BRUSSEL-KEMPALAN: Bulan suci Ramadhan dianggap sebagai bulan paling suci dalam kalender Hijriah Islam. Umat Muslim sangat yakin bahwa selama bulan yang agung inilah malaikat Jibril turun dari surga dan mengungkapkan Pesan kepada Nabi Muhammad.
Selama bulan Ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk meningkatkan ketaatan spiritual dan fisik mereka kepada Allah Swt dengan cara berpuasa; artinya, umat Islam harus menjauhkan diri dari makan, minum, merokok dan juga hawa nafsu dari fajar hingga terbenamnya matahari.
Mengutip dari Wego Travel, di Belgia, penduduk muslim hanya berkisar sekitar 5-6% dari populasi negara itu. Mempertimbangkan hal tersebut, tidak mengherankan jika Ramadhan bukanlah salah satu festival utama di Belgia.
Selain itu, siang hari yang panjang menjadi tantangan tambahan bagi mereka yang menjalankan puasa. Belgia, para umat Muslim akan berpuasa selama kurang lebih 18 jam. Kemudian dilanjutkan dengan sholat, sahur, dan istirahat di waktu yang tersisa.
Biasanya, Masjid Agung Brussel dan pusat-pusat Islam lainnya mengadakan sholat Tarawih dan ceramah agama untuk komunitas Muslim. Keluarga dan teman berkumpul untuk merayakan festival selama sebulan dan berbagi makanan. Buka puasa bersama bersama juga diadakans sebagai tanda persaudaraan dan kasih sayang tanpa membedakan ras dan agama.
Pada masa pandemi sholat tarawih tidak akan dilakukan di beberapa bagian negara.
Melansir dari Anadolu Agency, di ibu kota Brussel, orang tidak akan bisa pergi ke masjid untuk tarawih karena jam malam mulai pukul 10 malam.
Tetapi orang-orang yang tinggal di wilayah Wallonia dan Flanders akan dapat melaksanakan dalam sholat tarawih karena jam malam di sana berlangsung dari tengah malam hingga pagi.
Ekrem Seker, seorang imam Masjid Federasi Islam Belgia di Brussels, mengatakan tahun ini mereka melakukan sholat harian hanya dengan 15 orang, tetapi tahun lalu masjid ditutup karena pandemi.
Selain tradisi Ramadhan di Belgia yang hampir sama dengan negara-negara di Eropa terdapat fakta unik pada Ramadhan tahun ini yakni tradisi membagikan makanan gratis Turki kembali bangkit terutama di Brussel.
Mengutip dari Daily Sabah, pemilik toko roti Turki di Brussel Belgia telah mempraktikkan tradisi Utsmani “askıda ekmek” dengan membagikan roti gratis kepada siapa pun yang membutuhkan selama bulan Ramadhan.
Seçkin Dikmen, pemilik toko roti di wilayah Evere di Brussel, pertama kali mulai mempraktikkan askıda ekmek, yang secara harfiah berarti roti gantung, tiga tahun lalu dengan bantuan para dermawan. Dikmen mengatakan bahwa dia ingin setiap orang, terlepas dari latar belakang budaya, ras atau etnis mereka, mendapatkan keuntungan dari tindakan kebaikan dan berbagi ini.
“Kami mendistribusikan pides, roti pipih yang biasa dipanggang di bulan Ramadhan, dan roti gratis kepada semua pelanggan kami, mereka sangat menyukai kampanye itu. Saya yakin kami menyentuh hati orang-orang,” katanya.
Pembuat roti Turki telah membagikan sekitar 300 roti dan pides Ramadhan setiap hari sejak bulan Ramadhan dimulai.
Dikmen menuturkan, yang ia cita-citakan adalah membantu orang baru kemudian mendorong orang lain untuk melakukannya. Dia juga menganggap askıda ekmek penting karena akarnya di Kekaisaran Ottoman. “Kita perlu menjaga warisan Kekaisaran Ottoman ini tetap hidup hari ini,” katanya.
Meskipun tradisi askıda ekmek berasal dari era Ottoman, tradisi ini masih dipraktikkan secara luas di kota-kota Turki.
Tradisi tersebut didasarkan pada siklus amal di mana pemberi dan penerima tetap tidak terlihat satu sama lain. Siapa pun yang pergi ke toko roti dapat memberikan uang tambahan untuk digunakan untuk askıda ekmek. Kemudian, pemilik toko roti meletakkan roti yang dibuat dengan uang yang diterimanya ke dalam tas di pintu toko roti. Siapapun yang membutuhkan dapat datang dan mengambil roti sebanyak yang dia inginkan. (Wego Travel/Anadolu Agency/Daily Sabah, Belva Dzaky Aulia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi