KEMPALAN: Mudik bisa dimaknai sebagai akronim menuju udik. Udik adalah kata lain dari hulu, asal dari sesuatu. sehingga bisa dipahami kegiatan mudik adalah kegiatan untuk kembali ke asal muasal. Dengan kata lain mudik adalah sebuah kegiatan menjadikan diri kembali kejati diri asal. Dalam perkembangannya kemudian menjdi bermakna mereka yang sudah lama meninggalkan kampung halaman dan melakukan perjalanan kembali menuju kampung halaman.
Secara substansi maka kegiatan mudik bisa dipahami sebagai sebuah aktifitas menggerakkan diri untuk kembali kejati diri asal. Lalu jatidiri asal kita itu apa ? Tentu kita ini pernah menjadi satu keluarga bersama orang tua bapak dan ibu. Ada saudara dan kerabat di kampung halaman asal. Dikampung halaman itulah kita berinteraksi dengan orang tua, saudara, sahabat dan tetangga serta kawan sepermainan. Ada suasana keakraban dan kekerabatan massa lalu yang kita tinggalkan.
Sehingga didalam aktifitas mudik tidak bisa dipahami sebagai aktifitas yang hanya sekedar pulang kampung yang tidak bermakna apa apa kecuali hanya kembali kekampung asal dan kalau mungkin bisa bertemu dengan orang tua, saudara dan kerabat setelah itu selesai. Mudik bermakna lebih dari itu. Menjadikan diri kembali ke asal, mengenal asal mula kita, ada nilai spiritual yang terkandung didalamnya, keadaran diri untuk selalu mengingat asal usul kita.
Mudik yang hanya dipahami dalam konteks materialisme, maka akan bergerak arti dan maknanya, sehingg menjadi benar pernyataan meski tidak mudik, maka kita bisa menggantikan suasananya dengan berkirim makanan atau meski tidak bertemu secara langsung, mudik bisa diganti dengan cara virtual. Sehingga mudik dalam dimensi materialisme merupakan penghambaan kepada wujud kegiatan ( kebendaan ) tak perduli terhadap substansi yang terkandung.
Tak heran kemudian dalam kegiatan mudik bagi sebagian masyarakat mempunyai arti penting harus dilakukan meski menghadapi kendala yang tak ringan. Misalkan yang dilakukan oleh sebuah keluarga di Jakarta untuk kembali ke kampung halamannya di Jawa Barat. Meski pemerintah melakukan penghadangan dan penyekatan, bahkan konon dalam menghalau pemudik, dikerahkan aparat dengan persenjataan lengkap seperti menghadapi teroris, tapi bagi keluarga tersebut halangan yang ada dianggap sebagai ujian, dan untuk mengatasinya, keluarga itu mudik dengan berjalan kaki. Tentu masih banyak masyarakat kita sebagaimana keluarga yang berjalan kaki tersebut.
Dalam tradisi bangsa kita yang menjunjung tinggi gotong royong dan penghormatan kepada orang tua, tidak bisa kemudian penanganan mudik didekati dengan cara cara keamanan dan materialisme. Masyarakat kita sudah lelah dengan cara cara pendekatan kemanan dan materialisme yang dipaksakan. Seolah kebenaran tafsir hanya milik pemerintah sementara masyarakat yang pilihannya tidak sama akan dianggap salah.
Sebagai sebuah gerakan spritual, tidak bisa mudik kemudian didekati dengan ancaman dan pendekatan keamanan, pemerintah akan lelah dan kewalahan, dan itu sudah terbukti. Aparat menjdi kendor di jam jam tertentu dalam menjaga perbatasan larangan mudik. Hal ini wajar, karena jumlah aparat tidak sebanding dengan jumlah pemudik. Arus mudik seperti air bah yang dihadang oleh jaring pengaman aparat yang bolong bolong. Penjagaan aparat didaerah penyekatan pemudik terlihat ketat, tapi sejatinya mengalami kedodoran, seperti daun janda bolong yang kelihatan indah dengan bolong bolongnya.
Pendekatan kepada pemudik harus diubah dengan cara cara sebagaimana masyarakat memahami peristiwa mudik. Pendekatan pencegahan mudik harus dilakukan dengan gerakan spritual. Kita pernah punya sejarah yang dilakukan oleh penjajah Belanda dalam menaklukkan perlawanan kaum revolusioner. Belanda mengirimkan Snouck Hugronje. Snouck mempeljari tradisi keislaman masyarakat dan setelah itu melemahkan pemahaman masyarakat dengan dalil spritual yang dia pahami. Dan terbukti Belanda mampu memadamkan perlawanan kaum revolusioner dengan cara melemahkan pemehaman masyarakat waktu itu dengan spritulias yang sama tapi bermakna sebagaimana kepentingan penjajah.
Pemerintah tentu saat ini menghadapi persoalan dilematis, membiarkan mudik, maka pemerintah akan berada dalam ancaman masifnya penyebaran covid 19, bila dilarang tentu larangan tidak akan bisa berlangsung efektif, karena masyarakat akan membandingkan sikap inkonsisten pemerintah dalam menangani penyebaran covid 19. Nah beruntunglah kemudian pemerintah mempunyai Yusuf Mansyur yang mencoba berdiri dalam posisi pemerintah yang melarang dalam mencegah penyebaran covid melalui aktifitas mudik. YM berfatwa Bahwa tidak mudik itu sama dengan mendapatkan malam Lailatul Qadar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa tidak mudik itu sama dengan berjihad.
Nah pada akhirnya sebagai sebuah gerakan Spiritualitas, mudik harus dipahami oleh siapapun tidak sekedar aktifitas pulang kampung dan menghabiskan uang dikampung, tapi didalamnya ada sebuah semangat kembali kejati diri asal, karena berasal dari kampung asal bersama orang tua, bersungkem dan memeluk orang tua secara langsung adalah sebuah keharusan, tidak bisa digantikan oleh tehnologi maupun makanan. Pemerintah perlu melakukan perubahan pendekatan yang lebih membudaya dan menjadi bagian dari budaya masyarakat. Nampaknya pemerintah dalam menangani mudik nampaknya juga perlu mudik kepada pemahaman Islam dan kebudayaan masyarakat Indonesia yang bergotong royong.
Selamat merayakan idul Fitri dikampung halaman bagi para pemudik, semoga Allah selalu melindungi saudara saudara pemudik selama perjalanan menuju kampung halaman.
Mohon maaf lahir batin.
Surabaya, 12 Mei 2021
M. Isa Ansori
Pengajar di STT Malang , Pemerhati Sosial dan Anggota Dewan Pendidikan Jatim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi