KEMPALAN: Apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan ada sisi tak terfikirkan oleh beliau saat itu. Beliau sangat concern pada terjadinya praktek pelaksanaan agama Islam yang tidak murni di masyarakat. Namun karena Islam adalah rahmatan lil alamin maka apa pun sesuatu yang tak terfikirkan tersebut tetaplah merupakan rahmat bagi semesta. Karena suatu niat yang baik, dilakukan dengan cara yang baik, akan menghasilkan sesuatu yang baik, meskipun itu tidak terfikirkan apa yang menjadi akibatnya. Inilah berkah Islam dari apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan.
Bisa jadi tidak terpikirkan oleh KH Ahmad Dahlan tentang konsep ekonomi atau kesejahteraan masyarkat dalam konteks ilmu ekonomi modern karena memang milieu pemikirannya belum terdiskursus secara kuat tentang itu, namun apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan memiliki implikasi peningkatan kesejahteraan (wellbeing) ekonomi bagi umat manusia. Bahwa perhatian pertama KH Ahmad Dahlan pada masa awal perjuangannya adalah kemiskinan yang nyata di hadapannya.
Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Presiden Suharto tentang program Sekolah Instruksi Presiden (Inpres) tahun 1973-1978 dalam penelitian yang dilakukan oleh peraih Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2019 Esther Duflo dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Ternyata, program SD Inpres tersebut bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia secara ekonomi, yakni peningkatan upah masyarakat. Apa yang dilakukan presiden Suharto kala itu tidak diduga bisa demikian ampuh, karena focus SD Inpres itu pada peningkatan sumber daya manusia yang terdidik,.
Tentunya kini diketahui secara jamak bahwa apa yang dilakukan KH Ahmad Dahaln ternyata memiliki dampak ekonomi bahkan lebih dari apa yang dilakukan oleh Preisden RI kedua tersebut.Dari gambaran yang disampaikan oleh Duflo, dalam konteks ekonomi, bahwa ekonomi masyarakat dapat meningkat dengan pendidikan.
Kyai Dahlan dan Muhammadiyah malah melahirkan banyak lembaga pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini hingga Perguruan Tingi. Juga banyak Lembaga kesehatan seperti rumah sakit dan klinik. Termasuk Lembaga ekonomi seperti koperasi atau batul maal wa tamwil., Lembaga amil zakt (LAZISMU), dsb. Secara keseluruhan kemudian membawa efek peningkatan kesejahteraan yang luar biasa.
Kita bisa menafsirkan kembali langkah yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan dalam konteks ekonomi, Ekonomi yang dikembangkan oleh KH Ahmad Dahlan dapat dikaji melalui berbagai jejak langkah yang telah tertulis dalam berbagai tulisan tentang beliau yang mengungkap sepak terjangnya.
Demikian juga dalam berbagai gerak langkahnya tidak terverbalkan kata ekonomi. KH Ahmad Dahlan hanya mengikuti dan melaksanakan kebenaran yang ada dalam Al Quran dan Al Ahadits yang kemudian didialektikakan dengan realitas empiris kondisi masyarakat pada masanya. KH Ahmad Dahlan menemui fakta bahwa agama Islam pada masa hidupnya mengalami kerusakan yang sangat parah dan disebutnya sebaga urusan yang kini sudah lama bengkok.” (Junus Salam, KH Ahmad Dahlan : amal dan pwerjuangannya: 138-139)
Untuk meluruskan kembali urusan yang telah lama bengkok itu, KH Ahmad Dahlan menggelorakan semangat berkorban harta kepada para pemimpin dan ulama selaku pemimpin umat dalam bidang politik dan agama (HM Sudja’, cerita tentang KH ahmad dahlan, hlm.222-229). KH Ahmad Dahlan kemudian memelopori melakukan gerakan pembaharuan, merevaluasi berbagai nilai yang telah rusak dalam berabgai bidang, mengorbankan harta demi kepentingan umat. Dalam perspektif ekonomi, KH Ahmad Dahlan mewujudkan nilai-nilai ekonomi yang awalnya yang mencerminkan nilai ekonomi Islam seperti keadilan, al ihsan, ta’awun, syirkah, amanah, qana’ah, sabar, dan pengorbanan.

Sebuah High Economy
KH Ahmad Dahlam mengembankan ekonomi dengan berbagai filosofi Islam yang kemudian diejawantahkan menjadi gerakan economi, bisa jadi adalah bentuk high economy. Seperti gerakan dalam peningkatan level pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan menghilangkan kebatilan. Ini menajdi esensi dari Ekonomi Islam itu sendiri. Ekonomi Islam dibangun atas dasar pencerahan umat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia, pengembangan sumber daya manusia, perbaikan kualitas hidup, organisasai, perencanaan, kerjasama, dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Gerakan ini pun menegasikan tahayul, bid’ah, churafat serta menegasikan materi secara berlebihan.
Mencermati perjuangan KH Ahmad Dahlan, maka secara garis besar bisa dikatakan bahwa langkah yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan secara ekonomi terhadap pemerintah Hindia Belanda tidak terlihat secara vulgar perlawanannya. Dari berbagai langkah dan perkataannya, tidak ditemukan sama sekali ucapan ataupun ulisan yang secara terbuka menentang pemerintah Hindia Belanda. Hal tersebut bukan berarti KH Ahmad Dahlan memihak Belanda, bahkan langkah beliau adalah perlawanan terhadap kolonialisme secara elegan.
Meski secara lisan beliau tidak mengecam Belanda namun gerakan yang dicanangkan oleh KH Ahmad Dahlan berorientasi pada kesejahteraan ekonomi-sosial dan peningkatan sumber daya pendidikan (melawan kebodohan), kesehatan (melawan penyakit), kesejahteraan (melawan kemiskian), dan kemaslahatan (melawan kebatilan).
Hal tersebut seirama dengan ajaran ekonomi Islam yang disampaikan oleh pioneer Ekonomi Islam di Indonesia asal Universtias Airlangga Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, dalam diktat kuliahnya Reformasi Ilmu Pengetahuan dan Pembangunan Masyarakat Madani (hlm. 11), bahwa Ekonomi Islam memiliki tugas untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, kesakitan, dan kebatilan. Inilah tugas utama ekonomi Islam. Ini juga menjadi perlawanan yang sangat nyata dari KH Ahmad Dahlan terhadap kolonialis dan kolonialisme. Ini jelas merupakan bukti usaha KH Ahmad Dahlan melawan penjajahan. Dalam konteks ini, kita bisa melihat bagaiamana KH Ahmad Dahlan melaksanakan prinsip nahi munkar dengan cara yang makruf. Dan ini merupakan high economy. KH Ahmad Dahlan berekonomi tapa menyebut kata ekonomi.
Secara umum, gerakan yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan merupakan bentuk purifikasi ajaran Islam dimana Islam hanya sebagai formalitas yang hampa tanpa ada bukti nyata dalam praktik yang dialami oleh umat pada masa itu. James L. Peacock dalam risetnya “Purifiying of the Faith: The Muhammadiyah Movement in Indonesia Islam” menyebut bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan pemurnian Islam terbesar di Indonesia (Peacock, 1982: 2). Peacock menyimpulkan bahwa gerakan purifikasi Muhammadiyah memang mendorong tumbuhnya amal usaha sosial dan pendidikan namun gerakan ini tidak bisa membangkitkan etos ekonomi sebagaimana para puritan di Eropa.
Kesiimpulan tersebut tentu berseberangan dengan fakta yang ditemukan bahwa gerakan ekonomi yang dicanangkan oleh KH Ahmad Dahlan itu malah menumbuhkan etos ekonomi Islam di kalangan umat dengan pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, dan gerakan sosial kemaslahatan. Karena KH Ahmad Dahlan menggelorakan ekonomi ta’awun yang menjadi esensi dari ekonomi Islam itu sendiri. Etos ekonomi yang dikembangkan memang tidak diutamakan etos ekonomi yang mengedepankan aspek material ekonomi seperti etos ekonomi Kapitialisme yang dilahirkan leh puritanisme Eropa, namun etos ekonomi ta’awun yang secara secara kaafah turut mewujudkan kesejahteraan ekonomi dunia dan akhirat.
Gerak langkah KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah adalah secara langsung maupun tidak langsung merupakan gerakan ekonomi Islam.
(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah Dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi