Catatan Abdul Manaf Farid

Memanusiakan Manusia

  • Whatsapp
Arak-arakan jenazah ditandai dengan payung emas di depan kemacetan. (dok/istimewa)
Abdul Manaf Farid, Mahasiswa Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga.

KEMPALAN: Seiring Perkembangan zaman, bagaimana manusia bersikap memanusiakan manusia lain mulai berubah. Banyak hal-hal yang dirasakan oleh warga kota di mana segala sesuatu berjalan berdasarkan profesionalitas, efektifitas dan cepat. Hingga pada akhirnya semua orang lupa bagaimana cara memanusiakan manusia yang baik dan benar. Di kota yang sarat akan hingar-bingar dan hirup-pikup kehidupan semua orang berjalan atas kepentingan diri mereka sendiri hingga simpati dan empati setiap orang kepada orang lain mulai pudar secara perlahan. Pada akhirnya semua orang berjalan di atas sifat apatis mereka sendiri.

Namun, hal tersebut terkadang tidak berlaku pada masyarakat desa. Dengan hidup atas dasar kesederhanaan dan kekeluargaan, terkadang masyarakat desa tidak memahami apa itu apatis. Semua orang hidup berdampingan dengan alam serta memiliki emosi, simpati, dan empati yang tinggi satu sama lain. Setiap orang kota pasti memiliki impian menghabiskan masa tua di perdesaan yang tenang. Mengapa demikian? Karena orang-orang desa dapat memahami betul bagaimana memanusiakan manusia.

Hal tersebut secara tidak sengaja ditemukan dalam suatu perjalanan di jalan raya Warujayeng, Nganjuk. Sebuah fenomena yang tidak akan pernah penulis temukan di daerah kota. Bagaimana warga desa mengarak seorang jenazah yang hendak dibawakan ke tempat peristirahatan terakhir. Namun, bukan tanpa alasan mengapa hal itu unik karena jenazah tersebut di arah di ruas jalan raya yang ramai oleh kendaraan, baik itu sepeda motor hingga bis dan truk besar.

Arak-arakan jenazah ditandai dengan payung emas di depan kemacetan. (dok/istimewa)

Baik dari pengendara yang searah dengan jenazah, tidak ada satupun dari mereka yang mendahului jenazah tersebut. Hal serupa juga terjadi di ruas jalan yang berlawanan, semua kendaraan berhenti menunggu jenazah tersebut melewati para pengendara yang berlawanan. Setelah jenazah itu melewati kendaraan, barulah kendaraan dari arah berlawanan berjalan. Tak lupa juga para pengendara yang dari arah berlawanan memberikan uang sedekah kepada seseorang dari pengarak jenazah. Fenomena unik tersebut akan sangat jarang ditemui pada daerah perkotaan di mana pada umumnya jenazah akan segera dimakamkan menggunakan mobil ambulan yang lebih cepat dan efisien.

Sangat benar apa yang dikatakan oleh Ferdinand Tonnies, di mana Kota dan Desa sangat berbeda pengelompokkan sosialnya. Desa biasanya dikaitkan dengan ikatan yang erat, murni, kuat, alami. Biasanya dasar hubungan yang dimiliki kelompok ini adalah persatuan, rasa cinta, solidaritas yang diperkuat dengan hubungan emosional dan interaksi antar anggotanya atau biasa disebut sebagai Gemeinschaft. Sedangkan kota erat dengan masyarakat urban yang berorientasi pada industri, s istem kekeluargaan dan kekerabatan melemah, tindakan sosial berdasarkan komando dan mengedepankan prinsip efisiensi dengan masyarakat bersifat heterogen serta interaksi sosial bersifat rasional atau biasa disebut sebagai Gesellschaft.

Mungkin beberapa orang menganggap hal ini sebagai hal yang negatif, menimbulkan kemacetan di siang hari yang panas dan tidak efisien. Namun, bagi masyarakat desa ini merupakan tradisi yang harus dilalui dan wujud dari solidaritas tetangga untuk orang yang meninggal dunia. Mereka sangat menghormati orang yang sudah tiada dan diperlakukan sesuai dengan kodrat mausia yang penuh hormat dan rasa cinta. Kehidupan semakin modern, namun tradisi yang memanusiakan manusia seperti ini tidak akan terhenti. (*)

Berita Terkait