Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 19:24 WIB
Surabaya
--°C

Ambiguity Makna Radikalisme

KEMPALAN: Beberapa tahun terakhir ini isu radikal menjadi seksi. Namun sayangnya isu radikal hanya menyasar pada kelompok tertentu ( kelompok Islam ) sementara pada kelompok lain yang melakukan aktifitas yang sama distigma sebagai kelompok intoleran.

Radikal bermakna sesuatu yang mengakar, ini berarti bahwa siapapun yang memahami sebuah persoalan dan meyakini sebagai sebuah dalil kebenaran maka berkonsekuensi pada bagaimana memperjuangkan apa yang diyakini sebagai sebuah kebenaran. Meski keyakinan “benar” masih perlu diperdebatkan.

Ditengah serbuan pengaruh budaya dan pemahaman asing yang dikuatirkan menggerus rasa berbangsa dan bernegara, bangsa ini sejatinya membutuhkan masyarakat yang secara radikal membela kepentingan bangsa. Bangsa ini butuh kaum muda yang secara radikal membela kepentingan bangsa dan mempertahankan kemerdekaan yang pernah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa pahlawan nasional.

Para pendiri bangsa dan para pahlawan adalah kaum masyarakat radikal yang memahami pentingnya arti kemerdekaan dan membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Akibatnya mereka dikejar dan distigma sebagai kelompok radikal yang layak dimusnahkan. Tujuannya hanya satu agar kepentingan penjajah menguasai Indonesia bisa langgeng.

Indonesia sejak dulu merupakan kawasan yang seksi dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan jumlah penduduk yang sangat besar. Secara geopolitik merupakan pasar strategis bagi siapapun bangsa bangsa dunia yang mempunyai kepentingan, baik itu kepentingan memperluas pasar maupun ideologi.

Meminjam istilah pertarungan dan benturan kebudayaan Huntington, Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kepentingan bangsa dan ideologi lain yang ingin melemahkan Indonesia dan tetap menjadikan Indonesia sebagai wilayah “Jajahannya “. Selama kurun tak kurang dari 40 tahunan Indonesia dalam berkiblat pada kepentingan kapitalisme barat, dan di sepuluh tahunan terakhir mulai bergeser pada pengaruh Timur ( China ). Secara ideologi tentu saja antara barat yang diwakili oleh kepentingan Eropa dan Amerika lebih banyak mengusung gagasan kebebasan dan kapitalisme, negara dan rakyat berbagi kekuasaan, sementara Timur ( baca : China ) akan lebih banyak menjadikan gagasan negara kuat dan komunisme.

Sejarah membuktikan bahwa dalam perjuangan melawan penjajahan, kelompok masyarakat penentang saat itu adalah kelompok kelompok Islam, sampai saat itu, Belanda sebagai penjajah mewaspadai kelompok masyarakat yang pernah menjalani perjalanan ke timur tengah, Arab Saudi. Bahkan untuk mewaspadai kelompok perlawanan yang berasal dari Islam, Belanda mengirimkan seorang ahli agama yang berorientasi pada kepentingan penjajahannya, Snouck Hougronye. Tujuannya hanya satu bagaimana melemahkan pemahaman agama mereka yang belajar dari Timur Tengah dengan pemahaman Islam yang dibawah penjajah untuk melanggengkan penjajahannya. Baik Snouck maupun tokoh tokoh agama dan pejuang yang mendapatkan pemahaman Islam dari Timur Tengah melakukan aktifitas yang sama sama radikal dan tak terhindarkan terjadi peperangan yang pada akhirnya menjadikan Indonesia merdeka.

Radikalisme perlawanan terhadap penjajah Belanda tak berhenti pada kelompok ulama dan intelektual yang pulang dari Timur Tengah, para kaum terpelajar dan intelektual yang belajar di Belanda juga mulai tumbuh kesadaran radikal untuk memerdekakan Indonesia dari cengkraman penjajahan. Sebut saja Soekarno, Hatta dan yang lain lain.

Gerakan gerakan perlawanan radikal untuk mengusir penjajah dilakukan oleh kelompok kelompok Islam dan Nasionalis yang mempunyai kesadaran mengakar pentingnya kemerdekaan. Perlawanan kaum Padri di Sumatera, pertempuran Diponegoro di Ambarawa, munculnya gerakan perlwanan oleh Muhammadiyah, lalu NU dan kemudian lahirlah kesadaran pemuda pemuda Indonesia untuk menegaskan tentang ke Indonesian dengan Sumpah Pemuda. Kesadaran radikal pentingnya untuk melawan penjajahan akhirnya menjadi milik bangsa Indonesia.

Bahkan Soekarno dan Hatta di tahun 1945 melakukan gerakan radikal memproklamasikan kemerdekaan Indonesia setelah dengan peristiwa Rengasdengklok yang tak kalah radikalnya “memaksa” Dwi tunggal Soekarno – Hatta memproklamirkam kemerdekaan Indonesia.

Makna radikalis yang pada awalnya berkonotasi membela kebenaran yang diyakini sejatinya sesuatu yang baik dan dibutuhkan oleh bangsa saat ini, saat ini telah bergeser menjadi sesuatu yang dimaknai menurut kepentingan, terlebih lagi yang berkepentingan untuk mempertahankan kepentingan Deni kemapanannya. Sehingga kelompok kelompok lain yang dianggap mengusik kemapanannya maka dicap sebagai keompok radikal, pada kelompok lain yang dianggap pada kepentingan dan ideologi yang sama maka makna radikal juga akan berbeda. Penyematan kata teroris pada perbuatan yang dianggap radikal hanya disematkan pada kelompok-kelompok yang dianggap berbeda seperti kelompok Islam, sedang pada perbuatan yang sama yang dilakukan oleh kelompok diluar Islam akan diangap sebagai kelompok non teroris dengan stigma penghalusan. Stigma radikalis menjadi bias bergantung pada siapa punya kepentingan apa dan membawa kepentingan siapa.

Nah pembiasan makna radikal oleh kelompok tertentu dan orang tertentu justru akan memantik sikap yang sama dari kelompok yang dikorbankan. Nah kelompok Islam yang selama ini menjadi sasaran stigma radikalis, bisa jadi dari kelompok Islam juga akan muncul stigma bahwa para penstigma radikalis terhadap Islam juga membawa kepentingan radikal kelompok kiri, liberal dan bahkan komunis. Sehingga sejatinya para penuduh radikal itu juga kelompok radikal lain yang membawa kepentingan diluar kelompok yang selama ini dituduh radikal.

Akankah selesai tuduhan radikal diselesaikan dengan cara radikal, tentu tidak dan bahkan akan melahirkan keradikalan baru. Ada baiknya para pemangku kekuasaan dan kebijakan membuka ruang dialog untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik daripada sibuk dengan tuduhan radikal kesana kemari yang juga tak jelas ukurannya. Contoh tak baik tuduhan radikal terhadap penceramah yang akan mengisi kegiatan kajian Ramadhan di Pelni justru melahirkan kegaduhan baru dan stigma baru bahwa kelompok radikal kiri sekularis melakukan tindakan radikal terhadap para penceramah yang justru berasal dari lembaga lembaga kredibel di negeri ini seperti Majelis Ulama Indonesia ( MUI ).

Apa yang bisa kita lakukan dalam mengikis ketidak konsistenan memaknai radikal yang dipertontonkan secara telanjang dengan cara tidak adil dan tidak baik ini ? Pendidikan adalah jalannya, pendidikan harus dimaknai sebagai sebuah penyadaran dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak benar menjadi benar, sehingga dari pendidikan itulah akan muncul kesadaran kuat memegang teguh prinsip yang dipahami secara konsisten, sehingga menjadi manusia yang berintegritas, teguh dalam memegang prinsip yang diyakini.

Sekolah adalah salah tempat yang bisa diharapkan , karena lembaga sekolah inilah seluruh perangkat membangun manusia yang teguh terhadap prinsip bisa dijalankan. Sekolah tentu harus dipahami sebagai ruang besar bukan hanya sekedar gedung, tapi seluruh ruang besar yang dipersiapkan untuk membentuk manusia berintegritas ( baca radikal dalam prinsip untuk kebenaran dan kebaikan ). Sekolah juga harus dipahami bukan hanya lembaga formal persekolahan, tetapi ruang diluar sekolah seperti rumah, pesantren dan tempat tempat lain yang mendadar pemahaman untuk berprinsip benar dan menebar kemanfaatan.

Dari sekolahlah negara bisa melakukan dialog persemaian ideologi, sehingga akan lahir manusia berintegritas dan radikal dalam mempertahankan kedaulatan negara dan membela prinsip prinsip bernegara yang tertuang dalam sila sila Pancasila.

Sudah saatnya ada kerelaan untuk duduk bersama antara kelompok yang selama berada pada posisi berhadapan berdialog untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.

Semoga saja !

Surabaya, 14 April 2021
M. Isa Ansori

Dosen dan Pemerhati Pendidikan dan Kebijakan Publik, Tinggal di Surabaya

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.