Cerbung Prof Budi Santosa PhD & Dra Hersis Gitalaras (Seri 45)

Sebuah Pertaruhan

  • Whatsapp

KEMPALAN: Pulang dari Bandara,  Waluyo, Esti dan Hera kembali ke kosnya masing-masing. Kesedihan Hera begitu dahsyat, hatinya pilu. Dia merasa dirinya berkontribusi atas situasi dan kondisi Danang yang menurut Hera sangat tidak mengenakkan. Hera langsung masuk kamar menumpahkan tangisnya, menutup mukanya dengan bantal. Ada perasaan kesal, geram, nelangsa yang teramat sangat. Nunik dan Endah kaget dan bingung melihat Hera membenamkan wajahnya dan menangis sesenggukan. Mereka menghampiri dipan tempat tidur Hera.

“Kamu kenapa Hera, ada apa? Ribut dengan mas Danang atau kenapa ??”  tanya Nunik sambil mengguncang punggung Hera.

“Iya Her, ada apa, kok seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting?” kata Endah ikut penasaran.

“Mbok coba cerita ada apa, supaya bebanmu ringan dan barangkali kami bisa urun saran”, suara Nunik membujuk.

“Atau menangislah dulu sampai lega,  baru nanti cerita, apa yang terjadi”, tambah Endah.

Dua temannya yang baik itu sangat perhatian tapi mereka tidak tahu sama sekali tentang kondisi ‘permambuan’ Hera. Tangis Hera makin meledak, dua temannya membiarkan. Mereka rela menunggu. Itulah persahabatan anak kos yan sering melebihi persaudaraan. Tidak lama kemudian Hera duduk dan bersuara.

“Aku menjadi seperti orang yang paling bersalah atas terlunta-luntanya nasib mas Danang”,  kata Hera tersedu-sedu.

“Kenapa kamu merasa bersalah?? Emang Danang pergi ke Kalimantan kamu yang nyuruh, atau kamu paksa gitu??” tanya Nunik heran.

“Ya enggak, dia pergi karena maunya dan maunya orang tuanya “,  jawab Hera.

“Lalu kenapa kamu yang merasa bersalah?” kembali Nunik bertanya.

“Karena semua ini kan akibat Danang dekat  denganku. Mungkin juga orang tuanya ingin menjauhkan dariku atau ada rencana lain apa lagi, aku tidak tahu “, sahut  Hera mennyesali diri. Dalam hati Hera, andai pelarangan dengannya itu tidak ada, mungkin Danang sudah kuliah hampir lulus atau sudah jadi guru olah raga, cita-citanya dulu ingin  mengambil program FPOK, Fakultas Pendidikan Olah Raga dan Kesehatan di Solo.

“Berarti itu salah orang tuanya dong bukan salahmu, kamu yang justru ikut teraniaya alibat kekolotan ortunya”, kata Nunik yang cerdas itu.

“Iya, aku yang nggak kenal saja jadi ikut sebel. Jadi orang tua kok nggak bijak ya. Nanti kalau terjadi  apa-apa dengan Danang, baru orang tuanya menyesal”, kata Endah lugas, sedikit emosi.

“Itulah salah satu kekhawatiranku. Jika terjadi sesuatu aku makin ikut merasa bersalah” , kata Hera sendu.

“Ya ngapain ikut merasa bersalah lagi. Doakan saja disana mas danang cepat dapat kerjaan. Syukur-syukur dapat cewek hahaha…. seperti Agung dapat pacar cewek Jepang”, kata Nunik menggoda sambil sedikit tertawa.

“Iya kalau ada apa-apa menimpa Danang, yang paling rugi ya orang tuanya “,  kata Endah yang kesal dengan orang tua Danang.

“Seandainya mas Danang nurut saja apa kata orang tuanya,  tidak cekcok terus, mungkin tidak seperti ini. Hatiku pun ikut tenang tidak perlu risau ikut mikir”, jawab Hera masih dalam kesenduan.

“Jaman sekarang kok ada ya orang tua seperti jaman Siti Nurbaya .Orang tua kolot tidak memberi kemerdekaan anak dalam mencari pendamping hidup. Untung orang tuaku tidak begitu”, kata Nunik.

“Orang tuaku juga tidak begtu”, kata Endah lagi.

“Orang tuaku juga tidak begitu !” sahut Hera mulai tersenyum sedikit protes.

“Ooh berarti inilah masalahnya mengapa Hera sering nyeletuk tidak ingin menikah. Wong sering dibikin mumet sama yang namanya laki-laki!! Hahaha”, Nunik kembali menggoda.

“Wah kasihan dong mas Bagas, kasihan penjaga perpustakaan dan Wardi toko pak Ndut, frustrasi kabeh..Yang ditunggu ternyata nggak butuh wong lanang “, sahut Endah meladeni ucapan Nunik.

Perbincangan sejenak berhenti.  Mereka saling berpandangan.

“Ini sudah sore jelang Maghrib berarti di Palangka Raya jelang Isya. Kira-kira mas Danang sudah sampai belum ya?” tanya Hera lebih kepada dirinya.

“Harusnya sudah, sekarang pasti sedang cari-cari alamat yang dituju”, Nunik berusaha meramal.

“Ya semoga tidak nyasar, setelah ke tempat yang dituju, Danang harus ke kantor Perusahaan janjian ketemu sepupunya. Lanjut naik gethek nyebrang kali gede ke lokasi hutan yang dituju. Sepertinya begitu”, Hera mengira-ira  jalur Danang.

“Aslinya kamu itu sangat menyayangi mas Danang lho Her. Sampai kayak gitu lho kamu pikirkan,” Endah mencoba menyelami jiwa Hera.

“Mbuhlah, aku menyayangi atau aku kasihan. Kalian kalau di posisiku juga akan berpikir begitu.”

“Tapi kami tidak mau punya calon mertua pengatur begitu ,” sahut Nunik cepat.

“Aku juga nggak mau ,” sahut Endah cepat.

“Memang aku mau?” tanya Hera kesal.

“Terserah kamu!!”  kata Nunik dan Endah berbarengan.

Mereka lalu tersenyum.

Hera dalam kesendiriannya. Ya yang bisa dilakukan Hera hanyalah mendoakan keselamatan mas Danang. Bagi dia Danang adalah sebuah kisah pilu. Tidak untuk dimusuhi, ditolak atau ditertawakan, tapi untuk dipahami dan dibantu.

*

Hera sibuk dengan persiapan KKN. Program KKN di Universitanya makan waktu tiga bulan. Selama 3 bulan itu mahasiswa KKN hidup di pelosok desa, menjalankan salah satu aspek dari  Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat. Tri Dharma nomer satu adalah Pendidikan dan Pengajaran, nomer dua Penelitian dan Pengembangan. Saat ini wilayah yang menjadi lokasi KKN adalah daerah pesisir utara Jawa Tengah.  Batang, Pemalang,  Kendal, Demak, Kudus, Jepara, Pati, Rembang, dan Purwodadi.

Pendaftaran KKN sudah dilakukan Hera dengan segala persyaratannya dan tentu salah satu syaratnya adalah uang biaya KKN. Uang itu dipergunakan untuk bayar makan 3 bulan di rumah kepala desa, biaya jaket, transportasi menuju lokasi, transportasi balik dari lokasi ke kampus, dan untuk dana acara- acara kegiatan. Hera sudah mengambil nomer pendaftaran dan menghadiri pengundian pembagian lokasi secara acak. Hera mendapatkan lokasi KKN di kabupaten Jepara.

Hera senang karena Jepara adalah tempat kelahiran ibu kita Kartini. Pahlawan emansipasi perempuan Indonesia. Sebelum hari H pemberangkatan KKN, Hera menulis surat untuk Larso. Dia memberitahukan bahwa selama tiga bulan akan meninggalkan rumah kos dan menyarankan untuk tidak berkirim surat. Dan, dia juga memberitahukan bahwa akan mudik ke desa sebelum berangkat KKN. Hera pun pamit kepada mas Bagas saat terakhir main ke kosnya. Ia juga pamit kepada ibunya dan kakaknya di Jakarta. Demikian pula semua orang- orang yang dianggap perlu, Hera memberitahu dan pamit. Bahkan kepada Agung pun Hera iseng  berkirim surat dengan  menggunakan  alamat Agung yang lama. Entah sampai atau tidak, apakah masih di alamat yang sama atau tidak,  entah dibalas atau tidak. Kadang Hera mengikuti kata hatinya saat itu saja. Walaupun hatinya tidak punya target harapan suratnya dibalas. Hera selalu menganggap hati manusia itu baik, begitu juga terhadap Agung, yang membuat menjadi tidak baik adalah pengaruh negatif, yang diterima tanpa pertimbangan nuraninya.

Mas Danang, sudah satu bulan berlalu sejak kepergiannya, tapi belum ada kabar atau sepucuk surat yang datang. Ini membuat Hera bingung harus bertanya kepada siapa. Danang bahkan tidak meninggalkan alamat saudaranya. Mungkin karena dia akan dijemput saudaranya di suatu tempat transit sementara, sehingga tidak mungkin memberikan alamat tersebut. Perbedaan yang sangat nyata antara Agung dan Danang, ketika Agung meninggalkan Bandara Halim dalam waktu 4 atau 5 jam saat transit di suatu negara, adalah membeli post card lalu menulis berita kepada Hera. Di Jakarta Hera menerima post cardnya tidak kurang dari seminggu. Di dalam sebulan surat dan post card terkumpul 4 buah. Sedangkan Danang hingga sebulan, karena keterbatasan teknologi komunikasi, atau karena situasi sulit di hutan belantara atau entah karena apa, dia tidak bisa berkabar. Bedanya negara maju dan daerah pedalaman.

Hera memutuskan pulang ke desa pamit simbahnya sebelum berangkat ke lokasi KKN karena selama tiga bulan kedepan Hera tidak bisa menengok simbahnya. Di dalam suratnya ke Larso, Hera bercerita akan pulang mudik, diam-diam hati Hera berharap bisa ketemu Larso di desa. Hera akan nyekar ke makam Mbah Eyang cikal bakal desa dan nyekar Simbah Tuwo alias mbak Semarang yang menyayanginya saat balita. Dan tentu mau pamit kepada simbah dan simbok, minta restu agar tidak ada halangan apapun selama bertugas di desa KKN. Simbah gembira sekali saat Hera datang.

“Wah pantesan manuk prenjak-e ngganter terus dari kemarin, jebul ada tamu”, kata Mbah Kakung menyambut kedatangan Hera.

“Memang Hera tamu mbah, kok menandainya dengan burung prenjak?” jawab Hera sedikit bercanda. Hatinya berharap kicauan burung prenjak itu pertanda untuk tamu yang sesungguhnya,  Larso!

“Ya itu pertanda alam, biasanya mau ada tamu jauh”,  mbak Putri menimpali.

Sebelum sampai desa, tadi Hera di Delanggu mampir beli soto, dan sate-satean, dan sosis kiwir yang rasanya khas untuk dibawa pulang. Sosis kiwir khas untuk lidah desa, ngangeni. Tapi pasti tidak enak untuk lidah kota,  rasanya cuma asin-asin asem dan manis serta segarnya kecambah, tanpa daging , tanpa ayam. Jauh jika dibanding Lumpia Semarang yang gandem, dan lezat penuh aneka rasa, isi rebung, telor dan ebi. Sosir kiwir besarnya sejari kelingking  bukan apa-apanya.Sepuluh sosis kiwir bisa masuk dalam satu gulungan lumpia Semarang. Sosis kiwir semacam klangenan bagi orang Delanggu dan sekitarnya.

“Nduk iki sotonya seger tenan” kata mbah Kakung.

“Iya baru buka, pedagang yang sore,  lor pasar Dlanggu mbah. Jadi duduhnya masih gurih belum keasinan”, jawab Hera sambil menemani makan simbahnya.

Malam itu Hera bercerita tentang rencananya mau berangkat KKN. Simbahnya menasehati macam- macam, sebagai pendatang di lokasi baru. Hera juga mengabarkan kepergian mas Danang ke Kalimantan. Simbah turut prihatin dan turut merasa sedih dengan apa terjadi pada mas Danang. Mereka ngobrol sampai larut.

Keesokan harinya benar kata si prenjak. Tanda alam memang menakjubkan. Mungkin juga hati Hera yang tajam mencium tanda alam.

“Kulonuwun mbah..”, suara yang ramah lembut terdengar.

“Lho nak Larso..”

“Mbak Hera wonten mbah??”

“Eeh nak Larso, lha rak tenan tho manuk prenjaknya nggak ngapusi. Mau ada tamu, kok pas banget opo janjian?”  kata mbah putri menggoda.

“Eh kang, kapan sampai kang? ” tanya Hera sumringah, hatinya berdebar menyaksikan apa yang diharapkan muncul di depan mata. Seperti ada hubungan batin antara Hera dan Larso.

“Baru tadi pagi”, jawab Larso.

Hera menduga memang Larso pulang khusus menemui dia karena membaca surat Hera.

“Piye jeng kapan berangkat KKN, dapat daerah mana? Semoga tidak di daerah sulit”,  kata Larso berharap.

“Alhamdulillah daerah surplus. Dapat di kabupaten Jepara, belum tahu kecamatan mana”, jawab Hera.

“Wah daerah maju, ekonominya bagus. Harusnya daerah yang minus yang jadi sasaran mahasiswa KKN”, kata Larso

“Ya yang dapat Jepara  saja yang beruntung kang, yang lain daerah minus”  jawab Hera asal.

“Jeng hati-hati ya ditempat KKN.”

“Lho kenapa harus hati-hati?”

“Kan KKN itu singkatan Kisah Kasih Nyata.. hahaha”, Larso menggoda,  berharap tidak ada cinta lokasi terjadi di tempat KKN.

“Walah kang… aku nggak mikir blas..Wis males”  jawab Hera agak tidak tertarik.

“Males opo maksudnya jeng? Males karo aku?” tanya Larso.

“Lha kang Larso sudah cari tahu belum tentang topik bahasan kita dulu?”  tanya Hera meninggi.

“Walah kaya tes pendahuluan saja. Jadi ingat praktikum di ITB jeng. Gini… sekarang kalau saya balik gimana jeng, aku mau matur simbah di hadapan sliramu tentang keseriusan hubungan kita, piye!?” tantang Larso serius.  Grobyak!! Hera kaget seperti disamber bledheg. Terbayang Danang yang sedang berjuang mencari jati diri.

“Jangaaaan kang. Sabar, jangan sekarang, jangan sampai simbah tahu dulu tentang keseriusan dirimu, tenan  iki…” , Hera spontan melarang dengan nada serius.

Larso kaget mendengar jawaban Hera. Dia heran kenapa Hera menjawab seperti itu. Keseriusan seperti apalagi yang diharapkan oleh Hera. Larso asli merasa aneh, lebih aneh dari ketika tidak lulus tes pendahuluan praktikum di tingkat pertama bersama ITB. Sesusah-susahnya pelajaran di kampus masih lebih susah pelajaran hidup, gitu gumamnya.

“Kok aneh sih jeng, kenapa sliramu takut?? Aku serius kok, tidak main-main. Sudah sejak SD aku memendam rasa. Aku rasa sudah saatnya simbah tahu dan dengar sendiri dariku. Ini bukti kejantanan paling nyata jeng. Apalagi?” sahut Larso, agak susah memahami jalan pikiran Hera. Larso merasakan masih  ada yang mengganjal di hati Hera.

“Ini bukan soal keberanian atau kejantanan. Kalau anak ITB sudah pasti jantan, wong gaweyane gelut kalau ada wisuda. Ini beda. Kang Larso perlu belajar psikologi wanita, sosiologi perkawinan.”

“Waduh apalagi”.

“Kang aku mohon dengan sangat penjenengan matur dulu pada keluarga,  jika njenengan ingin serius dengan aku, terserah maturnya kapan, tidak perlu buru-buru. Perkawinan adalah urusan dua keluarga besar. Bukan kita berdua dan simbah “, kata Hera berusaha bernada halus dan lembut menjelaskan.

“Ngono yo jeng, kenapa begitu jeng apa alasan dan argumenmu?” tanya Larso lagi.

“Nanti akan tahu, argumenku, prinsipnya aku menjaga  nama dan citra kang Larso dihadapan simbah itu saja”, jawab Hera penuh tekanan.

”Aku jadi makin bingung jeng”, lagi-lagi Larso yang cerdas itu tidak paham. Tapi kali ini Hera sabar, tidak meninggikan nada suaranya.

“Sementara aku KKN tiga bulan, kang Larso persiapkan diri matur keluarga. Terserah piye cara maturnya, dan aku tunggu jawabnya setelah aku selesai KKN dan sudah kembali ke kos. Tiga bulan sangat cukup untuk bermunajat, ngatur nafas, noto ati dan pikiran.”

Hera berkata pelan-pelan penuh penekanan. Larso  menunduk sambil memegang kepalanya karena tidak menduga mendapat respon seperti itu. Larso yang hati-hati itu ternyata menghadapi wanita yang tidak kalah hati-hatinya lagi. Maklum Hera mengalami banyak pengalaman hidup yang membuatnya beggitu. Larso berpikir tentang strategi apa gerangan yang dibuat Hera untuknya, kenapa begini rumit urusan cinta. Apakah Hera menolaknya secara halus ataukah ada pilihan lain.

Hera juga terdiam. Hera hanya ingin menjaga perasaan simbahnya. Hera tidak ingin simbahnya tahu jika nantinya Larso membuat Hera kecewa. Cukup tentang Danang saja, itu sudah membuat simbahnya nelongso.  Hera memiliki intuisi yang tajam, sehingga Larso dilarang menyampaikan niatnya kepada mbah Mangun.  Hal ini Hera maksudkan agar di hadapan simbah, Larso tetap sosok yang bercitra baik. Jika Larso sudah matur kepada simbah dan hal buruk terjadi, Hera khawatir simbahnya marah besar dan melabrak ke rumah Larso, menemui ibunya. Itu hal yang sangat Hera takutkan dan hindari. Simbah putrinya terkenal tegas dan galak dalam hal yang positif. Hera juga secara tidak langsung memperkuat karakter simbahnya.

Larso seperti orang yang lunglai tidak bersemangat. Lagi-lagi Hera harus membuat Larso kembali ceria.

“Kang saya tidak menolak ya..”

“Apa susahnya menjawab ya jeng?”

“Justru karena aku sangat serius maka aku minta kang Larso berembug dulu dengan keluarga besar. Ini demi kebaikan kita.”

Larso menemukan kata kunci, keluarga. Betul keluarga. Dia mulai paham arahnya. Perkawinan bukan urusan dua sejoli yang jatuh hati tapi saling memahami antara keluarga besar untuk hampir semua hal. Tidak harus sama tapi saling memahami.

(Prof Budi Santosa, PhD adalah Rektor Institut Teknologi Kalimantan, guru besar Teknik Industri ITS Surabaya & Dra. Hersis Gitalaras adalah pengusaha di Jakarta/bersambung)

Berita Terkait