TOKYO-KEMPALAN: Agama Islam merupakan agama yang jarang dipeluk bahkan diketahui oleh masyarakat Jepang, sehingga menjadi minoritas di sana. Kebanyakan masyarakat di Jepang yang beragama Islam adalah imigran dari Pakistan, Indonesia, dan Iran, namun warga asli Jepang sendiri juga ada beberapa yang memeluk agama Islam.
Layaknya di belahan dunia lainnya, di Jepang Ramadhan juga menjadi bulan yang ditunggu oleh umat Muslim yang ada di sana. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah yang mana ganjaran dari ibadah yang dilakukan akan berlipat ganda di mana pun mereka berada termasuk di Jepang. Namun, tentu saja terdapat perbedaan di antara negara-negara lain ketika menjalankan puasa di bulan Ramadhan.
Puasa adalah kegiatan menahan hawa nafsu dari subuh hingga mahrib. Biasanya, orang Jepang mengenal puasa dengan nama danjiki, yakni latihan agama Buddha Jepang yang dilakukan oleh para bhiksu dengan menjauhi makan dan minum.
Melansir dari Halal Media Japan, di Jepang, meskipun bulan Ramadhan telah hadir, kegiatan sosial layaknya toko, restoran, bar, dan lainnya masih tetap dibuka bahkan tidak ada keringanan waktu dalam hal pekerjaan.
Di Jepang, kehidupan berjalan dengan sangat cepat. Bagi yang bekerja secara penuh, mereka biasanya mengalami siklus bekerja-bekerja-makan-bekerja-bekerja-pulang maksimal sekitar jam 8 atau 9 malam. Menjadi tantangan yang besar bagi para umat Muslim ketika menjalankan puasa dan meluangkan waktu untuk ibadah sunnah di tengah kesibukan tersebut.
Waktu berpuasa di Jepang cukup lama yaitu sekitar 16 jam dimulai pada subuh sekitar jam 3 pagi hingga maghrib jam 7 malam. Waktu yang cukup panjang ini membuat ujian dan cobaan bagi para muslim meningkat.
Namun ujian tersebut seperti terangkat ketika berbuka puasa. Hampir semua masjid di Jepang mengadakan buka puasa bersama gratis, dengan berbagai makanan dari berbagai negara, dihadiri juga oleh umat Islam dari berbagai negara. Di sana, kita bisa merasakan hangatnya interaksi dengan saudara-saudari muslim.
Agenda buka puasa dilanjutkan dengan sholat maghrib, sholat tarawih, dan ceramah.
Shalat tarawih begitu juga dengan shalat 5 waktu di masjid atau musholla tidak menggunakan loudspeaker dan diusahakan suaranya tidak keluar ruangan. Hal ini adalah bentuk toleransi agar lingkungan masyarakat Jepang tetap nyaman.
Menyambut bulan Ramadhan, umat Islam di Jepang akan berbagi kebahagiaan dengan sesama umat Islam. Biasanya umat Islam juga membentuk panitia Ramadhan dari komunitas Muslim di Jepang yang bertugas menyelenggarakan kegiatan selama Ramadhan, mulai dari diskusi Islam hingga penerbitan buku Islam.
Namun, pandemi merubah sedikit agenda-agenda di atas. Melansir dari Anadolu Agency, Pembacaan Al Quran dan ceramah dilaksanakan secara online. Masjid dan musholla tidak menyelenggarakan buka puasa bersama. Khusus untuk tarawih, para jamaah tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak. Hal ini dikarenakan jumlah infeksi COVID-19 di Jepang akhir-akhir ini meningkat tajam dan banyak pembatasan yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang. (Halal Media Japan/Anadolu Agency, Belva Dzaky Aulia)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi