KEMPALAN: Dua kata yang sejatinya beriringan tapi saat ini banyak dipertentangkan. Kritik tentang sistim persekolahan sejatinya bukan hal baru, sebut saja Ivan illich dengan gagasan deschooling society yang mempertanyakan tentang sistim belajar persekolahan. Menurutnya sistim belajar persekolahan telah mengasingkan masyarakat dari dunia nyata. Sekolah hanya mengajarkan hal hal yang tidak menjawab persoalan persoalan yang menjadi kebutuhan riil dimasyarakat.
Ivan Illich berpendapat bahwa suatu sistem pendidikan yang baik harus mempunyai tiga tujuan, yaitu (1) memberi kesempatan semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber belajar pada setiap saat, (2) memungkinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dapat dengan mudah
melakukannya, demikian pula bagi yang ingin mendapatkannya, (3) menjamin tersedianya
masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan (lllich, 1982: 99-100).
Pandangan illich ini banyak dipengaruhi oleh kegelisahannya melihat praktik pelaksanaan sekolah di Amerika Latin yang cenderung elitis dan membentuk kasta – kasta. Baginya, Pendidikan itu harus bisa diakses oleh semua.
Jauh sebelum illich, Ki Hajar Dewantoro dan KH Ahmad Dahlan sudah mengingatkan bahwa pendidikan harus mendekatkan diri kepada persoalan masyarakat dan harus dilakukan dengan senang hati disesuaikan dengan proses tumbuh kembang. Gagasan taman belajar dan hidup hiduplah Muhammadiyah jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah menyiratkan sebuah pesan kuat bahwa pendidikan harus bermanfaat untuk menyelesaikan persoalan yang ada disekitar lingkungan peserta didik dan kenyataan yang ada. Dari pendidikan itulah sekolah sekolah mampu membangkitkan apa yang disebut kesadaran sebagai manusia merdeka dan bermartabat, sehingga terjadi perlawanan terhadap penjajah yang merampas hak dan martabat sebagai manusia.
Lalu apa masalahnya dengan sekolah?
Sekolah sebagai sebuah tempat belajar mengalami reduksi peran. Sekolah menjadi ruang sempit melayani industri dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri. Sekolah menjadi pabrik pencipta robot robot industri. Apalagi kebijakan kurikulum yang melayani industri dengan link and match nya. Wah hasil pendidikan menjadi kering hanya mempersoalkan angka angka pengetahuan melupakan aspek moral dan perilaku. Ukuran keberhasilan ditentukan dengan ketuntasan yang distandar melalui kriteria ketuntasan minimal. Mereka yang tidak memenuhi standar kriteria ketuntasan dianggap gagal dan harus diulang, padahal kita semua mengakui bahwa setiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda dan setiap kemampuan itu menjadi potensi dasar untuk suksesnya.
Pendidikan direduksi dengan makna sekolah, sehingga mereka yang belajar tapi tidak disebuah lembaga sekolah dianggap terbelakang dan tidak berpendidikan. Persepsi wajib belajar 12 tahun sebagai mereka yang bersekolah menambah semakin ruwetnya makna pendidikan kita.
Haruskah kemudian sekolah dibubarkan?
Ibarat membasmi tikus di sawah maka seharusnya yang dibasmi adalah tikusnya, bukan sawahnya yang dihancurkan. Kalau sawahnya yang dihancurkan, tikusnya akan tetap ada dan menyebar kemana mana. Sistim persekolahan kita ini ibarat tikus dan sawah. Sekolah adalah sawahnya, sedang tikusnya adalah kebijakan yang mereduksi makna pendidikan dan sekolah. Didalam kebijakan itu ada pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan, termasuk didalamnya kita sebagi orang tua dan guru.
Mengembalikan pendidikan yang benar dan makna sekolah yang memanusiakan ada baiknya dimulai dari membuat isntrumen kebijakan pendidikan yang memanusiakan, kebijakan kurikulum adalah ruh nya. Gagasan merdeka belajar sejatinya merupakan gagasan yang mengakomodir kritik illich dan makna sekolah yang dibangun oleh Ki Hajar Dewantara dan KH Ahmad Dahlan. Namun sayangnya gagasan itu ternyata tidak terlepas maksud terselubung pendidikan yang nir nilai Pancasila, pendidikan kita diarahkan pada model belajar liberal mengecilkan arti sekolah dan guru.
Maka sudah seharusnya memperbaiki pendidikan kita kejalan yang benar sebagaimana pesan Al Qur’an bahwa kalian ini adalah manusia yang sempurna dan sebaik baik ciptaan, syaratnya hanya satu bermanfaatlah bagi kehidupan dan kemanusiaan dengan jalan mampu menanamkan nilai kebenaran dan kemampuan melawan ketidakbenaran termasuk ketidakjujuran dan ketidak bertanggung jawaban.
Disinilah makna home schooling menjadi sesuatu yang penting untuk mewarnai model pendidikan sekolah kita. Kemampuan merancang kurikulum berdasar kebutuhan peserta didik dan tentu guru yang berdedikasi dan orang tua yang peduli menjadi sebuah keniscayaan.
Mari perbaiki sekolah kita dengan kerja bersama merombak nilai nilai pendidikan yang memanusiakan manusia, memberi kebebasan kepada setiap anak dan orang tua merancang capain pendidikannya, dibantu oleh guru yang berdedikasi dan ditata dalam sistim pendidikan sekolah yang bertanggung jawab…. Insya Allah pendidikan kita melalui sekolah akan melahirkan manusia manusia Indonesia yang bertanggung jawab.
Surabaya, 6 Maret 2021
M. Isa Ansori, Pengamat Pendidikan
Sebuah renungan ketika tubuh ini diistirahatkan selama masa isolasi

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi