Selasa, 28 April 2026, pukul : 03:54 WIB
Surabaya
--°C

Berekonomi à la KH Ahmad Dahlan (Bagian 1 dari 2)

KEMPALAN: Sebuah pemikiran, konsep, atau model pemikiran baik itu ideologi, politik, sosial, budaya, dan ekonomi yang dikembangkan seseorang tidak harus ditulis oleh sang tokoh itu sendiri. Namun, melalui pelacakan sejarah hidupnya, melalui rekam jejak apa yang telah diucapkan dan dilakukannya, kita bisa mengonstruksi apa yang menjadi sumbangsih atau kontribusi pemikiran seseorang.

Demikian juga halnya dengan KH Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan adalah tokoh sentral dari organisasi besar Muhammadiyah. Kekuatan pergerakanya telah terasa sejak awal pendiriannya hingga sekarang. Gerak langkahnya bagi pemberdayaan umat telah memberi dampak positif baik bagi peningkatan ekonomi dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

KH Ahmad Dahlan memang tidak menuliskan pemikirannya, namun berbagai Ide tersebut disalurkan lewat karya nyata selama hidupnya. Mukti Ali mengungkapkan bahwa “Muhammad Abduh dikenal karena perbuatan dan tulisan-tulisannya, namun Ahamad Dahlan dikenal karena perbuatannya.” (Ali, 1991: 208). Karya hidup terbesarnya adalah organisasi Muhammadiyah.

Jejak langkah KH Ahmad Dahlan dan para generasi pertama Muhammadiyah telah menyejarah. Hal menariknya adalah perspektif yang digunakan oleh para penulis sejarah KH Ahmad Dahlan. Mayoritas, untuk menghindari ungkapan secara keseluruhan, penulis sejarah KH Ahmad Dahlan mengedepankan sisi aktivisme dan pergerakan KH Ahmad Dahlan. Tafsir sejarahnya diarahkan pada amal usaha yang sudah beliau jalankan. Dan kebanyakan menonjolkan reformasi pendidikan yang dicanangkan KH Ahmad Dahlan.

Namun, apa yang dilakukan KH Ahmad Dahlan ini pada dasarnya adalah multifaceted atau kompleks dalam pengertian ada banyak sisi yang bisa diangkat dalam konteks klasifikasi pemikiran beliau yang produk jejak langkahnya, salah satunya adalah sisi ekonomi.

Dalam hal ekonomi ini, belum banyak, atau mungkin belum ada yang berusaha untuk merekonstruksi pemikiran ekonomi KH Ahmd Dahlan menjadi konsep yang diharapkan menjadi blue print model ekonomi Islam. Bahkan perkembangan ekonomi Islam di era kontemporer yang sedang marak saat ini, telah jauh didahului oleh KH Ahmad Dahlan sejak yang telah mengembangkan organisasi Muhammadiyah pada 1912. Dan gerakan ekonominya pun telah terasakan hingga jauh di masa depan.

Sejarah perkembangan ekonomi Islam tidak bisa dilepaskan dari perlawanan terahadap dua ideologi ekonomi yang telah mengakar secara internasional sejak berakhirnya abad pertengahan, pada abad ke-18. Idoelogi ekonomi tersebut adalah Kapitalisme dan Sosialisme/Komuniisme. Dan seluruh kekuatan umat Islam kemudian berfokus pada penghadangan dua kekuatan yang kemudian menguat seiring dengan penjajahan/gerakan kolonialisme mereka ke ke seluruh dunia.

Sisi Negatif Tak Terfikirkan dari Ekonomi Mainstream

Menggunakan ungkapan seorang professor sejarah sistem pemikiran, Michel Foucault, dalam Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason, bahwa “People know what they do; frequently they know why they do what they do; but what they don’t know is what what they do does.”

Bahwa sesuatu yang kita lakukan memang didasarkan atas pengetahuan dan sepengetahuan kita; dan kita tahu alasan melakukan hal tersebut. Namun apa yang tidak kita ketahui adalah ternyata apa yang telah kita hasilkan itu menjadi hidup dan dia bisa melakukan sesuatu atau berdampak pada sesuatu di luar nalar yang telah kita siapkan. Maksudnya secara bebas bahwa produk dari olah laku kita atas dasar pemikiran yang kita cetuskan itu ibarat seorang anak yang telah dewasa untuk melakukan sesuatu di luar apa yang telah kita fikirkan, sesuatu yang unthinkable oleh kita pada saat melakukannya.

Pemikiran Foucault tersebut dihasilkan dari apa yang telah terjadi dalam sejarah bahwa banyak tindakan manusia ternyata memiliki dampak lebih atau bahkan di luar apa yang diduga atau diharapkan. Misalnya dalam konteks sistem ekonomi: Pencetus Kapitalisme yakni Adam Smith. Kapitalisme dianggap sebagai sistem ekonomi yang bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan pribadi tanpa campur tangan negara.

Namun apa yang tidak diketahui bahwa Kapitalisme itu, meminjam istilah Anthony Giddens, menjadi juggernaut atau gerobak besar yang berlari liar menabrak sana-sani memorakmorandakan apa saja yang dilaluinya. Kapitalisme malah menjadikan orang untuk cinta pada penumpukan modal/capital demi kepentingan pribadi tanpa mengindahkan hak-hak orang lain sehingga yang terjadi kemudian eksploitasi manusia atas manusia yang lain (exploitation du l’homme par l’homme).

Demikian juga dengan Komunisme yang kelahirannya oleh Karl Marx sebagai bentuk antitesis dari Kapitalisme. Bahwa kepentingan komunitas atau sosial bahkan negara, itu di atas kepentingan pribadi atau bahkan lebih ekstrim di negara-negara komunis seperti Korea Utara atau yang lainnya tidak mengindahkan sama sekali apa yang menjadi kepentingan atau hak individu. Sehingga ini menghilangkan apa yang menjadi hak asasi manusia.

Adam Smith (kiri) pendiri
Kapitalisme dan Karl Marx pendiri Komunisme. (foto: ist)

Dapat dikatakan antara Komunisme dan Kapitalisme adalah ibarat dua sisi dari sekeping dari mata uang yang tidak bisa tampil secara bersama-sama. Tarikan kepentingan individu dalam Kapitalisme berseberangan dengan tarikan kepentingan komunalitas dalam Komunisme. Dan keduanya sama-sama “menghancurkan” atau menutup sisi lain kemanusiaan. Dan ini telah terbukti dalam sejarah. Meski keduanya terus memperbaiki diri, namun karakter dasar keduanya tidak bisa dihilangkan.

Sedangkan Islam berada di tengah (wasath), bahwa prinsip manusia sebagai khalifah Allah fil ardh meniscayakan bahwa kepemilikan hakiki atas benda/harga yang ada di dunia adalah Allah SWT selaku pencipta dan pemelihara alam semesta. Dan, sebagai wakil Allah di Bumi maka manusia diberi kewenangan untuk mengelola. Dalam pengelolaan harta ini manusia diberi hak untuk “memiliki” barang/kekayaan tersebut secara sementara selama masa hidupnya.

Namun Allah mengingatkan bahwa dalam setiap kekayaan itu ada hak dari fakir dan miskin atau dalam delapan asnaf/golongan penerima sedekah/zakat (QS Adzdzaariyaat:51). Maka dengan demikian kekayaan tidak hanya berputar di kalangan orang yang kaya. Sehingga dalam Islam, manusia diberi hak untuk memiliki harta namun dalam sebagiannya terdapat bagian yang menjadi hak orang lain yang tidak bisa masuk pasar atau membeli menurut kekuatan pasar. Di sinilah letak keseimbangan itu. Di samping hak individu juga ada hak sosial dalam harta yang dimiliki manusia.

Beda Strategi Pengembangan Ekonomi

Jika merujuk pada sejarah ekonomi Islam di era modern, maka strategi pengembangan ekonomi KH Ahmad Dahlan berbeda dengan yang lain. Para ulama pada era modern mencermati pentingnya strategi institusi dan sistem perbankan untuk menggerakan roda perekonomian, maka berbagai upaya dilakukan ahli ekonomi Islam. Pertengahan tahun 1940-an Malaysia mencoba membuka bank non bunga, namun tidak sukses. Akhir tahun 1950-an Pakistan mencoba mendirikan lembaga perkreditan tanpa bunga di pedesaan.

Sedangkan uji coba yang relatif sukses dilakukan oleh Mesir dengan mendirikan Mit Ghamr Local Saving Bank tahun 1963 yang disambut baik oleh para petani dan masyarakat pedesaan. Namun, keberhasilan ini terhenti karena masalah politik, yakni intervensi pemerintah Mesir. Dengan demikian, operasional Mit Ghamr diambil alih oleh National Bank of Egypt dan Bank Sentral Mesir (1967). Baru pada masa rezim Anwar Sadat (1971) sistem nirbunga dihidupkan kembali dengan dibukanya Nasser Social Bank. Keberhasilan di atas mengilhami para petinggi OKI hinga akhirnya berdirilah Islamic Development Bank (IDB) bulan Oktober 1975. Kini IDB memiliki lebih dari 43 kantor di negara anggotanya dengan Jedah menjadi kantor pusatnya.

Namun, jauh dari gerakan teroganisir dalam sejarah pengembangan ekonomi oleh para ulama ekonomi di atas, KH Ahmad Dahlan berbeda. Mengkaji pemikiran ekonomi KH Ahmad Dahlan melalui jejak langkahnya ibarat memikirkan sesuatu yang tak terfikirkan (unthinkable). Strategi ekonomi KH Ahmad Dahlan berdasarkan pada Pembentukan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang didasarkan atas tafsir konsep “ummat” di dalam Ali Aimron 104 menjadi panti asuhan, rumah sakit dan berbagai pelayanan Muhammadiyah lainnya merupakan implementasi dari surat al –Maun yang terus diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan (KRH Hadjid, 2008).

Telah diketahui secara jamak, bagaimana sebuah bangunan peradaban yang di dalamnya termasuk bidang ekonomi bisa tumbuh dan berkembang dengan baik memerlukan instrumen utama penggeraknya yang mengoordinasi secara sistematis keseluruhan usaha menuju cita-cita yang ingin diwujudkan. Dan instrumen yang paling tepat adalah sebuah organisasi. Karena tidak mungkin seseorang melakukannya sendiri.

Muhammadiyah menjadi sebuah organisasi yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga Muhammadiyah mewujudkan cita-cita Islam yakni mewujudkan kondisi masyarakat dalam kerangka Islam yang sebenarnya sehingga Allah SWT ridha. Dan hingga kini, Muhammadiyah boleh jadi telah menjadi satu-satunya organisasi di dunia Islam tertua di dunia yang memiliki ciri tersebut. Dan berbicara Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan yang telah memberikan fondasinya yang secara tak terduga telah memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi Umat, terutama masyarakat Indonesia. (Bersambung)

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah Dosen Ekonomi Islam pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.