KEMPALAN: “Kenapa kamu meneteskan air mata ?”, sebenarnya dalam keseharian kita, pertanyaan yang demikian adalah hal biasa. Menjadi tidak biasa karena dialog tahun 1995 tersebut terjadi antara John Connor bocah 10 tahun dengan Terminator, robot yang didatangkan dari masa depan, tahun 2029.
Dan Arnold Schwarzenegger, sang Terminator di ‘Terminator 2: Judgment Day’ tersebut terus saja bertanya tanpa dapat memahami dengan baik jawaban-jawaban bocah John Connor. Terminator tetap tidak mengerti mengapa seseorang bisa sedih, malu, sakit hati, marah, juga bisa menangis.
Memang seperti itulah, basic instinct yang tidak dimiliki terminator. Sequel dengan sutradara James Cameron yang rilis tahun 1991 ini mampu memvisualisasikan dengan baik perwujudan kecerdasan buatan, robot yang bekerja berbasis komputer.
Sekarang ini, hari demi hari seakan kepada kita terus saja ditunjukkan inovasi baru. Perkembangan teknologi seakan tiada henti dan terus memperlihatkan peningkatannya. Di antara sekian banyak teknologi tersebut adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence). yang lebih dikenal dengan sebutan AI.
Kehadiran AI menjadikan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan semakin mudah, cepat, akurat, dan efektif. Inilah sisi positif AI. Sebaliknya, kehadiran AI pun dapat mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Peran manusia pada beberapa bidang pekerjaan cepat atau lambat dapat saja berkurang.
Perkembangan demi perkembangan ini membawa keseluruhan kondisi aktivitas manusia memasuki babak baru, economic singularity. Kondisi yang memperlihatkan penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang, berdampingan dengan kecerdasan manusia, bahkan pada titik tertentu sangat dimungkinkan kecerdasan buatan akan menyalip kecerdasan manusia.
Adaptasi terhadap economic singularity menjadi sebuah keharusan, jika manusia tidak mampu beradaptasi dengan kondisi ini, sudah barang tentu kesempatan untuk bekerja akan semakin berkurang sebab akan begitu mudahnya digantikan teknologi AI yang keberadaannya sudah menyasar membabi buta hampir pada seluruh bidang pekerjaan.
Implikasi transformasi pada aktivitas ekonomi dari kecerdasan manusia menuju kecerdasan buatan memang sulit dihindari. Nyata terlihat keberadaannya pada pasar tenaga kerja. Kehadiran AI inipun sepertinya ada pada waktu yang tepat, ketika muncul pandemi Covid-19 yang mengharuskan banyak aktivitas dilakukan online, AI menjawabnya dengan sempurna.
Bayangkan jika Corona ini datangnya 20 tahun lalu di saat Zoom, Google Meet, WA, dan sejenisnya belum bersahabat dengan kita. Sungguh kerepotan yang luar biasa. Tumbangnya beberapa gerai ritel mulai Matahari, Centro, sampai Giant yang dibahasakan karena pandemi akan mudah bermetamorfosis dalam bentuk online.

Demikian juga pemangkasan karyawan perbankan, sebelum pandemi Covid-19 pun sudah terjadi pergeseran-pergeseran oleh AI. Secara akumulatif sampai awal 2021 total pengangguran sudah mendekati angka 10 juta jiwa.
Fakta ini menjadi salah satu bukti ketangguhan AI. Sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang paling mulia di bumi, sejatinya manusia punya kelebihan, basic instinct. Faktor ini yang tidak dimiliki dan tidak ada di komputer (baca: artificial intelligence). Visualisasi seperti ditunjukkan sang robot terminator membuktikan kebenaran akan keberadaan dari basic insting ini.
Sedetail apapun bocah John Connor menjelaskan kepada Terminator tentang marah, malu, cemburu, benci, ataupun sakit hati, Terminator tidak akan pernah mengerti. Sampai kapan pun kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggantikan kompleksitas fungsi otak seperti emosi, perilaku, motivasi, dan intuisi.
Faktor inilah yang tidak dapat ditiru oleh mesin dan menjadi kekuatan manusia yang harus terus dijaga guna menghadapi teknologi yang terus berkembang tiada henti. Basic Instinct, sepertinya inilah harapan manusia di fase economic singularity. Disadari, bahwa semua bidang di dunia ini berkaitan dengan masalah ekonomi.
Pertanyaannya sekarang, adakah bidang di dunia ini yang tidak berhubungan dengan Artificial Intelligence? Salam. (Bambang Budiarto–Redaktur Tamu Kempalan.com, Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi