebih punya tambahan kekuatan. Tapi alasanmu dan intuisimu yang kuat mungkin lebih baik. Saya manut saja.

Jeng, sebulan setengah setelah pertemuan kita terakhir, kira- kira sebulan kamu berada di desa KKN, saya mudik. Pelan-pelan saya dekati ibu, saya rasan-rasan ke beliau bahwa saya ingin menjalin hubungan dengan jeng Hera secara sungguh-sungguh. Ibu saya menjawab bahwa sebaiknya nanti dirembug dengan paklik-paklikmu saat Arisan Keluarga. Saya kaget kenapa ibu tidak langsung menjawab “iya boleh” kenapa harus dirembug dengan paman-paman. Dan  kebetulan minggunya keluarga besar dari bapak mengadakan arisan keluarga. Tuan rumah arisan adalah paklik Jogya yang dulu saya ikuti dan yang banyak  membantu biaya sekolah adik-adikku. Selesai acara arisan saya dipanggil, mungkin karena ibu atau mas sulung yang mengusulkan acara khusus ini. Di pertemuan itu ada saya, Ibu, mas sulung, mas Santo dan paman-paman yang lain, bahkan paklik Suyatno yang pernah ditahan di Pulau Buru  itupun hadir dari Jakarta.

Jeng, ibu saya hanyalah seorang perempuan yang sederhana cara berpikirnya, seorang ibu yang tangguh mengurus anak-anak yang sejak kecil sudah yatim. Ibuku hanya bisa  mencari nafkah untuk kebutuhan makan sehari-hari. Untuk keperluan besar, seperti biaya sekolah mas-mas dan adik-adik serta masalah memilih jodoh bagi anak-anaknya, ibu harus “taren” berembug dengan adik-adik ipar nya yaitu paman-paman saya sebagai pengganti bapak. Maka dalam hal persoalan hubungan kita, terjadi rapat yang serius. Saya seperti terdakwa dalam sebuah persidangan. Saya ditanya oleh paklik, apakah benar saya ada hubungan dengan putrinya bu Ratmi? Sudah sejauh apa ? Dan apakah saya sudah tahu tentang siapa bu Ratmi? Saya menjawab : tahu sedikit.

Lalu paklik Yatno yang dulu pernah bertemu dengan paklik Jogya di Pulau Buru, saat  kunjungan kerja, diminta oleh paklik Jogya bercerita tentang sejarah keluargamu jeng. Paklik Yatno pun bercerita detail, siapa keng bapak yang juga eks Tapol 65, juga aktifitas ibu di jaman itu. Semua mendengarkan.  Saya tidak kaget dan biasa saja. Lalu saya bertanya kepada beliau-beliau, lantas apa hubungannya sejarah masa lalu dengan hubungan Larso dan Hera?? . Paklik saya yang pejabat itu menjawab, bahwa ada persoalan yang tidak main-main, artinya akan ada persoalan besar yang akan timbul, jika hubungan itu tetap dilanjutkan. Kata Paklik lagi, kami keluarga besar juga memiliki harapan besar kepada Saya. Jika saya nekat melanjutkan hubungan dengan Putrinya mbak Ratmi, akan tidak baik untuk masa depan saya. Kata Palik, saya sangat diharap kelak bekerja dan menjadi pejabat  di Pemerintahan, atau di Perusahaan Milik Negara. Jadi harus bersih lingkungan agar karir lancar tidak terhambat. Lalu kangmasku Sulung pun ikut menimpali:  betul kita semua sudah susah payah membiayaimu dik, harusnya kamu paham. Perempuan lain kan ya masih banyak to yang tidak mambu-mambu.

Hera berlinang airmata, berhenti membaca, tangannya meraih gelas kerongkongannya terasa kering terasa ada yang menyekat. Hera meneguk air putih dalam gelas, mengatur nafas sejenak. Dadanya mulai panas,  lalu ia melanjutkan  membaca.

Jeng, saya hanya bisa menunduk tak bisa berkata-kata. Saya menahan airmata untuk tidak menangis di pertemuan itu.  Paklik saya yang lain turut memberikan pemahaman bahwa saya tidak boleh memandang cinta secara buta, harus rasional dengan perhitungan yang matang, demi masa depan yang lebih baik. Karena, kata mereka, sudah sejak kecil sudah hidup susah jangan ditambahi susah.

Hera mengelus dada, hati Hera seperti tertusuk-tisuk duri. Sebegitunya merendahkan eksistensinya, apakah yang dianggap keberhasilan hidup iu hanya jika seseorang menjadi pejabat?? Hera geram hatinya mengeras, ditepisnya segala rasa sengkring yang menusuk-nusuk. Hera bersumpah ingin membuktikan bahwa dia bisa sukses walau sebagai anakke wong mambu dan selalu menjadi pesakitan. Kenapa orang-orang yang mengaku beriman, berTuhan ternyata justru menuhankan jabatan, tidak percaya bahwa Tuhan punya sejuta pintu  untuk memberikan rejeki bagi makhluk-makhluknya?

Hera melanjutkan membaca dengan kegeraman yang penuh.

Jeng Hera sing tak tresnani,

Yang bikin aku merintih sedih adalah saat ibuku menghiba. “Le manutlah pada nasehat paklik-palikmu tunjukkan rasa baktimu, tidak ada salahnya. Ibu tahu Hera anak yang baik secara pribadi ibu suka, tapi orang tuanya itu bisa menyulitkan langkahmu dan langkah Hera sebdiri, carilah perempuan yang aman tidak ada masalah, kasihani ibumu nak. Paklik-paklikmu seperti itu karena sayang padamu, mereka sebagai pengganti bapakmu, yang turut bertanggung jawab atas hidupmu ”  ibu berkata sambil berderai air mata. Dan maafkan saya ya jeng. Saya menjawab ” njih bu sendiko ”  saya menjawab itu sambil beranjak pergi meninggalkan pertemuan tragis itu.  Sekali lagi saya mohon maaf ya jeng, ternyata saya dituntut ibu saya berbakti pada paklik-paklik saya dengan cara, saya memutus hubungan denganmu. Salahkan saya jeng,  cacimakilah saya jeng, sumpahi saya jeng. Saya berjanji kelak tidak akan menjadi orang tua seperti mereka. Sangat menyakitkan. Tetapi saya harus taat dan berbakti. Karena kasihan  kepada ibu saya.

Sekali lagi maafkan saya jeng. Saya sudah tidak sanggup berkata- kata lagi. Saya menjadi orang yang paling cengeng dan hina di hadapanmu. Semoga jeng Hera mendapatkan pendamping yang lebih segalanya dari saya yang pengecut ini.

Saya akhiri surat ini dengan sejuta doa untuk kebahagiaanmu. Saya tetep menyayangimu jeng sampai akhir menutup mata. Maaf seribu maaf.

Salam sayang – Larso.

Hera menumpahkan tangisnya sepuas- puasnya, sarung bantal menjadi basah oleh airmatanya yang mengalir deras. Hera sedang sendirian di kamar. Dua temannya sedang mudik. Hera merasa menjadi orang yang paling malang dan paling sial di dunia.  Harapan Hera pada sosok teduh yang bikin adem ayem sirnalah sudah. Hera tidak tahu lagi harus menyalahkan kesialan ini kepada siapa, kepada Larsokah, kepada ibunyakah kepada pakliknyakah??  Tidak.  Hera tidak akan menyalahkan kepada mereka sepenuhnya. Dosa terbesar atas peristiwa-peristiwa semacam ini, adalah pemerintah. Ada semacam ketakutan dan mungkin borok yang berusaha disembunyikan oleh pemerintah Orba, dengan mecari penutup dan fitnahan kepada partai besar yang sebenarnya ditakuti, dan harus ditumpas atas dalih peristiwa  G30S.

Tapi alam punya mekanisme tersendiri untuk memberikan keadilan bagi penghuninya.

Hera meratapi nasibnya, tetapi di dalam ratapanya dia mencambuk dirinya agar tegar dan kuat. Jangan sampai nampak lemah. Hera tidak akan menghiba kepada Larso meminta untuk dikasihani, dan memaksa Larso agar tidak mengikuti nasehat sesepuhnya. Tidak. Pilihan Larso adalah sebuah kewajaran. Ini semata-mata agar Hera tidak menaruh dendam kepada Larso.  Walau tidak bisa dipungkuri hati Hera sangat pedih perih seperti tertusuk dan tersayat sembilu. Biarlah, semua ini menjadi catatan sejarah hidupnya. Hera semakin kuat ingin membuktikan bahwa anaknya wong mambu tidak identik dengan keterpurukan, kehinaan atau curahan belas kasihan. Dia justru ingin memberi kehidupan, kasih sayang pada orang-orang sekitarnya.

Hera menata hati dan pikirannya untuk membalas surat ” Bom- Tragis” itu. Hera membayangkan Larso pun sedang tidak enak hati,  kacau pikirannya dab badan panas dingin. Menunggu reaksi Hera atas suratnya.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait