Selasa, 28 April 2026, pukul : 05:52 WIB
Surabaya
--°C

Sang Pemburu Lailatul-Qadr

KEMPALAN: Ramadhan sudah memasuki sepertiga akhirnya. Orang Jawa biasa menyebut likuran. Tampak umat berbondong-bondong menyambutnya. Mereka bisa diibaratkan sebagai “para pemburu” lailatul-qadr.

Lailatul-qadr memang harus diburu dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati. Maka untuk itu umat menyambutnya dengan tidak saja shalat tarawih berjamaah, tapi lanjut dengan qiyamul lail pada dini harinya, di masjid-masjid besar diseluruh penjuru negeri.

Sungguh pemandangan menggembirakan, setelah Ramadhan tahun lalu itu tidak diadakan, bahkan shalat fardhu berjamaah pun ditiadakan di masjid-masjid karena awal-awal pandemi, sebagai antisipasi penyebarannya.

Maka rumah-rumah muslimin lalu berubah sebagai masjid-masjid kecil untuk shalat berjamaah. Kepala rumah tangga yang tidak biasa menjadi imam shalat, terpaksa atau dipaksa menjadi imam shalat pada keluarganya, dengan segala keterbatasannya. Membaca ayat-ayat pendek yang dihafalnya, dan yang itu-itu saja, dilantunkan. Mungkin istri dan anak-anak mbatin dalam hati, tapi tidak tegah untuk memprotes.

Pandemi Covid-19, disamping sebagai musibah, juga mengandung pelajaran berarti, memaksa umat untuk beradaptasi dengan suasana yang ada. Maka, hubungan keeratan terjalin saat shalat berjamaah itu dilakukan. Suasana keakraban tercipta oleh sebab-sebab yang muncul.

Setelah selesai shalat berjamaah dan berdoa, ada tradisi saling berjabat tangan anak-anak pada orang tuanya, dan adik yang lebih muda pun mencium tangan kakaknya. Suasana itu dilakukan disetiap sholat fardhu. Inilah hikmah yang bisa tampak saat masjid-masjid harus terpaksa “menutup” pintu-pintunya.

Alhamdulillah di tahun ini, meski pandemi masih berlangsung, masjid/mushola/surau sebagai rumah Allah sudah “membuka” pintunya lebar-lebar untuk diibadahi. Meski jamaah harus tetap menjaga prokes dengan diantaranya memakai masker. Panitia masjid bekerja ekstra untuk memenuhi standar prokes semaksimal mungkin.

Penghargaan dan apresiasi buat takmir masjid patut diberikan, yang bekerja sepenuh hati, Lilla hita’ala untuk menghadirkan masjid siap menerima jamaah untuk digunakan sarana shalat berjamaah. Bahkan pada Ramadhan saat ini mengadakan shalat tarawih berjamaah, bahkan qiyqmul lail pada dini harinya.

Sang Pemburu

Berbahagialah jika kita “dihinggapi” rasa beribadah berlebih, khususnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Jika itu yang terjadi, maka itu bisa diibaratkan bahwa kita sedang berburu lailatul-qadr. Maka julukan sebagai “Sang Pemburu” pantas disematkan.

Berburu lailatul-qadr, malam seribu bulan, yang jika dihitung itu sama dengan 83 tahun 4 bulan. Usia kita bisa jadi tidak sampai “seribu bulan”, dan jika kita dipanggil-Nya di usia 73 tahun, maka masih ada sisa bonus ibadah sepuluh tahun. Subhanallah.

Sungguh kemurahan Allah ta’ala memberikan “hadiah” istimewa buat sang pemburu. Maka sang pemburu itu dihadapan Allah “lulus” sebagai manusia pilihan, yang patut diganjar lailatul-qadr.

Sang pemburu yang hari-harinya selama Ramadhan, dan teristimewa selama sepuluh hari di akhir Ramadhan, mengencangkan ikat pinggang untuk beribadah maksimal. Lebih banyak waktu berjaganya untuk beribadah ketimbang tidurnya.

Dan lailatul-qadr itu dikhususkan untuk umat Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, tidak pada umat-umat sebelumnya. Inilah Rahmat-Nya, setelah Nabi-Nya bersedih memikirkan umur umatnya yang pendek untuk beribadah dan beramal saleh, dibanding dengan umat Nabi-nabi sebelumnya. Maka, Allah berikan lailatul-qadr itu sebagai penggantinya.

Lailatul-qadr punya kedudukan nilai tinggi, hingga Allah ta’ala perlu menurunkan Surat khusus sebagai penerang, menjelaskan spesifik keistimewaan lailatul-qadr, Surat al-Qadr, 1-5:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah engkau, apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat, dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk (mengatur) segala urusan. Malam itu penuh keselamatan sampai fajar terbit.”

Sebuah hadits yang disampaikan Abu Hurairah Radhyallahu Anhum, juga bisa pula menjelaskan keutamaan lailatul-qadr:

“Siapa saja yang melakukan ibadah pada lailatul-qadr dengan penuh iman dan perhitungan akan besarnya pahalanya, dosa yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).

Karenanya, Sang Pemburu akan terus memburu lailatul-qadr hingga mendapatkannya. Tidak ingin sampai gagal memburunya, karena Ramadhan tahun depan belum pasti bisa diikutinya, itu jika batas umur oleh-Nya hanya diakhirkan sampai pada Ramadhan kali ini. Semoga kita mampu mendapatkannya… Aamiin Ya Robbal ‘Aalamiin. (Ady Amar)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.