Selasa, 28 April 2026, pukul : 14:07 WIB
Surabaya
--°C

Film Do Not Split, Masuk Nominasi Oscar dan Bikin China Gusar

BEIJING – KEMPALAN: Pada Januari, sekitar 50 politisi, aktivis, dan akademisi ditangkap dalam penggerebekan polisi atas pemilihan pendahuluan yang mereka selenggarakan pada Juli 2020 untuk membantu kubu demokrasi memilih kandidat terkuat untuk pemilihan Dewan Legislatif yang kemudian ditunda.

Dalam kekacauan tersebut, diabadikan melalui Do Not Split, film berdurasi 35 menit yang disutradarai oleh seorang Norwegia Anders Hammer. Film itu telah masuk nominasi untuk dokumenter pendek terbaik di Oscar pada hari Minggu (25/4).

Bercerita tentang Joey Siu yang hidup diantara perkembangan situasi politik yang kacau di wilayah Tiongkok, karir sebagai seorang aktivis, dan beban emosional para pengunjuk rasa lainnya saat mereka memperjuangkan kota yang mereka cintai.

Melansir dari APNews, Sebuah artikel di Global Times, tabloid yang dikendalikan Partai Komunis, menyebut film itu sebagai film dokumenter “palsu” yang “kurang artistik” dan “penuh dengan sikap politik yang bias”. Menominasikan film semacam itu akan “melukai perasaan” penonton China, katanya.

Sementara itu nominasi Oscar tidak akan ditayangkan di daratan, sementara penyiar Hong Kong TVB menyalahkan alasan “komersial” atas keputusannya untuk tidak menyiarkan upacara tersebut untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad.

Joey Siu, tokoh utama film tersebut sekarang bekerja di kelompok advokasi internasional Hong Kong Watch, di mana dia telah berbicara kepada politisi di AS dan lebih jauh tentang situasi di Hong Kong, yang dia yakin China ingin menjadikannya hanya “kota China daratan biasa yang lain”.

Proses pembuatan film tersebut dilakukan ketika Hammer turun ke jalan untuk syuting bersama para pengunjuk rasa dan tidak hanya menangkap ketidakpastian dari protes, tetapi juga emosi mentah mereka.

Dari film dibuka dengan sekelompok pengunjuk rasa berpakaian hitam membobol bank milik Cina, hingga sekelompok petugas polisi mendorong pengunjuk rasa ke tanah, meratakan pipinya ke aspal, bajunya robek, dan perutnya terbuka, Film tidak lepas dari meningkatnya kekerasan konfrontasi antara polisi dan pengunjuk rasa. Menjadikan film tersebut seakan lebih hidup. (Aljazeera, Abdul Manaf Farid)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.