Senin, 18 Mei 2026, pukul : 10:05 WIB
Surabaya
--°C

Pencerahan, Islam, dan Puasa (Bagian 2 dari 2)

KEMPALAN: Pencerahan dalam konteks keislaman tidaklah sama dengan pencerahan seperti pada era modern.

Prof. Ziaul Haque dalam buku Revelation and Revolution in Islam menggambarkan bahwa kehadiran Rasulullah dalam masyarakat adalah untuk melakukan revolusi atas kegelapan yang hadir kembali pada masyarakat. Buku ini membuka pikiran dan mata jiwa pembaca berkenaan hakikat perjuangan para nabi terdahulu yang sebenarnya membawa suara kebenaran dan kesetaraan sosial dalam masyarakat termasuk melawan kerusakan dan kezaliman yang dibawa oleh pemimpin korup dan zalim yang ada pada masa kini.

Dalam arti kata lain, kemenyeluruhan perjuangan nabi dalam membawa pesan Ilahi itu perlu ditekankan kepada masyarakat dan pesan keadilan sosial dan melawan penindasan untuk diperjuangkan.  Aspek kesyumulan Islam itu dapat digarap dengan lebih dalam jika pesan pembawaan keadilan sosial-ekonomi ditumpukan oleh pejuang-pejuang berideologikan agama Islam pada masa kini dengan realitas hari ini.

Christopher de Bellaigue dalam buku The Islamic Enlightenment: The Struggle Between Faith and Reason: 1798 to Modern Times, terbit tahun 2017, menceritakan tentang berbagai peristiwa dalam sejarah mengenai tsunami modernitas yang mendebarkan sekaligus menakutkan dalam masyarakat muslim. Christopher de Bellaigue sangat memperhatikan sebuah cerita, dan rekan kita saat kita mengikuti argumennya adalah para pahlawan yang hidup yang memiliki visi dan keberanian untuk mewujudkan reformasi.

Narasi tersebut membawa kita melalui Mesir Napoleon, Tanzimât Istanbul, dan Teheran pada abad ke-19, dan pusaran nasionalisme dan kontra-pencerahan di luarnya. De Bellaigue memperjelas bahwa di timur Islam, setelah invasi Napoleon ke Mesir, banyak hal terjadi – dalam beberapa kasus reformasi, pencerahan, dan revolusi industri – dalam waktu yang sangat singkat.

Telegraf muncul dalam sekejap mesin cetak jenis bergerak; kereta tiba pada waktu yang sama dengan surat kabar independen. Banyak dari konsep menantang yang dengan hati-hati dianut oleh para pionir Islam juga diberi nama untuk pertama kalinya di barat – “hak asasi manusia” di tahun 1830-an, feminisme di tahun 1890-an.

Di indonesia, sebuah organisasi keagamaan Islam yang bergerak langsung di masyarakat, Muhammadiyah, mendeklarasikan diri sebagai organisasi yang mewujudkan perncerahan. Mengutip Prof. Haedar Nashir dalam tulisannya  Muhammadiyah Dan Gerakan Pencerahan Untuk Indonesia Berkemajuan (2019), mengungkapkan bahwa gerakan pencerahan bagi Muhammadiyah sesungguhnya bukan akan, tetapi telah dimulai sejak Kyai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah seabad yang silam.

Kehadiran Muhammadiyah melalui gerakan tajdid atau pembaruannya tidak lain sebagai wujud gerakan pencerahan. Gerakan mengembalikan umat pada sumber ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi yang murni dengan mengembangkan ijtihad di banyak bidang kehidupan merupakan aktualisasi dari gerakan pencerahan.Gerakan pencerahan dalam Muhammadiyah digelorakan kembali pada Muktamar ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta sebagaimana terkandung dalam “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua”.

Muhammadiyah pada abad kedua berkomitmen kuat untuk melakukan gerakan pencerahan. Gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem-problem kemanusiaan berupa kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, dan persoalan-persoalan lainnya yag bercorak struktural dan kultural.

Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kekeringan ruhani, krisis moral, kekerasan, terorisme, konflik, korupsi, kerusakan ekologis, dan bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan. Gerakan pencerahan berkomitmen untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, memuliakan martabat manusia laki-laki dan perempuan, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama.

Puasa dan Pencerahan

Seperti dijelaskan Allah dalam Al Quran Surat al Baqarah: 183, bahwa ujung dari puasa adalah ketakwaan. Ketakwaan ini menjadikan seorang beriman menjadi waspada, penuh kehati-hatian, atas langkah yang diambilnya agar selalu sesuai dengan kehendak Penciptanya, untuk meraih ridhaNya. Ini adalah pencerahaan yang membuat seseorang lega dalam hatinya yang terwujudkan dalam kepasrahan kepadaNya.

Kunci pencerahan dalam Islam adalah cahaya yang menerangi kegelapan seperti tertulis dalam Al Quran: min adzulumati ila nur (2: 257). Menuju cahaya adalah menuju Allah karena Allah adalah cahaya langit dan bumi (Allahu nuurus samawati wal ardhi) (QS 24: 35). Allah-lah pemberi  cahaya dan dengan cahaya ini maka akan menjadi terang bagi siapapun yang menerimanya.

Cahaya Allah menjadikan orang bisa “melihat” dan memiliki pengetahuan (‘ilm) tentang yang benar (al-haq) dan yang salah (al-bathil); dan kebenaran itu adalah dari Allah (QS 2: 147). Ilmu (al-‘ilm) itu sendiri ada di sisi Allah (al-‘ilm ‘inda Allah) (QS 67:36) karenanya untuk mendapatkan pengetahuan yang benar adalah melalui Allah dengan ikhtiar yang dilakukan manusia melalui pembelajaran (QS 2: 31). Cahaya itu adalah petunjuk, barang siapa mendapatkan petunjuk maka tidak ada takut dan sedih (QS 2:38).

Inilah pencerahan dalam Islam. Bagi anggota masyarakat Islam yang tercerahkan maka ia akan mendapati dirinya menjadi orang yang optimis dan produktif sehingga outcome-nya berupa rahmat bagi semesta. Karena itu tidak mengherankan jika siapapun yang menerima cahaya tersebut akan menjadi penerang atas kegelapan.

Puasa itu menjadikan seseorang kembali menerangi dirinya, jiwanya, untuk menyadarkan kembali melihat dirinya, kemanusiaannya, untuk keluar dari sifat hewaniahnya yang gelap. Hewan ketika lapar ia akan makan. Hewan ketika bersyahwat, tidak akan bisa menahannya. Demikian juga dengan emosinya. Berbeda dengan manusia, manusia bisa memilih tidak makan meskipun dirinya lapar. Juga bisa menahan syahwat meski membuncah. Termasuk menghentikan semua perbuatan atau pun kehendak buruk yang muncul dalam dirinya.

Ia rela memilih untuk menahan semua itu untuk sesuatu yang ingin dicapainya, tujuan-tujuan yang bersifat spiritual, Akhlaq seperti disampaikan oleh Arnold J. Toynbee, Jared Diamond, dan Ibn khaldun yang menjadi basis tegaknya peradaban. Karenanya niat puasa menjadi penting dalam puasa. Tanpa niat itu, maka tidak akan bisa menahan hal-hal yang sifatnya hewaniah tersebut.

Karenanya berpuasa itu mencerahkan kembali akal pikiran dan hati manusia. Mengingatkan kembali dan terus belajar tentang fitrah manusia yakni kebaikan, kebenaran, dan keindahan secara ontologis, dan maju dalam aksiologinya. Inilah pencerahan dalam Islam yang sepatutnya terus terbawa sepanjang tahun, tidak hanya saat bulan Ramadan.

Wallahu’alam.

(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.