KEMPALAN: Puasa Ramadan mengajak kaum beriman untuk melakukan introspeksi diri atas kualitas/mutu ibadahnya.
Sudah seberapa dalam pemahamannya tentang nilai-nilai tauhidi. Juga termasuk sudah seberapa kuat implementasi nilai-nilai ketuhanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang tercermin dalam Asmaul Husna.
Demikian juga bagaimana nilai ibadah kita termasuk kekhyusukan sholat, ketepatan pelaksanaan syariah dalam kehidupan sehari-hari yang sesuai dengan pemahaman yang benar-benar Islam. Dimensi ibadah akan melingkupi dimensi muamalah jika semua perilaku kita diniatkan sebagai ibadah kepada Allah.
Menerapkan Islam yang sebenar-benarnya adalah impian dari setiap muslim. Ini adalah nilai yang kemudian mendekatkannya kepada kebenaran, Al-Haq, Allah SWT. Kecintaan kepada Allah SWT akan ditunjukkan dengan melaksanakan kebenaran kalam Ilahi.
Karenanya, dalam implementasi keimanan itu diperlukan muhasabah, introspeksi, evaluasi yang berkelanjutan atas apa yang telah dicapai. Evaluasi atas apa yang telah dicapai ini dilakukn secara terus-menerus untuk mewujudkan kesebenar-benarnya Islam.
Di era modern, semua telah mengacu pada konsep pengetahuan yang ilmiah, yakni ketika semua telah terukur secara kalkulatif objekitf kuantitatif yang mana semua orang bisa melakukannya. Pelaksanaan keislaman itu pun perlu diwujudkan dalam konstruksi yang kemudian bisa dilaksanakan oleh setiap orang. Ini karena spirit dari pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang bisa diulang, direduplikasi, dilakukan kembali oleh semua orang. Dan inilah keajaiban era modern dimana semua harus bisa diredupliakasi oleh siapapun.
Seperti diketahui, bahwa Islam memiliki dimensi yang luas dan kompleks. Islam selain mengatur persoalan ibadah, yakni hubungan antara hamba dengan Tuhannya, juga mengatur tentang relasi antar sesama hambaNya, manusia, yakni muamalah.
Hubungan antara Tuhan dan hambaNya ini, dalam praktiknya telah terdapat standar-standar tersendiri. Dan terdapat panduan yang lengkap oleh para imam tentang bagaimana tata cara sholat, tata cara puasa, tata cara haji, tata cara zakat, dan sebagainaya. Secara keseluruhan terdapat mekanisme “quality control” oleh para pakar dalam bidang Ibadah. Mewujdukan mutu ini akan membuat seorang hamba menjadi lebih dekat dan dekat dengan sang Khaliq.
Namun, dalam konteks muamalah, hingga kini belum terdapat standar kualitas yang baku yang bisa diterima oleh siapapun secara universal oleh muslim maupun non muslim. Mumalah ini terkait bagaimana kaum muslim bisa mewujudkan kualitas halalan thayiban mubarakatan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ini adalah prinsip dalam muamalah yang bisa dieterapkan dalam industri yang meliputi standar produksi, manajemen, distribusi, akuntansi, kedokteran, relasi sosial, dan sebagainya.

Jika menengok pada model yang telah berkembang di Inggris, kita lihat misalnya terdapat standar oleh The International Organization for Standardization. Standar diungkapkan dengan istilah ISO dengan angka2 misalnya 9001:1998, dsb. Jika melihat sejarahnya, ISO itu awalnya dari inggris. Bahwa impor apapun dari luar inggris harus memenuhi standar kualitas permintaan Ratu Inggris. Sehingga segala sesuatu barang dan jasa yang masuk ke inggris terstandar.
ISO dari Inggris yang kemudian merambah ke semua lini tata cara: produksi barang, jasa, manajemen, bahkan persoalan cara pakaian dan ketentuan ruangan kamar mandi. Semua ada ISO-nya. Ini menjadi tren. Setiap perusahaan kemudian harus ber-ISO sebagai bukti kualitas dunia.
Di Amerika Serikat juga ada Program Keunggulan Kinerja Baldrige yang berorientasi pada organisasi dalam meningkatkan kinerja mereka dan mengelola Penghargaan Kualitas Nasional Malcolm Baldrige . Penghargaan Baldrige mengakui organisasi AS untuk keunggulan kinerja berdasarkan Kriteria Baldrige untuk Keunggulan Kinerja. Kriteria membahas aspek kritis manajemen yang berkontribusi pada keunggulan kinerja: kepemimpinan; strategi; pelanggan; pengukuran, analisis, dan manajemen pengetahuan; tenaga kerja; operasi; dan hasil.
Kemudian standardisasi tidak berhenti di situ. Di Benua Eropa muncul The European Foundation for Quality Management ‘s EFQM Excellence Model mendukung skema penghargaan mirip dengan Baldrige Award untuk perusahaan-perusahaan Eropa. Di Kanada, National Quality Institute mempersembahkan ‘Canada Awards for Excellence’ setiap tahun kepada organisasi yang telah menunjukkan kinerja luar biasa di bidang Kualitas dan Kesehatan Tempat Kerja, dan telah memenuhi kriteria institut dengan pencapaian dan hasil keseluruhan yang terdokumentasi.
Kualitas Eropa dalam Layanan Sosial (EQUASS ) adalah sistem kualitas khusus sektor yang dirancang untuk sektor layanan sosial dan membahas prinsip-prinsip kualitas yang khusus untuk pemberian layanan kepada kelompok rentan, seperti pemberdayaan, hak, dan keterpusatan pada orang .

Di Jepang terdapat standar mutu Kaizen yang diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di Jepang berdasarkan nilai orang Jepang. Standar ini merupakan suatu strategi yang dipergunakan untuk melakukan peningkatan secara terus-menerus ke arah yang lebih baik terhadap proses produksi, kualitas produk, pengurangan biaya operasional, mengurangi pemborosan hingga peningkatan keamanan kerja. Kaizen ini digunakan sebagai budaya kerja pada perusahaan Jepang dan pemasoknya.
Namun jika direfleksi lehih lanjut, berbagai standar tersebut kemudian menjadi persaingan standardisasi mutu. Bagi perusahaan besar kemudian menerapakan sebuah standar agar mendapat pengakuan dari pasar bahkan negara tertentu. Sehingga penerapan standar mutu tersebut menjadi sarana untuk menyedot pangsa pangsar. Pemasaran menjadi tidak perlu “susah-susah.” Sehingga berbagai standar itu pun disusun demi persaingan penaklukan produk negara lain.
Berbagai standar tersebut ISO, Baldridge, EFQM, EQUASS, dan Kaizen, tidak ubahnya dengan standar halal yang ada dalam Islam. dalam Islam telah ada standar mutu yang telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Standar mutu itu juga mencakup bagaimana kepuasan pelaggan, karyawan, dalam pelayanan dan kualitas produk yang unggul.
Namun, jika merefleksi pada konsep halal bukan untuk penaklukan. Tapi memang untuk sesuatu yang beda untuk mewujudkan kemaslahatan dunia dan akhirat. Konsep Syar’i yang disusun sejak 1400an tahun lalu sudah melingkupi aspek mutu sistem, proses, dan produk.
Standar-standar di atas tak ubahnya dengan standardisasi halal yang ada pada MUI atau lembaga lainnya yang membuat standar halal. Lalu, kaum Muslim masihkah secara negatif nyinyir dengan standar agamanya sendiri yang berusaha dikelola secara modern, yang notabenenya lebih menyelamatkan diri, setidaknya di akhirat kelak?
Kita pun dengan label halal atau syar’i itu bisa mengembangkan lebih lanjut tentang perusahaan yang halal itu seharusnya menggerakkan untuk lebih progresif. Karena progresif itu halal ketimbang degradatif atau kemunduran.
Standar manajemen yang syar’i itu menunjukkan kemajuan. Yang tidak syar’i tidak maju. Dicontohkan bagaimana Nabi Muhammad memprogresifkan umatnya dari jahiliyah kegelapan menuju terang melalui konsep yang kemudian disebut sebagai Syariah. Maka dari itu halal atau syar’i itu tidak sepatutnya hanya pada makanan, lebih dari itu. Layaknya ISO, konsep standadisasi syar’i bisa belajar dari hal ini untuk lebih progresif. Bisa masuk pada ranah manajemen mutu dalam semuda lini bidang.
Rasulullah Saw sebagaimana yang dikemukaan Beliau SAW bahwa Rasul menunjung tinggi mutu sebagaimana hadist beliau SAW, yaitu ihsan (kebaikan) dan itqan (kesempurnaan). Dalam istilah lain adalah teliti, kerja terbaik dan tidak ada cela (cacat) (zero difect). Rasulullah Saw berkata: “Allah telah mewajibkan kamu untuk berbuat baik (ihsan) dalam segala hal” dan bahwa “Allah menyukai orang yang melakukan sesuatu pekerjaan, ia melakukan indah dan sebaik mungkin (sempurna)” (Al Hadits)
Terdapat banyak dalil dalam Islam yang kemudian bisa mencerminkan bagaimana pengembangan kualitas atau mutu. Banyak contoh dalam Al Quran dan dari Rasulullah yang mewajibkan umat untuk melakukan mutu mulai dari sistem, proses, hingga luarannya. Juga tentang standar keuangan, budaya organisasi, kepuasan karyawan dan pelanggan, dan seterusnya.
Karenanya, momen puasa ini adalah momen yang tepat bagi kaum beriman untuk melakukan introspeksi diri atas kualitas/mutu ibadahnya dan muamalahnya. Terutama bagi pemegang kebijakan untuk mengembangkan mutu-mutu Islami dalam industri yang akan menyelamatkan umat baik di dunia maupun akhirat.
(Dr. Kumara Adji Kusuma adalah dosen pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi