Sabtu, 16 Mei 2026, pukul : 02:21 WIB
Surabaya
--°C

Puasa, Ekuilibrium Ekonomi, dan Alhamdulillah

KEMPALAN: Ust. Nouman Ali Khan, direktur Bayyinah Institute yang bermarkas di Dallas, Texas-Amerika Serikat, dalam ceramahnya ketika di Singapura beberapa tahun silam menerangkan tafsir surat Alfatihah. Salah satu poin menarik adalah tentang makna Alhamdulillah pada ayat pertama surat Alfatihah. Alhamdulilah tidak seperti pada terjemahan pada umumnya bahwa ia bermakna segala puji bagi Allah. Namun ternyata lebih dari itu.

Kata alhamdulilah ini, yang umat Islam membaca minimal 17 kali sehari dalam sholat lima waktu, sebenarnya tidak ada padanan katanya dalam Bahasa mana saja. Dalam Bahasa Arab, hamd itu bermakna dua hal sekaligus, yaitu memuji atau madhu; dan berterima kasih atau syukru.

Dalam praktiknya, bisa saja seseorang itu memuji sesuatu atau seseorang, seperti “indahnya lukisan tersebut,” atau “bagusnya kendaraan ini,” namun hanya sebatas memuji, tidak smpai pada adanya ungkapan terima kasih padanya. Demikian juga seseorang bisa berterima kasih atas kebaikan yang dterimanya dari seseorang, tapi tidak sampai pada adanya pujian baginya.

Namun, kata alhamdu bermakna dua hal tersebut sekaligus. Yakni, memuji dan sekaligus bersyukur kepada Allah SWT. Sehingga ungkapan Alhamdulillah bermakna kita memuji namun sekaligus berterima atas perbuatan Allah.

Ini karena segala perbuatan Allah bagi alam semesta, bagi manusia, adalah pada tingkat kualitas tertinggi, terbaik, terindah, terbenar, teradil, dst. dan karenanya kita memujiNya karena keterpujianNya sekaligus berterima kasih padanNya . Perbuatan Allah itu adalah pemberianNya yang membawa kesan, pesan, dan dampak terbaik bagi makhlukNya sehingga kita berterima kasih sekaligus memuji Allah atas anugerahNya tersebut.

Perbuatan pemberian Allah adalah terpuji dan sekaligus berdampak kebaikan.

Jika ditarik pada risalah Allah puasa di Bulan Ramadan ini, kita akan menemukan bahwa aturan Allah ini adalah terbaik bagi manusia dan juga terindah. Tidak ada yang menandinginya.

Perintah Allah untuk berpuasa. Seperti disampaikan Allah dalam Al Quran Surat Al Baqarah: 183, bahwa orang beriman di masa sekarang dan medatang diwajibkan untuk berpuasa seperti orang-orang sebelumnya yang juga mendapat perintah berpuasa yang bertujuan agar menjadi orang yang bertakwa.

Mengapa puasa ini diulang-ulang setiap tahunnnya? Ini tentu sebaga pengingat tentang bagaimana seharusnya manusia beriman itu berpola laku. Mengingat hadits Nabi yang menyebutkan bahwa al insanu mahallul khata wa nisyan, manusia tempat salah dan lupa. Karenanya setiap tahun umat beriman diingatkan untuk memposisikan diri sebagai seorang mukmin.

Dalam berpuasa, secara pribadi, orang beriman akan selalu mengingat Allah dalam kondisi apa pun. Ketika ia lupa, maka puasanya akan mengingatkannya. Lapar dan dahaga itu menjadi pengingat hubungan Alah dan hambaNya. Untuk kepatuhan mutlak kepada penciptaNya. Dan puasa itu adalah urusan Tuhan dan seorang hambaNya, tanpa ada orang lain yang tahu karena kerahasiaannya.

Demikian juga dalam dimensi sosial, seorang beriman akan mewujudkan interaksi kasih sayang kepada sasamanya dengan memberi perhatian, saling peduli, saling tolong-menolong, bahu-membahu dan gotong royong dalam kebaikan.

Dalam bidang ekonomi, terdapat perintah untuk berbagi rizki yang Allah karuniakan kepadanya. Rasulullah menganjurkan pada bulan Ramadan ini untuk saling berbagi sebaik mungkin. Berbagi dalam bentuk sedekah baik itu zakat, infaq, dan hadiah. Dalam hal ini, sedekah ini merupakan institusi yang vital bagi pemerataan kekayaan, Kareananya Allah tidak menyandingkan kekayaan dengan kemiskinan, tetap kekayaan dengan kecukupan (QS. An-Najm:48)

Disribusi zakat fitrah di kala Ramadan selain sebagai penyempurna puasa juga sebagai sarana distribusi kekayaan yang efektif. (foto: ist)

Dengan bersedekah, kekayaan anak adam tak terpusat, namun tersebar. Ini menciptakan ekulibrium ekonomi, dalam konteks ini rizki Allah yang material, di mana berbagai kekuatan ekonomi terseimbangkan. Ini adalah titik di mana kuantitas yang diharapkan sama dengan kuantitas yang tersedia.

Jumlah total kekayaan yang dimiliki manusia di dunia, baik yang masih potensial dan teraktualkan, merupakan satu konstanta. Ini mengakibatkan munculnya pemikiran dalam ekonomi konvensional tentang kelangkaan sumberdaya sehingga memunculkan permasalahan ekonomi. Orang kemudian berinisiatif untuk menumpuk kekayaan hingga pada akhirnya memunculkan ketidakseimbangan ekonomi  alias kemiskinan.

Nah, satu problema besar dan dasar pada ekonomi masyarakat di bangsa ini adalah kemiskinan alias tak terciptanya ekuilibrium ekonomi tersebut.

Dalam Islam kelangkaan sumberdaya, yang menjadi dasar dari timbulnya masalah ekonomi itu, tidaklah ada. Yang ada hanyalah ketidakadilan dalam pendistribusian, ketidakbersyukuruan manusia. Mendistribuskan kekayaan sama dengan bersyukur dan Allah semakin menambahkan rizki bagi orang yang bersyukur, dan sebaliknya, Allah megazab orang yang ingkar (QS Ibrahim:7).

Dalam konteks ini, zakat menjadi instrumen yang paling efektif untuk menciptakan ekulibrium tersebut. Selama masih banyak orang yang membutuhkan uluran zakat, maka kondisi ekonomi masyarakat masih jauh dari ideal atau masalah ekonomi itu akan terus ada.

Penunaian zakat secara konsisten dan masif ini sepatutnya tercipta mengingat perputaran ekonomi dalam zakat merupakan fardhu/wajib bagi setiap muslim karena Al-Quran menandaskan bahwa di dalam kekayaan kita terdapat hak orang miskin (QS. Adz-Dzariyat: 19). Dengan kata lain, tidak mendistribusikannya sama dengan mencederai ekulibrium ekonomi sehingga terciptalah kemiskinan.

Dengan menunaikan zakat, menyeimbangkan pada asumsi konstanta terebut di atas. Ini karena nilai keuntungan dari kekayaan seseorang yang terakumulasi dan wajib dizakati setelah mencapai atau melebihi haul (kuantitas) dan nisab (waktu) yang ditetapkan, sebagian harus didistribusikan untuk menutupi akumulasi “ketidakberuntungan” yang dialami orang lain.

Sistem yang Alah ciptakan untuk manusia itu sunguh luar biasa. Pemaparan di atas masih jauh dari apa yang seharusnya bisa dieskplorasi dari ilmu Allah. Dan, puasa mengingatkan kembali manusia kepada Allah agar manusia bertakwa untuk menjalankan fungsi-fungsi ekonomi Islam yang mewujudkan keadilan. Dan kita pun memuji Allah dan sekalgus berterima kasih atas apa yang telah Allah ajarkan dan karuniakan kepada kita, manusia. Alhamdulillah…

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan manajer Kantor Layanan Lazismu Umsida)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.